LAMPUNG SELATAN – Suasana religius menyelimuti lingkungan Masjid LDII Desa Pemanggilan, Kecamatan Natar, saat puluhan santri penghafal Al-Qur’an berkumpul untuk melaksanakan murojaah hafalan massal pada Kamis (11/6). Agenda spiritual yang diikuti oleh generasi penerus (generus) ini dilakukan sebagai langkah sistematis untuk menjaga kualitas hafalan sekaligus memperdalam pemahaman agama sejak usia dini di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.
Kegiatan yang berlangsung khidmat ini bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan bagian dari kurikulum berkelanjutan yang wajib diikuti oleh seluruh santri bersama para guru pembimbing. Murojaah, atau aktivitas mengulang kembali hafalan secara kolektif, menjadi kunci utama agar setiap ayat yang telah dihafalkan tetap tertanam kuat di dalam ingatan (mutqin). Selain menjaga aspek memori, sesi ini juga fokus pada penyempurnaan makhrajul huruf dan tajwid, yang merupakan fondasi penting dalam melantunkan kalam Ilahi.
Komitmen Mencetak Generasi Qur’ani
Hingga pertengahan tahun ini, antusiasme masyarakat terhadap program Tahfidzul Qur’an yang dikelola secara swadaya oleh Pengurus Anak Cabang (PAC) LDII Desa Pemanggilan menunjukkan grafik yang sangat menggembirakan. Tercatat lebih dari 25 santri aktif secara konsisten menyetorkan hafalan mereka setiap harinya. Keberhasilan ini mencerminkan tingginya komitmen orang tua dan para pendidik dalam membina karakter anak muda yang berlandaskan nilai-nilai luhur Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Setiarso, selaku Ketua PAC LDII Desa Pemanggilan, menegaskan bahwa pembinaan intensif terhadap para penghafal Al-Qur’an ini adalah program strategis organisasi. Target akhirnya sangat jelas: mencapai indikator "Tri Sukses" generus LDII, yakni mencetak pribadi yang alim-faqih (berilmu dan paham agama), berakhlakul karimah (berbudi pekerti luhur), serta mandiri.
“Program pembibitan tahfidz ini bertujuan mulia untuk mencetak generasi Qur’ani di tingkat pengurus anak cabang. Harapan besar kami, ke depan lahir generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak mulia dan berkarakter kuat yang berlandaskan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah,” ujar Setiarso.
Metode Tasmi’ dan Evaluasi Berkala
Dalam teknis pelaksanaannya, murojaah massal ini menerapkan metode tasmi', di mana para santri secara bergiliran menyetorkan ayat-ayat mereka sementara santri lainnya menyimak dengan saksama. Para ustadz dan ustadzah bertindak sebagai verifikator yang mengevaluasi kelancaran serta ketepatan bacaan setiap santri secara mendetail.
Langkah evaluasi ini dianggap sangat krusial. Tanpa pengawasan yang ketat, hafalan santri rentan mengalami kekeliruan atau bahkan terlupakan. Oleh karena itu, rutinitas ini terus dipupuk agar menjadi budaya spiritual bagi generus. Harapannya, mereka tidak hanya mampu menghafal secara tekstual, tetapi juga mampu mengimplementasikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam perilaku sehari-hari, menjadi teladan bagi masyarakat sekitar.
Kegiatan yang ditutup dengan doa bersama ini meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta. Ketertiban dan ketekunan yang ditunjukkan para santri selama proses murojaah menjadi bukti nyata bahwa semangat pembinaan generasi muda di tingkat akar rumput tetap berjalan secara dinamis dan penuh integritas.
Glossary Kegiatan
- Murojaah: Metode mengulang kembali hafalan Al-Qur'an agar tidak terlupakan dan tetap lancar.
- Generus: Singkatan dari Generasi Penerus, sebutan untuk anak-anak dan remaja dalam lingkungan pembinaan LDII.
- Tasmi': Aktivitas memperdengarkan hafalan di hadapan orang lain (penyimak) untuk diuji kelancarannya.
- Tri Sukses: Tiga target utama pembinaan generasi muda LDII, yaitu Alim-Faqih, Akhlakul Karimah, dan Mandiri.
- Mutqin: Kondisi hafalan yang sudah sangat kuat, lancar, dan melekat di ingatan tanpa banyak kesalahan.
- PAC (Pengurus Anak Cabang): Struktur organisasi LDII di tingkat kelurahan atau desa.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.