Ketua LDII Kalbar Susanto: Pengurus Harus Adaptif dan Responsif Terhadap Perubahan Global

Ketua LDII Kalbar Susanto: Pengurus Harus Adaptif dan Responsif Terhadap Perubahan Global
foto: ilustrasi
  • PONTIANAK – Dinamika perubahan global yang kian cepat menuntut organisasi kemasyarakatan untuk terus berbenah. Ketua DPW Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kalimantan Barat, Susanto, secara tegas menginstruksikan seluruh jajaran pengurus di berbagai tingkatan untuk meningkatkan kepekaan terhadap perubahan lingkungan strategis. Langkah ini dipandang krusial agar kehadiran LDII tidak sekadar menjadi simbol, melainkan mampu memberikan kemanfaatan yang nyata bagi masyarakat luas di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.

    Seruan tersebut disampaikan Susanto dalam agenda Konsolidasi Organisasi yang dihadiri oleh ratusan pengurus LDII se-Kalimantan Barat. Acara yang berlangsung khidmat ini dipusatkan di Aula Pesantren Al Muqorrobun, Pontianak, pada Minggu (26/7/2026). Dalam pidatonya, Susanto menekankan bahwa kemampuan membaca situasi adalah kompetensi wajib bagi para penggerak organisasi di era modern.

    Kualitas Manusia Sebagai Prioritas Kontribusi

    Sebagai organisasi yang memiliki visi kontributif, LDII menyadari bahwa menjalankan program kerja rutin saja tidaklah cukup. Susanto mengingatkan bahwa efektivitas sebuah organisasi diukur dari sejauh mana mereka mampu merespons kebutuhan mendesak di lingkungannya. Salah satu poin yang menjadi sorotan utama adalah rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di wilayah Kalimantan Barat dibandingkan provinsi lainnya.

    “Pengurus LDII tidak cukup hanya menjalankan program rutin. Mereka harus memiliki kemampuan membaca situasi, beradaptasi terhadap perubahan, serta responsif terhadap kebutuhan masyarakat tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur organisasi,” ujar Susanto.

    Kesenjangan IPM di Kalimantan Barat ini menjadi pemantik bagi LDII untuk mengalokasikan sumber daya organisasi secara lebih masif pada bidang-bidang strategis. Sektor pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat menjadi pilar utama yang harus diperkuat oleh para pengurus di lapangan.

    “IPM Kalbar masih tertinggal, maka seluruh kekuatan yang dimiliki LDII sudah seharusnya mendukung dan membantu pemerintah melalui bidang pendidikan, kesehatan maupun kesejahteraan,” jelas Susanto.

    Dakwah Bil Hal dan Kepercayaan Publik

    Keberhasilan LDII dalam mempertahankan eksistensinya tidak lepas dari metode dakwah yang inklusif. Konsep dakwah bil hal atau dakwah melalui perbuatan nyata telah menjadi kunci utama dalam memenangkan kepercayaan publik. Susanto memaparkan bahwa pertumbuhan LDII secara kuantitas maupun kualitas di Kalimantan Barat berbanding lurus dengan manfaat yang dirasakan masyarakat.

    “Alhamdulillah program dakwah bil hal LDII di Kalbar semakin dirasakan manfaatnya sehingga kepercayaan terhadap LDII pun kian bertambah. Dampaknya kualitas dan kuantitas LDII ikut tumbuh juga,” imbuh Susanto.

    Kepercayaan ini, menurutnya, harus dijaga dengan integritas tinggi dan transparansi dalam berorganisasi. Semakin dipercaya oleh masyarakat, maka tanggung jawab sosial yang dipikul oleh pengurus pun akan semakin besar.

    Strategi Adaptasi Tanpa Mengikis Prinsip

    Meskipun mendorong perubahan yang radikal dalam hal metode kerja, Susanto memberikan garis pembatas yang jelas mengenai identitas organisasi. Adaptasi yang dimaksud adalah penyesuaian strategi komunikasi, penggunaan teknologi, dan model gerakan sosial yang lebih modern, namun tetap berpijak pada nilai-nilai dasar Islam yang menjadi jati diri LDII.

    Fleksibilitas dalam strategi namun kaku dalam prinsip menjadi rumus utama. Kemampuan responsif harus diwujudkan melalui kecepatan dalam menghadirkan solusi atas problematika sosial yang ada di sekitar mereka. Kolaborasi lintas sektor, baik dengan instansi pemerintah maupun organisasi kemasyarakatan lainnya, menjadi sebuah keharusan.

    “Adaptif tidak merubah prinsip organisasi melainkan lebih diarahkan kepada solusi problematika yang terjadi. Termasuk sikap responsif, diwujudkan dengan kecepatan dalam memberikan solusi, memperkuat komunikasi, dan membangun kolaborasi dengan berbagai pihak,” tegas Susanto.

    Dengan semangat konsolidasi ini, diharapkan LDII Kalimantan Barat mampu bertransformasi menjadi organisasi yang lebih lincah (agile) dan tetap menjadi mitra strategis pemerintah dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat di Bumi Khatulistiwa.

    Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.