YOGYAKARTA – Langkah nyata dalam memitigasi dampak perubahan iklim global terus ditunjukkan oleh jajaran DPW LDII Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Melalui pendampingan yang intensif dan berkelanjutan, dua wilayah binaan ormas Islam ini berhasil menyabet penghargaan prestisius Program Kampung Iklim (ProKlim) 2026. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Pemerintah Provinsi DIY dalam momen puncak Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang berlangsung khidmat di Bangsal Kepatihan, Yogyakarta.
Menghadapi Tantangan Triple Planetary Crisis
Acara yang mengusung tema “Act Now for Climate, Saatnya Bekerja untuk Iklim” ini menjadi alarm bagi seluruh elemen masyarakat. Dalam sambutan Gubernur DIY yang dibacakan oleh Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X, ditekankan bahwa saat ini penghuni bumi tengah berhadapan dengan tiga ancaman sekaligus yang saling berkaitan.
“United Nations Environment Programme (UNEP) mengingatkan bahwa dunia sedang menghadapi Triple Planetary Crisis. Karena itu, kerja iklim tidak dapat dilakukan secara parsial. Kita harus bergerak bersama, dari pemerintah hingga masyarakat,” ujar Sri Paduka Paku Alam X dengan tegas di hadapan para tamu undangan.
Beliau menambahkan bahwa tema tahun ini bukanlah sekadar slogan, melainkan sebuah instruksi untuk mengubah kesadaran menjadi tindakan konkret. Hal-hal sederhana namun konsisten, seperti mereduksi timbulan sampah, melakukan penghijauan secara masif, hingga penghematan energi di level rumah tangga, merupakan kunci utama dalam memperkuat ketahanan iklim di lingkungan masyarakat.
Dua Wilayah Dampingan LDII DIY Raih Prestasi
Partisipasi LDII DIY dalam menjaga ekosistem terbukti bukan sekadar wacana. Dua kampung yang selama ini mendapatkan supervisi dan dukungan dari LDII menunjukkan performa gemilang dalam kriteria adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.
- Padukuhan Kembang: Terletak di Kalurahan Pendoworejo, Kapanewon Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo. Wilayah ini berhasil mengamankan Sertifikat ProKlim Utama Tahun 2025 yang diterima oleh Samidi selaku perwakilan masyarakat.
- Kampung Sangurejo: Melalui kepemimpinan M. Chairul Huda, wilayah ini menerima penghargaan sebagai bagian dari akselerasi menuju kategori ProKlim Lestari—kasta tertinggi dalam penghargaan lingkungan nasional—yang ditargetkan tercapai pada 2026.
Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa sinergi antara nilai-nilai religius dan kepedulian ekologis dapat berjalan beriringan dalam menciptakan komunitas yang tangguh terhadap fluktuasi iklim ekstrem.
Budaya Lingkungan Berbasis Ibadah
Menanggapi pencapaian ini, Ketua DPW LDII DIY, Atus Syahbudin, menekankan bahwa pengembangan Kampung ProKlim merupakan manifestasi dari tanggung jawab moral umat manusia sebagai khalifah di bumi. Baginya, menjaga alam adalah bagian tak terpisahkan dari praktik ibadah sehari-hari.
“Kampung ProKlim menjadi contoh bahwa masyarakat memiliki peran besar dalam menjaga lingkungan. Ketika warga terlibat aktif dalam pengelolaan sampah, penghijauan, konservasi air, dan mitigasi perubahan iklim, maka manfaatnya akan dirasakan secara langsung oleh masyarakat itu sendiri,” tutur Atus Syahbudin.
Lebih lanjut, Atus memaparkan beberapa inisiatif unggulan yang telah dijalankan LDII DIY, di antaranya adalah gerakan Kyai Peduli Sampah dan Sampah Jadi Jariyah. Inisiatif ini dirancang untuk mengubah pola pikir masyarakat dalam memandang limbah domestik. Sampah tidak lagi dipandang sebagai masalah, melainkan potensi amal jariyah jika dikelola dengan manajemen yang benar dari sumbernya.
Eskalasi masalah lingkungan, menurut Atus, hanya bisa diredam dengan kolaborasi lintas sektoral. Ia mengajak seluruh elemen, mulai dari komunitas terkecil hingga dunia usaha, untuk tidak berhenti melakukan aksi nyata. "Apa yang kita lakukan hari ini akan menentukan kualitas kehidupan generasi mendatang. Mari jadikan kepedulian lingkungan sebagai budaya," pungkasnya menutup pernyataan.
Glossary: Mengenal Istilah Lingkungan
- Triple Planetary Crisis: Tiga masalah utama dunia saat ini yang terdiri dari perubahan iklim, polusi/pencemaran, dan hilangnya keanekaragaman hayati.
- ProKlim (Program Kampung Iklim): Program nasional dari KLHK untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam melakukan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di tingkat lokal.
- ProKlim Lestari: Kategori tertinggi dalam penghargaan ProKlim yang diberikan kepada lokasi yang telah membina lokasi lain di sekitarnya.
- Mitigasi: Upaya untuk mengurangi risiko bencana atau dampak negatif, dalam konteks iklim berarti upaya mengurangi emisi gas rumah kaca.
- Konservasi Air: Upaya pelestarian, perlindungan, dan pemanfaatan sumber daya air secara bijak untuk menjamin ketersediaannya.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.