YOGYAKARTA – Menghadapi derasnya arus modernisasi yang kian menantang, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kota Yogyakarta bersinergi dengan DPD LDII Kabupaten Bantul menggelar Pengajian Khusus Putri serentak di tiga lokasi strategis pada Minggu (21/6/2026). Kegiatan masif yang berpusat di Masjid Baitussalam Daengan, Masjid Al Hidayah Krantil, dan Masjid Al-Barokah Gonjen ini diikuti oleh sekitar 900 peserta yang terdiri dari remaja putri berusia di atas 17 tahun hingga kalangan ibu rumah tangga.
Fokus pada Fikih Perempuan dan Penguatan Akhlak
Agenda besar ini dirancang bukan sekadar rutinitas keagamaan, melainkan sebagai wadah strategis untuk membekali kaum perempuan dengan pemahaman agama yang mendalam. LDII menghadirkan dua narasumber kompeten dari pondok pesantren ternama, yakni Ustadzah Mahasela Alkhasanah dari Ponpes Al-Ubaidah Kertosono dan Ustadzah Rizky dari Ponpes Gading Mangu. Keduanya memaparkan materi krusial mulai dari literasi fikih perempuan—seperti pembahasan darah kebiasaan wanita (haid, nifas, dan istihadhah)—hingga strategi menjaga integritas moral di tengah pergaulan bebas.
Ustadzah Rizky dalam penyampaiannya menekankan bahwa seorang muslimah harus memiliki visi hidup yang melampaui batas keduniawian. Ia mengajak para peserta untuk menginternalisasi nilai-nilai akhirat agar tidak mudah terombang-ambing oleh tren negatif yang bertentangan dengan syariat.
"Keadaan surga yang sesungguhnya belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia. Surga hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang taat beribadah kepada Allah SWT dan Rasul-Nya," ujar Ustadzah Rizky saat memberikan motivasi ibadah kepada ratusan peserta di Masjid Baitussalam.
Lebih lanjut, ia mendorong para muslimah untuk terus proaktif dalam menimba ilmu sebagai bekal menghadapi dinamika zaman yang kian kompleks. "Senantiasalah bersyukur dan terus menambah ilmu agama agar kehidupan kita semakin dekat dengan Allah SWT," tambahnya.
Membangun Karakter Istri dan Anak yang Berakhlakul Karimah
Di sisi lain, Ustadzah Mahasela Alkhasanah menyoroti pentingnya manifestasi rasa syukur melalui tindakan nyata dalam hubungan antarmanusia. Menurutnya, kesalehan seorang perempuan juga diukur dari bagaimana ia berinteraksi dengan orang-orang terdekatnya, terutama dalam lingkup keluarga.
"Belum bisa dikatakan bersyukur kepada Allah SWT apabila belum bersyukur kepada manusia. Bentuk syukur itu di antaranya seorang istri yang bersyukur kepada suami dan anak yang bersyukur kepada orang tua," ungkap Ustadzah Mahasela dengan lugas.
Dalam sesi tersebut, ia merinci tiga kriteria utama istri yang baik sesuai tuntunan agama, yakni: mampu memberikan ketenangan saat dipandang, menaati arahan suami selama berada di koridor syariat, serta memiliki kemampuan menjaga kehormatan diri dan aset keluarga. Pesan ini menjadi sangat relevan mengingat peran perempuan sebagai madrasah pertama (al-ummu madrasatul ula) bagi generasi mendatang.
Bagi para remaja putri, ia menitipkan pesan agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan tidak bergantung sepenuhnya pada keadaan. Ketahanan mental dan bakti kepada orang tua dipandang sebagai kunci keberhasilan masa depan mereka.
Menjaga Optimisme di Tengah Perbedaan Takdir
Sebagai penutup yang menyentuh hati, pengajian ini diakhiri dengan penguatan psikologis agar para perempuan LDII tetap fokus pada perbaikan diri tanpa harus terjebak dalam kompetisi sosial yang tidak sehat (social comparison). Setiap individu diingatkan bahwa Allah memiliki garis waktu yang berbeda bagi setiap hamba-Nya.
"Jangan samakan waktu kita dengan waktu orang lain karena setiap orang memiliki waktunya masing-masing. Perbaikilah pribadi dan ibadah kita, maka rezeki yang telah Allah tetapkan tidak akan pernah tertukar," pungkas Ustadzah Rizky di hadapan para peserta yang tampak antusias hingga akhir acara.
Melalui inisiatif pengajian lintas wilayah ini, LDII berharap dapat menciptakan benteng moral yang kokoh bagi kaum perempuan di Yogyakarta. Dengan pemahaman agama yang kuat dan karakter yang mandiri, perempuan diharapkan mampu menjadi pilar stabilitas keluarga sekaligus garda terdepan dalam menjaga nilai-nilai luhur bangsa.
Glossary Istilah Keagamaan
- Fikih: Ilmu tentang hukum-hukum syariat yang bersifat amaliah (praktis) yang digali dari dalil-dalil yang rinci.
- Nifas: Darah yang keluar dari rahim seorang wanita setelah proses melahirkan.
- Istihadhah: Darah yang keluar di luar waktu haid dan nifas karena penyakit atau gangguan kesehatan tertentu.
- Akhlakul Karimah: Perilaku atau budi pekerti terpuji yang sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan Hadist.
- Muslimah: Wanita yang beragama Islam dan menjalankan syariat-Nya.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.