KEDIRI – Di tengah gempuran budaya digital dan dominasi bahasa informal yang kian mengaburkan sekat etika berkomunikasi, Pemuda LDII Kota Kediri mengambil langkah progresif untuk membentengi identitas budaya generasi muda. Ratusan generasi penerus (generus) berkumpul dalam sebuah agenda pengajian dan seminar khusus yang menempatkan pelestarian bahasa Jawa krama sebagai pondasi utama pembentukan karakter.
Acara yang berlangsung khidmat di Pondok Kresek, Kota Kediri, Jawa Timur, pada Minggu (21/6/2026) ini, bukan sekadar pertemuan rutin. Dengan mengusung tema besar ‘Ngrumat Basa, Nguri-uri Tata Krama’, para pemuda ini berupaya menjawab keresahan sosial mengenai semakin lunturnya kemampuan berbahasa halus di kalangan Gen Z dan milenial. Visualisasi komitmen ini terlihat jelas dari busana batik yang dikenakan para peserta, menciptakan atmosfer yang kental dengan nuansa luhur budaya Jawa.
Bahasa Sebagai Jembatan Penghormatan
Bahasa bukan sekadar alat komunikasi mekanis, melainkan cerminan dari kedalaman budi pekerti seseorang. Pandangan ini ditegaskan oleh Ust. Zainul Arifin, sang pemandu materi, yang menyoroti betapa krusialnya posisi bahasa Jawa krama dalam menjaga hubungan antar-generasi. Menurutnya, penggunaan bahasa adalah sarana paling konkret dalam menanamkan nilai penghormatan kepada orang lain, terutama kepada mereka yang lebih sepuh.
"Generasi muda diharapkan mampu menggunakan bahasa Jawa dengan baik, terutama saat berbicara dengan orang yang lebih tua," ujar Zainul di hadapan para peserta.
Zainul memaparkan secara mendalam mengenai struktur unggah-ungguh basa yang menjadi keunikan sosiolinguistik masyarakat Jawa. Pembagian antara basa ngoko untuk teman sebaya dan basa krama untuk situasi formal atau kepada orang yang lebih tua, bukan bermaksud menciptakan kasta, melainkan untuk menjaga harmoni dan etika sosial.
Solusi di Tengah Transisi Budaya
Menyadari tantangan zaman yang semakin kompleks, di mana paparan bahasa asing dan bahasa gaul jauh lebih masif, Zainul memberikan perspektif yang realistis namun tetap memegang teguh prinsip kesopanan. Ia mengingatkan bahwa jika seorang pemuda merasa belum fasih menggunakan krama yang rumit, menjaga kesantunan tetap menjadi kewajiban yang tidak bisa ditawar.
"Apabila belum mampu menggunakan bahasa Jawa dengan baik dan benar, lebih baik menggunakan bahasa Indonesia yang sopan daripada menggunakan bahasa Jawa secara kurang tepat," katanya memberikan solusi praktis bagi para generus yang sedang dalam tahap belajar.
Lebih jauh lagi, pengajian ini membedah berbagai etika sosial yang menjadi ciri khas masyarakat Jawa. Konsep andhap asor atau rendah hati menjadi poin yang sangat ditekankan. Bagaimana seorang pemuda tidak memotong pembicaraan orang tua dan menggunakan diksi yang santun adalah bentuk implementasi nyata dari ajaran agama yang dibalut dalam kearifan lokal.
Membangun Hubungan Sosial yang Harmonis
Kaitan antara bahasa dan tata krama bersifat simbiosis mutualisme; keduanya tidak dapat dipisahkan dalam membangun relasi sosial yang sehat. Zainul meyakini bahwa dengan menguasai unggah-ungguh, generasi muda LDII tidak hanya akan dikenal sebagai pribadi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga beradab secara sosial.
Harapan besar pun digantungkan pada pundak para peserta seminar. Pelestarian ini tidak boleh berhenti di ruang pertemuan Pondok Kresek saja. Sebaliknya, nilai-nilai yang telah dibahas harus dibawa pulang dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, agar identitas budaya Jawa tetap tegak berdiri meski diterpa badai perubahan zaman yang serba cepat.
📜 GLOSSARY BUDAYA
- Ngrumat Basa: Merawat atau memelihara bahasa agar tetap lestari dan tidak punah.
- Nguri-uri: Upaya aktif untuk menjaga, melestarikan, dan mengembangkan tradisi luhur.
- Basa Ngoko: Tingkatan bahasa Jawa yang digunakan untuk berbicara dengan teman sebaya atau yang lebih muda.
- Basa Krama: Tingkatan bahasa Jawa halus yang digunakan sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang lebih tua atau dihormati.
- Andhap Asor: Sikap rendah hati dan tidak sombong dalam bertingkah laku maupun berucap.
- Generus: Singkatan dari Generasi Penerus, sebutan bagi pemuda-pemudi di lingkungan LDII.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.