YOGYAKARTA – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Daerah Istimewa Yogyakarta resmi menetapkan arah strategis organisasi untuk lima tahun ke depan. Melalui Musyawarah Wilayah (Muswil) VIII yang digelar di Gedung Serbaguna Mantrijeron, organisasi dakwah ini memantapkan komitmennya untuk mempercepat proses regenerasi kepemimpinan serta memperluas spektrum kolaborasi dengan jajaran pemerintah daerah.
Ketua Umum DPP LDII, Dody Taufiq Wijaya, secara resmi menutup rangkaian agenda besar tersebut pada Minggu (26/7/2026). Momentum ini menandai dimulainya masa bakti 2026–2031, di mana estafet kepemimpinan kembali dipercayakan kepada Atus Syahbudin sebagai Ketua DPW LDII DIY, didampingi oleh Gatot Wardoyo yang mengemban amanah sebagai Sekretaris. Keputusan ini lahir dari Sidang Paripurna yang berlangsung khidmat sebagai puncak dari proses demokrasi internal organisasi.
Fokus Strategis: Menggandeng Pemerintah untuk Maslahat Umat
Langkah awal yang akan ditempuh oleh kepengurusan baru ini adalah optimalisasi kerja sama dengan berbagai instansi pemerintah. Atus Syahbudin memandang bahwa sinergi antara ormas keagamaan dan pemerintah merupakan kunci utama dalam memaksimalkan potensi pemberdayaan masyarakat di tingkat akar rumput. Menurutnya, pemerintah memiliki infrastruktur dan sumber daya yang luas, namun membutuhkan mitra strategis di lapangan untuk menyalurkan kemanfaatan tersebut secara efektif.
“Pemerintah punya resource, dana, sumber daya, fasilitas, dan sebagainya. Hal ini yang perlu kami maksimalkan untuk memberdayakan warga LDII dan warga masyarakat sekitar,” ujar Atus Syahbudin saat memberikan keterangan pers usai terpilih.
Atus menekankan bahwa kolaborasi ini tidak akan bersifat satu arah. LDII DIY berkomitmen untuk menyelaraskan program kerjanya dengan agenda pembangunan daerah, baik di sektor pendidikan, lingkungan, maupun sosial. Ia menguraikan bahwa bentuk kerja sama ini akan disesuaikan dengan kebutuhan riil di tiap klaster satuan komunitas.
“Mari kita maksimalkan apa yang pemerintah punya, sehingga kita bisa memberdayakan masyarakat yang ada. Kalau itu sekolah, sekolah yang kita naungi, kalau itu kampung, kampung iklim yang kita naungi, tergantung pada satuannya,” tambah Atus.
Mendorong Kader Muda dalam Estafet Kepemimpinan
Selain fokus pada kemitraan eksternal, LDII DIY juga memberikan perhatian serius pada aspek keberlanjutan organisasi melalui regenerasi. Dalam struktur kepengurusan periode ini, keterlibatan sumber daya manusia yang lebih muda, kreatif, dan produktif menjadi prioritas. Hal ini dilakukan guna memastikan bahwa organisasi tetap adaptif dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.
Atus menegaskan bahwa keberhasilan sebuah organisasi tidak boleh terpaku hanya pada segelintir figur sentral. Sebaliknya, kekuatan organisasi terletak pada sistem kaderisasi yang mampu mencetak pemimpin-pemimpin baru yang siap melanjutkan misi dakwah dan sosial. Kepemimpinan kolektif-kolegial akan dikedepankan demi kemajuan bersama.
“Siapa pun ketuanya dan sekretarisnya, kita bantu siapkan kader terbaik,” tegas Atus mengenai pentingnya mempersiapkan generasi penerus.
Menatap Lima Tahun ke Depan
Apresiasi tinggi turut diberikan Atus kepada seluruh jajaran pengurus, panitia Muswil, serta para kader muda yang telah berjibaku menyukseskan program-program pada periode sebelumnya. Ia mengakui bahwa berbagai pencapaian, mulai dari tata kelola organisasi yang semakin rapi hingga inisiatif program lingkungan hidup dan pembinaan generasi muda, adalah buah dari kerja kolektif yang solid.
Dalam waktu dekat, DPW LDII DIY akan segera menggelar rapat kerja kepengurusan untuk merumuskan detail program kerja masa bakti 2026–2031. Program-program tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat soliditas internal, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan manusia dan pelestarian nilai-nilai luhur di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.