Bupati Ipuk Apresiasi Dedikasi LDII Banyuwangi dalam Mencetak Generasi Berkarakter di Era Digital

Bupati Ipuk Apresiasi Dedikasi LDII Banyuwangi dalam Mencetak Generasi Berkarakter di Era Digital
foto: ilustrasi
  • BANYUWANGI – Di tengah arus deras disrupsi teknologi yang kian tak terbendung, penguatan karakter menjadi benteng utama bagi generasi muda. Menyadari hal tersebut, Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, melontarkan pujian mendalam atas langkah konkret yang konsisten dilakukan oleh DPD LDII Kabupaten Banyuwangi. Melalui gelaran Perkemahan Akhir Tahun Ajaran (Permata) Cinta Alam Indonesia (CAI) ke-47, LDII dinilai berhasil menyediakan ruang edukasi yang integratif dan berkelanjutan.

    Perhelatan yang berlokasi di Bumi Perkemahan Wisata Waduk Sidodadi, Kecamatan Glenmore, pada Selasa (7/7/2026) ini, menjadi saksi bagaimana nilai-nilai religiusitas bersanding harmonis dengan kemandirian. Dalam sambutannya, Bupati Ipuk menegaskan bahwa investasi terbaik sebuah bangsa bukan sekadar pada infrastruktur fisik, melainkan pada kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki integritas tinggi.

    “Saya mengapresiasi LDII yang konsisten menjadikan Permata CAI sebagai ruang pembinaan. Materi yang diberikan sangat komprehensif untuk membentuk generasi yang berkarakter, mandiri, dan berintegritas. Ini modal penting bagi bangsa kita,” ujar Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani.

    Karakter sebagai Penawar Budaya Instan Teknologi

    Kemajuan teknologi memang menawarkan kemudahan, namun Ipuk mengingatkan adanya risiko besar jika manusia kehilangan kendali atas jati dirinya. Kecanggihan mesin tidak boleh melunturkan sisi kemanusiaan dan spiritualitas. Ia memandang bahwa CAI bukan sekadar ajang kumpul pemuda, melainkan laboratorium pembentukan etika di tengah masyarakat digital.

    “Teknologi semakin cerdas, namun belum tentu manusia semakin bijaksana. Sehebat apa pun teknologi, ketika SDM kita memiliki akhlak, iman, dan karakter yang kuat, ia tidak akan menjadi budak teknologi. Saya berharap CAI menjadi sarana membentuk generasi yang berlandaskan iman kepada Allah, Al-Qur’an, dan Sunnah,” tegas Ipuk Fiestiandani.

    Lebih lanjut, Bupati juga memberikan komparasi strategis terkait dinamika global. Beliau mencontohkan banyak negara dengan kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) melimpah justru tertinggal karena kualitas manusianya yang stagnan. Sebaliknya, negara dengan SDA terbatas namun memiliki SDM yang unggul justru mampu mendominasi kancah internasional. Pesannya jelas: anak muda Banyuwangi harus memiliki mentalitas pemenang yang berbasis moralitas.

    “Ayo anak-anak, bangun karakter. Orang yang diterima di tempat kerja, dapat jabatan adalah orang-orang yang berkarakter. Saya berharap CAI menjadi sarana LDII untuk membentuk generasi mudanya menjadi generasi yang berkarakter. Karakter Islam, karakter yang beriman, bukan sekadar tangguh, tetapi berlandaskan iman kepada Allah, berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul,” imbuhnya dengan penuh semangat.

    Sinergi Membangun Banyuwangi yang ASRI

    Bupati Ipuk juga menitipkan harapan agar kegiatan ini dapat beresonansi dengan program pemerintah daerah, khususnya Banyuwangi ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah). Menurutnya, menjaga alam—sebagaimana filosofi Cinta Alam Indonesia—adalah bagian dari pengabdian sosial yang nyata. Interaksi sosial di perkemahan disebutnya sebagai obat bagi kecenderungan antisosial akibat penggunaan gawai yang berlebihan.

    Di sisi lain, Ketua DPD LDII Kabupaten Banyuwangi, Heri Sujatmiko, menjelaskan bahwa sistem pembinaan di LDII dilakukan secara berjenjang dari tingkat paling dasar (PAC) hingga tingkat kota (DPD). Fokus utamanya terangkum dalam “Tri Sukses Generasi Penerus” yang mencakup akhlak mulia, kepahaman agama yang mumpuni, serta kemandirian ekonomi.

    “Pembinaan kami mulai dari lingkungan keluarga, PAC, hingga PC, termasuk edukasi gizi anak sebagai fondasi dasar. Kehadiran Ibu Bupati di setiap agenda CAI menjadi bukti nyata sinergi antara pemerintah daerah dengan ormas keagamaan dalam membangun karakter bangsa,” jelas Heri Sujatmiko.

    Prinsip yang dipegang teguh oleh generasi muda LDII, menurut Heri, adalah motto: “Kecil terbina, Muda berkarya, Hidup bersahaja, Berkeluarga Bahagia, Mati masuk surga”.

    Dampak Ekonomi dan Kepedulian Sosial

    Ketua Panitia Permata CAI ke-47, Nanang Tri Wahyudi, menambahkan bahwa acara ini melibatkan sekitar 500 peserta dari berbagai jenjang pendidikan, mulai pelajar hingga mahasiswa. Tak hanya soal teori, para peserta juga diajak untuk mempraktikkan bela negara dan kewirausahaan melalui bazar UMKM yang digelar selama acara.

    “Kami juga menghadirkan bazar UMKM dan menargetkan 1.500 pengunjung selama acara, harapannya dapat memberikan dampak positif bagi ekonomi lokal,” ungkap Nanang Tri Wahyudi.

    Selain aspek edukasi dan ekonomi, sisi kemanusiaan juga tetap dikedepankan melalui penyaluran santunan bagi anak yatim di sekitar lokasi Waduk Sidodadi. Menariknya, kegiatan ini juga mendapat dukungan penuh dari berbagai dinas terkait seperti Dinas Kesehatan, DLH, dan Dispendukcapil yang menyediakan stan pelayanan publik langsung di lokasi acara. Sinergi ini mempertegas bahwa kolaborasi antara pemerintah dan organisasi kemasyarakatan merupakan kunci pembangunan yang inklusif.

    Glossary: Mengenal Istilah dalam Permata CAI

    • Permata CAI: Perkemahan Akhir Tahun Ajaran Cinta Alam Indonesia, agenda tahunan LDII untuk membina generasi muda.
    • Tri Sukses: Target pembinaan LDII yang meliputi Alim-Faqih (paham agama), Akhlakul Karimah (berakhlak mulia), dan Mandiri.
    • Banyuwangi ASRI: Program unggulan Pemkab Banyuwangi yang menitikberatkan pada aspek Aman, Sehat, Resik (Bersih), dan Indah.
    • DPD/PC/PAC: Struktur organisasi LDII mulai tingkat Kabupaten (DPD), Kecamatan (PC), hingga Desa/Kelurahan (PAC).
    • Disrupsi Teknologi: Perubahan fundamental akibat inovasi teknologi yang mengubah tatanan kehidupan masyarakat.
  • Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.