Turpan: Menelusuri Jejak Peradaban Oase Jalur Sutra dan Titik Terpanas di Tiongkok

Turpan: Menelusuri Jejak Peradaban Oase Jalur Sutra dan Titik Terpanas di Tiongkok

Terletak di jantung wilayah oase yang subur di timur Daerah Otonomi Xinjiang, Tiongkok, Turpan berdiri sebagai monumen hidup sejarah Jalur Sutra yang tak lekang oleh waktu. Kota setingkat prefektur ini bukan sekadar pemukiman di tengah gurun; ia adalah titik pertemuan budaya Persia, Mongol, Turki, dan Tiongkok selama ribuan tahun. Dikenal dengan sebutan Turfan dalam catatan kuno, wilayah ini memiliki luas sekitar 69.759 kilometer persegi dan menjadi rumah bagi hampir 700.000 jiwa per sensus 2020. Turpan menyimpan keunikan geografis yang ekstrem, menjadikannya salah satu tempat paling menarik sekaligus menantang di Asia Tengah.

Geografi Ekstrem: Titik Terendah dan Terpanas

Turpan menduduki posisi unik dalam peta topografi dunia. Kota ini terletak di sisi utara Depresi Turpan, sebuah cekungan gunung yang menampung Danau Ayding—titik terendah di Tiongkok dengan elevasi 154 meter di bawah permukaan laut. Kondisi geografis ini menciptakan iklim gurun kontinental yang sangat keras. Musim panas di Turpan bisa menjadi neraka yang membara dengan suhu yang sering melampaui 33°C rata-rata harian di bulan Juli, bahkan pernah mencatat rekor nasional hingga 52,2°C di wilayah Sanbu.

Meskipun curah hujan tahunan sangat rendah, hanya sekitar 15,7 milimeter, kehidupan tetap bersemi di Turpan berkat kearifan lokal yang luar biasa. Sistem irigasi kuno yang disebut Karez menyalurkan air dari pegunungan bersalju melalui kanal bawah tanah menuju kebun-kebun anggur dan ladang kapas, menciptakan pemandangan hijau yang kontras dengan gersangnya Gurun Gobi di sekelilingnya.

Jejak Panjang Sejarah Jalur Sutra

Sejarah Turpan adalah narasi tentang perpindahan kekuasaan dan asimilasi budaya. Pada milenium pertama SM, wilayah ini dikuasai oleh Kerajaan Jushi sebelum akhirnya ditaklukkan oleh Dinasti Han pada tahun 107 SM. Selama berabad-abad, Turpan menjadi rebutan antara kekaisaran Tiongkok dan Kekaisaran Xiongnu. Kerajaan Gaochang (Qocho) dan reruntuhan Yar-Khoto (Jiaohe) menjadi bukti bisu masa kejayaan wilayah ini sebagai pusat perdagangan dan keagamaan.

"Bahkan sebelum penaklukan oleh Dinasti Tang, kehadiran etnis Han sudah sangat luas sehingga penyelarasan budaya kota ini menyebabkan nama Turpan dalam bahasa Sogdiana dikenal sebagai 'Chinatown' atau 'Kota Orang Tionghoa'," ujar sejarawan Valerie Hansen dalam catatannya mengenai dampak perdagangan Jalur Sutra.

Pada abad ke-7, Dinasti Tang merebut kembali Cekungan Tarim dan mengganti nama wilayah ini menjadi Prefektur Xi. Dokumen kuno yang ditemukan di Pemakaman Astana menunjukkan aktivitas perdagangan yang sangat sibuk, mulai dari kontrak pernikahan hingga surat penjualan budak dan ternak. Menariknya, penduduk kuno Turpan menggunakan kertas bekas untuk membuat pakaian bagi jenazah, yang kini menjadi sumber primer berharga bagi para arkeolog untuk mempelajari teks-teks sekuler dan religius masa itu.

Transformasi Religi: Dari Budha ke Islam

Sebelum memeluk Islam, Turpan adalah benteng bagi penganut Budha, Manikeisme, dan Kristen Nestorian. Kerajaan Kara-Khoja (856–1389 M) yang didirikan oleh etnis Uyghur menjadi pusat perkembangan seni Budha, yang peninggalannya masih bisa dilihat di Gua Bezeklik. Namun, transisi besar terjadi pada paruh kedua abad ke-15 ketika populasi lokal mulai memeluk Islam secara menyeluruh.

Setelah konversi tersebut, banyak memori tentang warisan Budha perlahan memudar.

"Keturunan orang Uyghur Budha di Turpan gagal mempertahankan ingatan akan warisan leluhur mereka dan secara keliru meyakini bahwa 'Kalmuk kafir' (Dzungar) adalah pihak yang membangun monumen-monumen Budha di daerah mereka," catat teks dalam Encyclopaedia of Islam.

Ekonomi: Anggur Terbaik di Dunia

Saat ini, ekonomi Turpan sangat bergantung pada sektor pertanian, khususnya kapas dan buah-buahan. Namun, komoditas yang paling membuat Turpan mendunia adalah anggurnya. Wilayah ini merupakan produsen kismis terbesar di Tiongkok. Dukungan pemerintah lokal dalam bentuk pinjaman preferensial dan pelatihan manajemen telah memperluas lahan pertanian anggur secara signifikan.

Penjelajah Rusia abad ke-19, Grigory Grum-Grshimailo, memberikan pujian tinggi bagi produk lokal ini.

"Kismis Turpan mungkin merupakan yang terbaik di dunia, dikeringkan di dalam bangunan dengan desain yang sangat unik yang disebut chunche," ujar Grigory Grum-Grshimailo.
Bangunan chunche ini dirancang agar angin kering gurun dapat masuk dan mengeringkan anggur secara alami sambil tetap terlindungi dari sinar matahari langsung.

Demografi dan Asimilasi Budaya

Berdasarkan sensus pemerintah tahun 2015, etnis Uyghur membentuk mayoritas populasi sebesar 77%, diikuti oleh etnis Han (16,8%) dan Hui (5,9%). Menariknya, warga lokal sering mencatat bahwa orang Uyghur di Turpan memiliki fitur wajah yang sedikit berbeda dibandingkan wilayah lain di Xinjiang, yang diduga kuat sebagai hasil asimilasi dan pernikahan campur dengan etnis Han di masa lalu selama periode sejarah yang panjang.

Glossary Turpan

  • Karez: Sistem kanal bawah tanah kuno yang mengalirkan air dari pegunungan untuk irigasi oase.
  • Chunche: Bangunan pengering anggur tradisional dengan dinding berlubang untuk sirkulasi udara gurun.
  • Depresi Turpan: Cekungan geologis yang merupakan salah satu titik terendah di permukaan bumi.
  • Tocharian: Bahasa Indo-Eropa kuno yang digunakan oleh penduduk asli Turpan sebelum dominasi bahasa Turki dan Mandarin.
  • Qocho (Gaochang): Bekas ibu kota kuno di wilayah Turpan yang pernah menjadi pusat kerajaan Uyghur Budha.

Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.