Momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia, LDII Tekankan Mandiri Atasi Persoalan Sampah

Momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia, LDII Tekankan Mandiri Atasi Persoalan Sampah
Beranda › Lingkungan Hidup › Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026

Momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia, LDII Tekankan Mandiri Atasi Persoalan Sampah

Jakarta | 5 Juni 2026
Momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia LDII Tekankan Mandiri Atasi Persoalan Sampah

Jakarta (5/6). Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh pada 5 Juni, LDII menegaskan bahwa konsep mujhid muzhid dan mandiri dapat menjadi pondasi menghadapi persoalan sampah dan lingkungan. Hal itu diungkapkan Anggota Departemen Litbang, IPTEK, Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup DPP LDII, Siham Afatta, pada Jumat (5/6/2026).

“Persoalan sampah tidak hanya terletak pada sistem pengelolaan, tetapi juga pada pola konsumsi masyarakat, yang menghasilkan timbulan sampah dalam jumlah besar setiap harinya,” ujar Siham Afatta.

Siham menjelaskan, karakter mujhid muzhid mengajarkan kesungguhan sekaligus hidup hemat. “Dalam konteks lingkungan, hemat berarti mengurangi penggunaan barang sekali pakai. Menghindari pemborosan, memilih produk yang dapat digunakan kembali, dan mengendalikan pola konsumsi,” tuturnya.

Siham menegaskan, semakin sedikit sampah yang dihasilkan dari sumbernya, semakin ringan beban lingkungan. “Lebih lanjut, karakter mujhid muzhid harus berjalan beriringan dengan nilai-nilai kemandirian,” katanya.

Menurut Siham, masyarakat tidak dapat sepenuhnya menyerahkan persoalan sampah kepada pemerintah atau petugas kebersihan. Tetapi perlu mengambil peran mulai dari level rumah tangga. “Mandiri berarti mampu mengelola sampah dari sumbernya. Mulai dari memilah sampah, mengolah sampah organik menjadi kompos, hingga memanfaatkan kembali barang yang masih memiliki nilai guna,” pungkasnya.

Persoalan Sampah Menjadi Ancaman Kesehatan dan Lingkungan

Senada, Ketua DPP LDII, Dicky Budiman, yang juga Ahli Epidemiologi dan Lingkungan dari Griffith University, Australia, mengatakan, persoalan sampah bukan lagi sekadar masalah kebersihan. “Tetapi telah menjadi masalah kesehatan masyarakat, lingkungan, ekonomi, bahkan ketahanan bangsa,” tuturnya.

Dicky menjelaskan, yang disebut dengan National Action Plan for Health Security (NAPHS) berarti, bagaimana membuat manusia menjadi sehat. “Dan sampah menjadi faktor yang mengganggu kesehatan manusia di Indonesia,” tegasnya.

“Dan sebagian besar, berakhir di tempat pemrosesan akhir atau TPA. Bahkan, buruknya, ada yang sampai ke sungai, laut, bahkan dibakar secara terbuka. Semua itu tidak sustainable dan tidak environmental friendly,” kata Dicky.

Ia menilai persoalan sampah berkontribusi pada pencemaran udara, tanah, dan air. “Pada momen Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini, kami memandang pendekatan LDII melalui karakter mujhid muzhid dan mandiri sangat relevan untuk mengatasi persoalan sampah,” imbuh Dicky.

Dicky menjelaskan, strategi pengelolaan sampah modern yang saat ini dianjurkan dunia berupa mengurangi sampah dari sumbernya. “Masalah sampah berakar dari tiga masalah utama. Pertama, adalah pola konsumsi yang berlebih,” ujarnya.

Kedua, budaya sekali pakai. Dan ketiga, kurangnya tanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan sendiri. “Maka, solusinya tidak cukup hanya dengan membangun TPA baru, atau menambah armada pengangkut sampah. Tetapi, solusi yang paling efektif adalah mengurangi timbulnya sampah sejak dari rumah tangga, sekolah, hingga tempat ibadah,” pungkas Dicky.

Implementasi 29 Karakter Luhur dalam Pengelolaan Sampah

Dicky menegaskan, strategi mengatasi persoalan sampah melalui implementasi 29 karakter luhur dapat diterjemahkan melalui gerakan lingkungan yang konkret. “Dari nilai mujhid muzhid, dapat dilaksanakan dengan mengurangi timbunan sampah, membiasakan konsumsi seperlunya, hingga mengurangi penggunaan plastik sekali pakai,” jelasnya.

Kedua, dari nilai kemandirian, masyarakat dapat mengelola sampah dari sumbernya. “Dengan memilah sampah organik dan anorganik. Membuat kompos rumah tangga, mengembangkan bank sampah berbasis komunitas dan memanfaatkan kembali barang yang masih bernilai guna,” jelasnya.

Selanjutnya, mengimplementasikan nilai-nilai kerukunan dan kekompakkan. “Bangun kegiatan kolektif untuk mengatasi persoalan sampah. Semua harus bergerak, tidak bisa hanya satu atau dua orang. Karena masalah sampah tidak bisa diselesaikan sendiri-sendiri,” katanya.

Dicky menyontohkan, dengan melaksanakan kerja bakti rutin, “Membuat program kampung bebas sampah, sedekah sampah plastik, hingga membuat bank sampah. Modal sosial yang kuat ini, akan menjadi faktor keberhasilkan menjalankan berbagai program lingkungan,” katanya.

Nilai luhur lainnya, seperti amanah dan jujur, melalui budaya tanggung jawab lingkungan. “Masyarakat dan warga LDII, harus memiliki integritas untuk menjaga lingkungan. Misalnya dengan tidak membuang sampah sembarangan, tidak membakar sampah secara terbuka dan menjaga fasilitas umum serta ruang hijau,” pungkas Dicky.

“Dapat menurunkan risiko penyakit berbasis lingkungan, seperti leptospirosis, diare, demam berdarah, hingga infeksi saluran pernafasan,” katanya.

Dicky menegaskan, lingkungan yang bersih bukan diwariskan, melainkan dipinjam dari generasi yang akan datang, “Karena itu, mengelola sampah adalah bagian dari tanggung jawab moral, sosial, dan spiritual kita bersama,” tutupnya.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia LDII Sampah Lingkungan Hidup Bank Sampah Kesehatan Lingkungan Dicky Budiman Siham Afatta

Glosarium

Mujhid Muzhid: Karakter luhur yang menekankan kesungguhan, kerja keras, serta hidup hemat dan tidak berlebihan.

NAPHS: National Action Plan for Health Security, rencana aksi nasional untuk memperkuat ketahanan kesehatan masyarakat.

TPA: Tempat Pemrosesan Akhir sampah yang menjadi lokasi pengelolaan akhir limbah domestik.

Bank Sampah: Sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang memungkinkan sampah memiliki nilai ekonomi.

Sustainable: Berkelanjutan, yaitu mampu memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang memenuhi kebutuhannya.

Environmental Friendly: Ramah lingkungan atau tidak menimbulkan dampak negatif yang signifikan terhadap lingkungan hidup.