Workshop Pengajar Caberawit Modern Salatiga: Strategi Jitu Mendidik Generasi Alpha Berkarakter Luhur

Workshop Pengajar Caberawit Modern Salatiga: Strategi Jitu Mendidik Generasi Alpha Berkarakter Luhur

SALATIGA – Guna mencetak generasi yang religius sekaligus adaptif terhadap perkembangan zaman, DPD LDII Kota Salatiga menggelar Workshop & Sharing Pengajar Caberawit Modern di Gedung PPG, Grogol, Salatiga, pada Sabtu (27/6/2026). Mengusung tema besar “Mengajar Ceria, Bermakna, dan Membentuk Karakter”, kegiatan ini dirancang khusus untuk membekali para pendidik dan asisten pengajar dengan metodologi kreatif dalam mendampingi anak-anak usia dini, atau yang akrab disebut Generasi Alpha.

Revolusi Pola Mengajar di Era Digital

Dunia pendidikan saat ini sedang mengalami pergeseran paradigma yang signifikan. Anak-anak yang lahir di era teknologi tidak lagi bisa didekati dengan metode konvensional yang kaku. Hal inilah yang menjadi sorotan utama dalam pemaparan Sulistyorini, S.Pd., salah satu narasumber utama dalam workshop tersebut.

Menurut Sulistyorini, Generasi Alpha memiliki karakteristik unik: mereka sangat visual, cepat menangkap informasi digital, namun cenderung lebih cepat merasa bosan jika tidak dilibatkan secara aktif. Pola komunikasi searah dalam kelas kini dianggap sudah usang.

“Yang perlu kita ubah bukan anaknya, melainkan cara mengajarnya. Guru harus mampu menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan, menggerakkan, dan membekas di hati anak,” tegas Sulistyorini, S.Pd. di hadapan puluhan peserta.

Metode 3M: Menyenangkan, Menggerakkan, Membekas

Untuk menjawab tantangan tersebut, workshop ini memperkenalkan konsep inovatif yang disebut 3M. Konsep ini menitikberatkan pada pengalaman belajar yang holistik. Pendidik tidak hanya mentransfer ilmu hafalan, tetapi juga membangun emosi positif agar nilai-nilai yang diajarkan menetap dalam memori jangka panjang anak.

Narasumber kedua, Dian Nirmana, S.Pd., menyoroti pentingnya kreativitas guru dalam membungkus materi keagamaan menjadi sesuatu yang dinamis. Dalam sesi praktiknya, peserta diajak untuk mensimulasikan cara mengajar yang interaktif.

  • Pembelajaran Berbasis Cerita: Menggunakan narasi yang kuat untuk menjelaskan nilai-nilai moral.
  • Permainan Edukatif: Memasukkan unsur hafalan doa dan surat pendek ke dalam gim yang kompetitif namun santai.
  • Simulasi Ibadah: Praktik langsung yang disesuaikan dengan gerak motorik anak usia Caberawit.

Dian menekankan bahwa pendidikan karakter tidak bisa dipaksakan hanya melalui lisan. “Pembelajaran tidak hanya berfokus pada hafalan, tetapi dikemas melalui cerita, permainan edukatif, simulasi, gerakan, hingga praktik langsung agar nilai agama dapat diterapkan dalam keseharian,” tutur Dian Nirmana, S.Pd.

Membangun Karakter Luhur dan Akhlakul Karimah

Selain aspek kognitif dan teknis mengajar, workshop ini juga menjadi ajang penguatan komitmen bagi para guru untuk menjadi teladan nyata. Karakter luhur seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kesabaran menjadi fondasi utama yang harus dimiliki oleh setiap pengajar sebelum menanamkannya kepada murid.

Kehadiran tokoh senior dari Bidang Pendidik, yakni H. Sukardi dan H. Siswo, memberikan bobot otoritas pada kegiatan ini. Dukungan mereka menunjukkan bahwa peningkatan kompetensi guru adalah prioritas organisasi dalam menjaga keberlangsungan pembinaan generasi penerus yang berkualitas.

Acara berlangsung dengan penuh energi. Sesi diskusi interaktif memungkinkan para pengajar berbagi kendala di lapangan dan mencari solusi bersama. Atmosfer semangat terlihat jelas saat para peserta mencoba mempraktikkan metode baru dalam menyampaikan materi ibadah dengan gaya yang lebih “kekinian” namun tetap menjaga kemurnian nilai syariat.

Pada akhirnya, pesan mendalam yang dibawa dari workshop ini adalah sebuah kesadaran bahwa anak-anak zaman sekarang bukannya sulit diatur, melainkan cara mereka belajar yang telah bertransformasi. Guru yang sukses adalah mereka yang mau terus berinovasi, adaptif terhadap teknologi, dan tetap tulus dalam mendidik karakter bangsa.

Glossary Artikel

  • Caberawit: Istilah untuk kelompok usia anak-anak (usia dini hingga sekolah dasar) dalam pembinaan generasi menerus di lingkungan LDII.
  • Generasi Alpha: Kelompok anak yang lahir mulai tahun 2010 hingga pertengahan 2020-an, yang sejak lahir sudah terpapar teknologi digital.
  • Akhlakul Karimah: Perilaku atau budi pekerti yang mulia dan terpuji sesuai ajaran agama.
  • PPG: Pusat Penggerak Pembina Generus, sebuah badan yang fokus pada manajemen pendidikan karakter.

Informasi lebih lanjut mengenai program pendidikan karakter bisa Anda telusuri melalui mesin pencari Google dengan kata kunci berikut: cai 24.

Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.