Ancaman Kekeringan Ekstrem: Menghalau Monster 'Godzilla El Nino'
Jakarta — Bayang-bayang kekeringan ekstrem yang populer dengan sebutan 'Godzilla El Nino' kini mulai memicu kekhawatiran publik di tanah air. Menanggapi potensi krisis iklim tersebut, Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPP LDII) secara proaktif mengingatkan masyarakat dan pemerintah untuk memperkuat fondasi ketahanan pangan nasional. Peringatan ini muncul sebagai upaya kolektif agar tragedi kekurangan pangan di masa lalu tidak kembali terulang di tengah ketidakpastian cuaca global.
Ketua Majelis Pakar DPP LDII, Prof. Sudarsono, yang juga merupakan Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), memberikan penjelasan mendalam mengenai terminologi yang terdengar mengintimidasi tersebut. Menurutnya, meski bukan istilah ilmiah resmi, penyebutan 'Godzilla' menggambarkan kekuatan anomali cuaca yang super kuat dan destruktif.
"Istilah Godzilla El Nino terdengar dramatis. Seolah-olah ada monster raksasa yang akan mengacaukan dunia. Media internasional sering menggunakan istilah ini untuk menggambarkan El Nino yang super kuat, yang dampaknya bisa terasa di berbagai belahan bumi," ujar Sudarsono.
Analisis Iklim dan Dampak Regional di Indonesia
Meskipun lembaga kredibel seperti BMKG dan BRIN memprediksi bahwa pada tahun 2026 tidak terlihat indikasi El Nino kategori 'super', namun potensi fase moderat tetap menyimpan risiko nyata. Sudarsono menjelaskan bahwa El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang mengacaukan pola angin dan hujan global. Bagi Indonesia, hal ini biasanya berujung pada musim kemarau yang lebih panjang dan penurunan curah hujan secara drastis.
Secara spesifik, periode hingga Oktober 2026 diprediksi akan menjadi masa yang krusial bagi wilayah Jawa, Bali, NTB, dan NTT. Kekeringan parah di wilayah-wilayah ini dipastikan akan memukul sektor pertanian, terutama komoditas padi dan jagung yang sangat bergantung pada pasokan air stabil. Namun, anomali unik terjadi di wilayah Timur Laut Indonesia seperti Sulawesi, Maluku, dan Halmahera, di mana curah hujan justru berpotensi berlebih dan memicu bencana hidrometeorologi.
"Dampaknya paling besar pada sektor pertanian, terutama padi dan jagung, yang sangat bergantung pada ketersediaan air," tegas Sudarsono.
Kearifan dalam Memanfaatkan Pangan: Sebuah Keharusan
Di tengah ancaman gagal panen dan fluktuasi harga beras yang bisa memicu inflasi, Sudarsono menekankan perlunya sikap arif dan bijaksana dalam memanfaatkan setiap jengkal sumber pangan. Kesadaran untuk tidak menghambur-hamburkan makanan (food waste) menjadi sangat krusial di tingkat rumah tangga. Mengelola stok pangan dengan perhitungan yang matang bukan hanya soal ekonomi, melainkan bentuk empati terhadap kondisi lingkungan yang sedang tertekan.
DPP LDII mendorong masyarakat untuk beralih pada diversifikasi pangan. Bergantung sepenuhnya pada satu komoditas utama seperti beras akan membuat daya tahan bangsa rapuh saat terjadi guncangan iklim. Dengan memanfaatkan sumber karbohidrat lokal lainnya, tekanan terhadap stok beras nasional dapat dikurangi secara signifikan.
Kepedulian Lingkungan Rumah Sebagai Bentuk Mitigasi Mandiri
Selain aspek pangan, kesiapan menghadapi 'Godzilla El Nino' juga harus dimulai dari area terdekat, yakni lingkungan rumah. Masyarakat dihimbau untuk lebih peduli terhadap pengelolaan air dan sanitasi di sekitar tempat tinggal. Memastikan sistem drainase tetap bersih meskipun musim kemarau tiba adalah langkah antisipasi agar saat hujan tiba-tiba turun dengan intensitas tinggi—sebagaimana sering terjadi pada cuaca ekstrem—tidak terjadi penyumbatan atau genangan yang merugikan.
Langkah kecil seperti memanen air hujan (rainwater harvesting) melalui biopori atau sumur resapan di halaman rumah dapat membantu menjaga cadangan air tanah. Kepedulian terhadap kebersihan lingkungan rumah juga mencegah berkembangnya penyakit yang biasanya muncul saat masa transisi cuaca yang ekstrem.
Alarm Dini untuk Stabilitas Ekonomi Nasional
Sudarsono mengingatkan bahwa fenomena ini adalah alarm dini. Gangguan pada siklus tanam akibat mundurnya musim hujan bagi petani tadah hujan akan menyebabkan jadwal panen tidak serentak, yang pada gilirannya menurunkan produktivitas total nasional. Jika tidak diantisipasi dengan penguatan sistem irigasi dan penyiapan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang kuat, stabilitas ekonomi masyarakat bisa terganggu.
"Fenomena ini harus dipandang sebagai alarm dini untuk memperkuat sistem irigasi, diversifikasi pangan, dan cadangan beras pemerintah agar masyarakat tetap terlindungi," tutup Sudarsono.
Langkah intervensi dari pemerintah, termasuk strategi impor yang terukur dan pengawasan harga di pasar, harus berjalan beriringan dengan kesadaran masyarakat untuk hidup lebih hemat dan peduli lingkungan. Sejarah kekurangan pangan di tahun 1997 dan 2015 harus menjadi pelajaran berharga bahwa persiapan lebih awal adalah kunci keselamatan kolektif bangsa Indonesia.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.