Refleksi Ketua Umum DPP LDII: Piala Dunia 2026 Jadi Madrasah Toleransi dan Sportivitas Global

Refleksi Ketua Umum DPP LDII: Piala Dunia 2026 Jadi Madrasah Toleransi dan Sportivitas Global

JAKARTA — Perhelatan akbar Piala Dunia 2026 yang menyatukan berbagai bangsa dari latar belakang budaya, ras, hingga agama yang berbeda, kini dipandang lebih dari sekadar ajang adu bakat di atas rumput hijau. Ketua Umum DPP LDII, Dody Taufiq Wijaya, menegaskan bahwa momentum olahraga internasional ini merupakan ruang pembelajaran krusial bagi warga LDII, khususnya generasi muda, untuk mempraktikkan toleransi, persatuan, dan sportivitas dalam kehidupan bermasyarakat.

Filosofi di Balik Lapangan: Belajar dari Piagam Madinah

Dalam sebuah keterangan resmi yang dirilis di Jakarta pada Senin (29/6/2026), Dody menggarisbawahi bahwa pemahaman mengenai perbedaan sebenarnya telah menjadi akar pendidikan di lingkungan LDII melalui kajian Al Quran dan Al Hadits. Ia mengaitkan fenomena Piala Dunia dengan keteladanan Rasulullah SAW saat mengelola kemajemukan di Madinah.

"Selama ini generasi muda LDII mengaji Al Quran dan Al Hadits, menggali teori-teori tentang sikap Rasulullah dalam menghadapi perbedaan terutama di Madinah. Maka, Piala Dunia 2026 bisa dijadikan contoh dan inspirasi, untuk membangun karakter luhur yang dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat," ujar Dody Taufiq Wijaya.

Piala Dunia, menurutnya, adalah manifestasi modern tentang bagaimana manusia dengan identitas yang kontras dapat duduk bersama dalam satu arena. Di sana, perbedaan bahasa dan keyakinan luruh di bawah semangat persaudaraan global yang universal.

Mengelola Keberagaman Sebagai Kekuatan Bangsa

Bagi Dody, keberagaman bukan sekadar fakta sosial, melainkan realitas yang menuntut tata kelola sikap yang bijaksana. Di tribun penonton hingga ruang ganti pemain, kepatuhan pada aturan bersama (fair play) menjadi kunci utama agar harmoni tetap terjaga meski kompetisi berlangsung panas.

"Perbedaan bukan alasan untuk saling bermusuhan. Justru keberagaman menjadi kekuatan apabila dibangun di atas rasa saling menghormati. Generasi muda LDII harus mampu menjadi generasi yang terbuka, menghargai perbedaan bangsa, ras, maupun keyakinan, tanpa kehilangan jati diri sebagai warga negara Indonesia yang berlandaskan Pancasila," kata Dody Taufiq Wijaya.

Ia mengingatkan bahwa keterbukaan pikiran tanpa mengikis prinsip kebangsaan adalah modal utama pemuda Indonesia untuk bersaing di kancah global namun tetap membumi dengan nilai-nilai luhur nusantara.

Sportivitas dan Integritas: Melampaui Skor Pertandingan

Lebih jauh lagi, LDII menekankan bahwa nilai sportivitas tidak boleh berhenti saat peluit panjang ditiup wasit. Karakter ini harus diinternalisasi ke dalam ekosistem pendidikan, dunia kerja, hingga struktur organisasi. Mengakui keunggulan lawan dan menerima kekalahan dengan kepala tegak adalah bentuk kedewasaan mental.

"Sportivitas mengajarkan kita untuk berkompetisi secara sehat, menghargai aturan, mengakui keunggulan orang lain, dan menerima hasil dengan lapang dada. Karakter seperti ini sangat dibutuhkan agar generasi muda mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan secara dewasa," jelas Dody Taufiq Wijaya.

Tak hanya sportivitas, integritas pun menjadi sorotan utama. Dody meyakini bahwa kejujuran dan konsistensi antara perkataan dengan tindakan adalah mata uang yang berlaku di mana saja. Tanpa itu, prestasi setinggi apa pun akan hancur oleh hilangnya kepercayaan publik.

"Sehebat apa pun prestasi seseorang, tanpa integritas maka kepercayaan akan hilang. Karena itu, pemuda LDII harus membiasakan diri berlaku jujur, disiplin, dan bertanggung jawab dalam setiap aktivitas, baik di lingkungan keluarga, sekolah, kampus, pekerjaan, maupun organisasi," tegas Dody Taufiq Wijaya.

Menjadikan Tontonan Sebagai Tuntunan

Menutup pernyataannya, pimpinan tertinggi organisasi dakwah tersebut berharap Piala Dunia 2026 meninggalkan warisan mental bagi pemuda Indonesia. Ia ingin melihat lahirnya generasi yang profesional dan religius, yang mampu berkontribusi nyata bagi kemajuan negara.

"Jadikan Piala Dunia bukan hanya tontonan, tetapi juga tuntunan. Belajarlah tentang kerja sama tim, disiplin, kepemimpinan, penghormatan terhadap perbedaan, sportivitas, dan integritas. Jika nilai-nilai itu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, saya yakin akan lahir generasi muda Indonesia yang profesional, berakhlak mulia, dan mampu berkontribusi bagi kemajuan bangsa," pungkas Dody Taufiq Wijaya.

Glossary: Mengenal Istilah dalam Berita

  • E-E-A-T: Standar evaluasi kualitas konten (Experience, Expertise, Authoritativeness, Trustworthiness) yang digunakan Google untuk menilai kredibilitas informasi.
  • Sportivitas: Sikap adil, jujur, dan ksatria dalam berkompetisi maupun dalam interaksi sosial sehari-hari.
  • Integritas: Kualitas kejujuran dan prinsip moral yang kuat; kesesuaian antara tindakan dengan nilai-nilai yang diyakini.
  • Pancasila: Dasar negara Indonesia yang menjadi payung keberagaman suku, agama, dan budaya.
  • DPP LDII: Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia, tingkat kepengurusan nasional organisasi LDII.

Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.