LDII Banyuasin Gembleng Karakter Generasi Muda Lewat Perkemahan CAI, Fokus Kemandirian Tanpa Gadget

LDII Banyuasin Gembleng Karakter Generasi Muda Lewat Perkemahan CAI, Fokus Kemandirian Tanpa Gadget
foto: ilustrasi
  • BANYUASIN – Dalam upaya konkret mencetak sumber daya manusia yang unggul secara intelektual maupun spiritual, DPD LDII Kabupaten Banyuasin menggelar Perkemahan Akhir Tahun (Permata) Cinta Alam Indonesia (CAI) Tahun 2025. Perhelatan yang dipusatkan di Lapangan Karang Sari, Banyuasin, Sumatera Selatan ini berlangsung intensif selama empat hari, mulai dari tanggal 9 hingga 12 Juli 2026, dengan melibatkan sedikitnya 300 peserta remaja dan pemuda dari berbagai penjuru wilayah.

    Visi Indonesia Emas 2045 dan Karakter Luhur

    Kegiatan ini bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan sebuah instrumen strategis untuk mempersiapkan tonggak kepemimpinan bangsa. Dengan mengusung tema besar "Pembinaan Generasi Profesional Religius Menuju Indonesia Emas 2045", LDII Banyuasin menitikberatkan pada keseimbangan antara kompetensi duniawi dan kedalaman nilai-nilai agama.

    Ketua Panitia CAI LDII Banyuasin, Mochammad Zaka, menegaskan bahwa tantangan zaman yang semakin kompleks menuntut generasi muda memiliki fondasi moral yang kokoh. Menurutnya, aspek akhlak harus berjalan beriringan dengan profesionalisme agar tercipta profil pemuda yang tangguh.

    “Mengambil tema ‘Pembinaan Generasi Profesional Religius Menuju Indonesia Emas 2045’, kami berkomitmen mencetak generasi muda yang berakhlak mulia, profesional dan tangguh,” ujar Mochammad Zaka.

    Detoks Digital: Membangun Kedekatan Tanpa Layar

    Salah satu aturan unik yang diterapkan dalam perkemahan ini adalah larangan penggunaan perangkat elektronik atau gadget bagi seluruh peserta. Keputusan ini diambil bukan tanpa alasan yang kuat. Di tengah gempuran distraksi media sosial, panitia ingin mengembalikan esensi interaksi sosial secara nyata dan meningkatkan fokus peserta dalam menyerap materi pembinaan.

    Zaka menjelaskan bahwa tanpa adanya gangguan dari layar ponsel, para peserta didorong untuk lebih banyak berdiskusi, bekerja sama dalam tim, dan merasakan langsung atmosfer kebersamaan di alam terbuka. Hal ini dianggap vital untuk mengasah empati dan kepedulian sosial yang sering tergerus oleh budaya digital.

    “Agar peserta fokus mengikuti pembinaan, mempererat kebersamaan, dan memperkuat interaksi antarpeserta,” imbuh Zaka menjelaskan urgensi kebijakan tanpa gadget tersebut.

    Implementasi 29 Karakter Luhur dalam Kehidupan Nyata

    Perkemahan CAI diposisikan sebagai laboratorium karakter. LDII menanamkan konsep 29 karakter luhur—sebuah kerangka nilai yang mencakup kejujuran, amanah, kerja keras, hingga rukun dan kompak—kepada setiap peserta melalui berbagai simulasi dan sesi kajian. Zaka mengharapkan bahwa apa yang didapatkan selama empat hari di Karang Sari dapat menjadi modal dasar yang diaplikasikan secara berkelanjutan di lingkungan sosial mereka masing-masing.

    “CAI bukan sekadar ajang silaturahim, tetapi menjadi sarana membentuk generasi yang profesional religius, mandiri, disiplin, dan mampu menerapkan 29 karakter luhur. Peserta kami dorong mengikuti rangkaian kegiatan dengan sungguh-sungguh. Sehingga, ilmu dan pengalaman dapat diterapkan di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat,” pungkas Zaka dengan nada optimis.

    Apresiasi dari Pemerintah Setempat

    Langkah LDII Banyuasin dalam membina generasi muda ini mendapat sambutan hangat dari jajaran pemerintah setempat. Nuryadi, yang menjabat sebagai Kasubbag Perencanaan dan Keuangan Kecamatan Karang Agung Ilir, memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif yang dinilainya mampu membentuk benteng pertahanan moral bagi pemuda di wilayahnya.

    Menurut Nuryadi, kegiatan luar ruang seperti perkemahan memiliki efektivitas yang lebih tinggi dalam menanamkan disiplin dibandingkan hanya sekadar teori di dalam kelas. Ia melihat adanya sinergi yang positif antara program pembinaan organisasi dengan visi pemerintah dalam membangun karakter bangsa.

    “Kami mengapresiasi, kegiatan ini mampu meningkatkan wawasan, memperkuat karakter, dan membiasakan peserta dengan sikap disiplin dan tanggung jawab,” tegas Nuryadi.

    Di akhir penyampaiannya, Nuryadi juga memberikan pesan motivasi bagi ratusan peserta agar tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Ia berharap para pemuda tersebut mampu bertransformasi menjadi agen perubahan yang siap menghadapi persaingan global namun tetap memegang teguh identitas religiusitasnya.

    “Amalkan ilmu yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. Jadilah generasi muda yang religius, berkarakter dan siap menghadapi tantangan di masa depan,” tutup Nuryadi di hadapan para peserta perkemahan.

    Glossary CAI LDII Banyuasin

    • Permata CAI: Singkatan dari Perkemahan Akhir Tahun Cinta Alam Indonesia, sebuah program tahunan LDII untuk pembinaan pemuda.
    • Profesional Religius: Konsep pengembangan SDM yang unggul dalam keahlian (profesional) sekaligus memiliki ketaatan beragama yang kuat (religius).
    • 29 Karakter Luhur: Kumpulan nilai moral yang menjadi standar perilaku dalam pembinaan generasi muda LDII, termasuk di dalamnya rukun, kompak, dan kerja sama yang baik.
    • Indonesia Emas 2045: Visi besar pemerintah Indonesia untuk menjadi negara maju dan mandiri tepat pada usia satu abad kemerdekaannya.
  • Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.