LDII Jatim Perkuat Strategi Pembinaan Berjenjang Guna Cetak Generasi Unggul dan Berkarakter

LDII Jatim Perkuat Strategi Pembinaan Berjenjang Guna Cetak Generasi Unggul dan Berkarakter

Ketua DPW LDII Jawa Timur, Moch. Amrodji Konawi, menegaskan bahwa membangun regenerasi yang tangguh tidak dapat dilakukan melalui proses instan. Komitmen ini diwujudkan melalui implementasi sistem pembinaan berjenjang yang menyasar seluruh kelompok usia, mulai dari anak usia dini hingga lanjut usia. Langkah strategis ini bertujuan menjaga kesinambungan transfer ilmu, nilai-nilai spiritual, serta tongkat estafet kepemimpinan antargenerasi agar tidak terputus di tengah jalan.

Pernyataan tersebut disampaikan Amrodji saat menghadiri perhelatan akbar Perkemahan Akhir Tahun Ajaran Cinta Alam Indonesia (Permata CAI) ke-47 yang berlangsung di Kosambiwojo, Wonosalam, Jombang, pada Senin (29/6/2026). Momentum bergengsi yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Gadingmangu ini semakin istimewa dengan kehadiran Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, serta jajaran sesepuh pondok pesantren yang memberikan dukungan penuh terhadap visi pembinaan tersebut.

Fase Krusial Pembinaan: Dari Cabe Rawit hingga Manula

Dalam membedah struktur kaderisasi organisasi, Amrodji menjelaskan bahwa setiap fase usia memiliki pendekatan yang spesifik. Intervensi pendidikan dilakukan secara bertahap untuk memastikan setiap individu tumbuh sesuai dengan kematangan psikologis dan spiritualnya.

“Pembinaan dilakukan secara bertahap sesuai fase perkembangan peserta. Tahapan tersebut dimulai dari kelompok usia anak-anak (cabe rawit), praremaja, remaja, usia nikah, dewasa, hingga manula,” ungkap Ketua DPW LDII Jawa Timur, Moch. Amrodji Konawi.

Menurutnya, kesinambungan adalah kunci utama. Generasi senior memikul tanggung jawab besar untuk mentransformasikan akumulasi pengalaman dan pemahaman mendalam mereka kepada generasi berikutnya. Tanpa adanya transfer pengetahuan yang sistematis, proses estafet pembinaan berisiko mengalami stagnasi yang merugikan organisasi dan masyarakat luas.

Membangun Karakter di Masa Remaja

Salah satu sorotan utama dalam sistem ini adalah fase remaja. Amrodji menilai periode ini sebagai masa transisi yang paling menentukan dalam pembentukan kerangka berpikir dan jiwa kepemimpinan seseorang. Oleh karena itu, LDII tidak membatasi pembinaan hanya pada lingkup internal masjid masing-masing.

“Fase pembinaan remaja menjadi salah satu tahapan yang paling menentukan karena pada masa itu mulai terbentuk karakter, pola pikir, dan jiwa kepemimpinan. Oleh sebab itu, pembinaan tidak hanya dilakukan di lingkungan masjid masing-masing, tetapi juga melalui kolaborasi antarpembina dan antarmasjid dalam satu wilayah. Pola tersebut diharapkan dapat memperluas interaksi sekaligus memperkaya pengalaman generasi muda,” jelas Amrodji lebih lanjut.

Metode kolaboratif ini sengaja dirancang agar pemuda LDII memiliki wawasan yang inklusif dan mampu beradaptasi dengan berbagai dinamika sosial, sehingga mereka tidak hanya cakap secara teoretis tetapi juga tangguh dalam praktik lapangan.

Tiga Pilar Utama dan 29 Karakter Luhur

Secara substansial, LDII menitikberatkan pembinaan pada tiga domain utama yang menjadi fondasi keberhasilan hidup: kedalaman ilmu agama, penguasaan ilmu keduniaan (profesionalisme), dan kemandirian karakter. Amrodji menggarisbawahi bahwa ketiga aspek ini harus berjalan beriringan secara seimbang.

“Ilmu agama menjadi fondasi dalam menjalankan kehidupan beragama, ilmu keduniaan membekali generasi muda agar mandiri, sedangkan karakter menjadi modal dalam berinteraksi dan memimpin di tengah masyarakat,” tegasnya.

Lebih detail, implementasi karakter di lingkungan LDII diterjemahkan melalui penanaman 29 karakter luhur. Nilai-nilai ini disuntikkan secara metodis sesuai dengan jenjang usia peserta didik. Harapannya, sistem ini mampu melahirkan individu yang memiliki pemahaman agama yang kuat (alim-faqih), kompetensi di bidangnya, serta integritas moral yang kokoh untuk berkontribusi nyata bagi bangsa.

Apresiasi untuk Permata CAI dan Pondok Pesantren Gadingmangu

Amrodji juga memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pondok Pesantren Gadingmangu yang tetap konsisten menyelenggarakan Permata CAI sebagai kawah candradimuka bagi generasi muda. Kegiatan ini dianggap sangat selaras dengan visi kaderisasi nasional LDII karena memadukan aspek pengetahuan dengan pengembangan kepemimpinan dan semangat kebangsaan.

“Kami mengapresiasi Pondok Pesantren Gadingmangu, Jombang yang secara konsisten menyelenggarakan Permata CAI sebagai wadah pembinaan generasi muda. Kegiatan tersebut selaras dengan pola kaderisasi yang diterapkan LDII karena tidak hanya membekali peserta dengan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, kepemimpinan, kemandirian, dan semangat kebangsaan,” ujar Amrodji.

Perhelatan yang diikuti oleh sekitar seribu peserta dari berbagai daerah ini diisi dengan materi komprehensif, mencakup wawasan kebangsaan, penguatan nilai karakter, kerja sama tim (team building), hingga kedisiplinan. Selain itu, aktivitas fisik yang menumbuhkan empati sosial dan kecintaan terhadap lingkungan hidup menjadi bagian tak terpisahkan dari kurikulum perkemahan tersebut.

GLOSSARY: Istilah Penting dalam Artikel

  • Permata CAI: Perkemahan Akhir Tahun Ajaran Cinta Alam Indonesia, agenda tahunan pembinaan pemuda yang fokus pada karakter dan wawasan kebangsaan.
  • Cabe Rawit: Istilah akrab di lingkungan LDII untuk merujuk pada kelompok usia anak-anak atau sekolah dasar.
  • 29 Karakter Luhur: Kumpulan nilai-nilai moral dan etika yang menjadi kurikulum utama pengembangan karakter dalam pembinaan LDII.
  • Alim-Faqih: Target pembinaan agar setiap individu memiliki pemahaman agama yang mendalam dan benar secara literasi maupun praktik.
  • Estafet Kepemimpinan: Proses penyerahan tanggung jawab organisasi dari generasi tua ke generasi muda secara terencana.

Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.