Sumedang – Biro Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat (EPM) DPW LDII Jawa Barat mengambil langkah strategis untuk memperkuat fundamental ekonomi umat melalui penyelenggaraan Kelas Bisnis Entrepreneurship. Kegiatan yang dipusatkan di Sekretariat DPW LDII Jawa Barat ini merupakan tindak lanjut konkret pasca pelaksanaan program Akademi Bisnis Entrepreneur Terpadu (BET) Batch 1 dan 2 yang telah sukses digelar awal Mei lalu.
Hadirnya kelas intensif ini didasari oleh kebutuhan mendesak akan pendampingan berkelanjutan bagi para pelaku usaha pemula. Bukan sekadar teori di atas kertas, para peserta diarahkan untuk lebih siap secara mental dan teknis dalam memulai serta mengekspansi lini bisnis mereka di tengah persaingan pasar yang kian kompetitif. Pertemuan ini juga menjadi ruang dialektika yang dinamis, di mana para peserta dapat berinteraksi langsung dengan mentor berpengalaman guna mengurai berbagai benang kusut yang dihadapi di lapangan.
Menjembatani Kendala Melalui Pendampingan Intensif
Ketua Biro EPM DPW LDII Jawa Barat, Tulus Pribadi, menegaskan bahwa esensi dari kelas ini adalah menciptakan ekosistem saling dukung antar pengusaha. Menurutnya, hambatan teknis maupun manajerial seringkali menjadi batu sandungan utama bagi pengusaha yang baru merintis jalur mandiri.
“Di sinilah kita sharing dan berdiskusi dengan para mentor. Sehingga kendala yang dihadapi peserta bisa mendapatkan solusi dan mampu menjalankan bisnis dengan baik ke depannya,” ujar Tulus Pribadi saat memberikan arahan di hadapan para peserta.
Alur pendampingan dirancang secara sistematis, mulai dari identifikasi masalah hingga perumusan solusi praktis yang bisa langsung diimplementasikan. Pendekatan ini diharapkan mampu meminimalisir risiko kegagalan bisnis di tahap awal dan mempercepat masa adaptasi pengusaha terhadap dinamika pasar.
Target Kemandirian 90 Persen Peserta
Optimisme tinggi menyelimuti jalannya program ini. Biro EPM DPW LDII Jawa Barat mematok target yang cukup ambisius namun realistis. Tulus menyatakan bahwa keberhasilan program ini diukur dari seberapa banyak peserta yang akhirnya mampu berdiri di atas kaki sendiri dalam mengelola usahanya.
Pihaknya menargetkan setidaknya 90 persen dari total peserta, atau bahkan secara ideal seluruhnya, dapat mengoperasikan bisnis secara mandiri tanpa harus terus-menerus bergantung pada bimbingan dasar. Fokus utama pendampingan kali ini diarahkan pada penguasaan bisnis daring (online), sebuah sektor yang dinilai memiliki elastisitas tinggi dan peluang pertumbuhan yang tak terbatas.
“Harapan kami peserta benar-benar bisa menjalankan bisnisnya dengan baik dan memperoleh penghasilan yang cukup sehingga ekonominya semakin meningkat,” pungkas Tulus dengan nada optimis.
Penguatan sektor ekonomi melalui digitalisasi bisnis ini dipercaya akan menjadi motor penggerak kesejahteraan anggota. Dengan penguasaan strategi bisnis online yang mumpuni, para peserta diharapkan tidak hanya sekadar bertahan, namun juga mampu berkontribusi lebih luas dalam memperkuat ketahanan ekonomi keluarga dan organisasi secara kolektif.
Glossary: Mengenal Istilah Dalam Artikel
- EPM (Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat): Biro khusus dalam struktur LDII yang berfokus pada pengembangan potensi ekonomi dan kesejahteraan warga.
- Entrepreneurship: Proses merancang, meluncurkan, dan menjalankan bisnis baru, yang seringkali diawali dengan usaha kecil.
- Akademi BET (Bisnis Entrepreneur Terpadu): Program inkubasi bisnis besutan LDII Jabar untuk mencetak pengusaha yang kompeten dan berintegritas.
- Digital Marketing/Bisnis Online: Strategi pemasaran produk atau layanan yang menggunakan media digital dan jaringan internet.
- Mentoring: Proses pemberian bimbingan dan dukungan oleh orang yang lebih berpengalaman (mentor) kepada mereka yang sedang belajar (mentee).
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.