Banyuwangi – Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, secara resmi membuka perhelatan akbar Perkemahan Akhir Tahun Ajaran (Permata) Cinta Alam Indonesia (CAI) ke-47. Acara yang diinisiasi oleh DPD LDII Kabupaten Banyuwangi ini berlangsung khidmat di Bumi Perkemahan Wisata Waduk Sidodadi, Glenmore, pada Selasa (7/7/2026). Dalam sambutannya, Ipuk memberikan apresiasi mendalam atas dedikasi tanpa henti organisasi tersebut dalam menggembleng moralitas dan kemandirian generasi muda di wilayahnya.
Kehadiran sekitar 600 peserta yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, hingga pemuda menjadi simbol antusiasme generasi Z dan milenial dalam mencari jati diri yang positif. Bagi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, agenda tahunan ini bukan sekadar seremoni perkemahan biasa, melainkan sebuah investasi jangka panjang dalam menyiapkan sumber daya manusia yang kompetitif.
“Kami menilai kegiatan yang diikuti sekitar 600 peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa, hingga pemuda, sebagai langkah strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia yang unggul menyongsong Indonesia Emas 2045,” ujar Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani.
Integrasi Akhlak di Tengah Arus Digitalisasi
Di era di mana teknologi seringkali melampaui kebijaksanaan penggunanya, Ipuk menyoroti pentingnya filter moral. Ia menegaskan bahwa kurikulum Permata CAI yang memadukan wawasan kebangsaan, bela negara, akhlakul karimah, hingga kewirausahaan adalah ramuan yang tepat untuk menjawab tantangan zaman. Transformasi digital yang masif, menurutnya, harus diimbangi dengan fondasi karakter yang kokoh agar pemuda tidak kehilangan arah di tengah hiruk-pikuk media sosial.
“Teknologi semakin cerdas, belum tentu manusia semakin bijaksana. Sekarang teknologi menjadi acuan kebenaran seseorang, di media sosial orang semakin tidak terkendali, bebas menggunakannya. Namun, sehebat apa pun teknologi, ketika SDM kita memiliki akhlak, iman, dan karakter yang kuat, dia tidak akan tergilas, tidak akan menjadi budak teknologi,” tegas Bupati Ipuk.
Lebih lanjut, ia mendorong para peserta untuk benar-benar menyelami setiap momen interaksi sosial selama perkemahan. Interaksi tatap muka, kerja sama tim di lapangan, dan komunikasi langsung adalah pengalaman berharga yang tidak bisa digantikan oleh layar gawai manapun.
Pola Pembinaan Berjenjang: Kunci Keberlanjutan
Di sisi lain, Ketua DPD LDII Kabupaten Banyuwangi, Heri Sujatmiko, memaparkan bahwa keberhasilan dalam mencetak generasi unggul bukanlah proses instan yang bisa diraih dalam semalam. LDII menerapkan strategi pembinaan berjenjang yang dimulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga, hingga ke tingkat organisasi yang lebih luas.
“Pembinaan kami mulai dari lingkungan keluarga, dengan edukasi orang tua mengenai pemenuhan gizi anak sebagai fondasi dasar. Kami fokus mewujudkan Tri Sukses Generasi Penerus, yakni memiliki akhlak mulia, pemahaman agama yang kuat, dan kemandirian,” jelas Heri Sujatmiko.
Heri juga mengungkapkan rasa terima kasihnya atas dukungan penuh Pemerintah Daerah. Menurutnya, kehadiran Bupati secara konsisten dalam setiap pembukaan Permata CAI menjadi suntikan semangat bagi para pengurus dan peserta. Hal ini membuktikan adanya sinergi yang harmonis antara pemerintah sebagai umaro dan organisasi keagamaan sebagai mitra strategis pembangunan karakter.
Sinergi Lintas Sektoral dan Dampak Ekonomi Lokal
Permata CAI ke-47 tidak hanya berkutat pada materi di dalam kelas atau lapangan perkemahan. LDII turut menggandeng instansi terkait seperti BNNK Banyuwangi dan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) untuk membekali peserta dengan pengetahuan tentang bahaya narkotika dan penguatan nasionalisme.
Ketua Panitia Permata CAI ke-47, Nanang Tri Wahyudi, menjelaskan bahwa acara ini juga dirancang untuk membawa dampak ekonomi nyata bagi masyarakat sekitar. Dengan menghadirkan bazar UMKM dan pertunjukan budaya, kegiatan ini diproyeksikan mampu menyedot hingga 2.000 pengunjung.
“Selain pembinaan, kami menghadirkan bazar UMKM dan berbagai pertunjukan budaya. Kami menargetkan sekitar 2.000 pengunjung selama acara. Harapannya, kegiatan ini memberikan manfaat luas, termasuk mendorong perputaran ekonomi di kawasan wisata Waduk Sidodadi,” kata Nanang Tri Wahyudi.
Tidak berhenti di situ, kepedulian sosial juga ditunjukkan melalui penyaluran santunan bagi anak yatim di area sekitar lokasi perkemahan. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi pun memberikan dukungan teknis dengan menyediakan stan pelayanan publik dari Dinas Kesehatan dan Dispendukcapil, memberikan kemudahan akses layanan bagi warga dan peserta di lokasi acara.
“Kehadiran pemerintah dalam kegiatan organisasi keagamaan ini menjadi simbol sinergi antara umaro dan ulama dalam membangun karakter bangsa yang lebih baik,” pungkas Nanang menutup penjelasannya.
Glossary: Memahami Istilah dalam Artikel
- Indonesia Emas 2045: Visi jangka panjang pemerintah Indonesia untuk menjadi negara maju dan salah satu ekonomi terbesar dunia pada usia satu abad kemerdekaannya.
- Akhlakul Karimah: Istilah dalam Islam yang merujuk pada perilaku atau budi pekerti yang terpuji dan mulia.
- Tri Sukses: Program unggulan pembinaan generasi muda LDII yang mencakup tiga target utama: Alim-Faqih (paham agama), Berakhlakul Karimah, dan Mandiri.
- Umaro dan Ulama: Istilah yang menggambarkan pemimpin pemerintahan (umaro) dan pemimpin agama (ulama) yang bekerja sama demi kemaslahatan masyarakat.
- Soft Skill: Kemampuan interpersonal atau keterampilan non-teknis yang berkaitan dengan cara seseorang bekerja dan berinteraksi dengan orang lain.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.