KETAPANG – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) LDII Kabupaten Ketapang melalui Kelompok Kerja Penggerak Pembina Generus (Pokja PPG) mengambil langkah proaktif dalam membekali generasi muda menghadapi fase krusial dalam hidup, yakni pernikahan. Melalui sebuah talkshow bertajuk “Memilih Pasangan Antara Kriteria Sunnah dan Realita”, organisasi ini berupaya menyelaraskan idealisme religius dengan tantangan kehidupan modern di Aula Sekretariat LDII Ketapang, Minggu (21/6/2026).
Kegiatan inspiratif ini merupakan bagian inti dari rangkaian acara Keakraban Usia Mandiri (Usman) yang menyasar para pemuda-pemudi LDII se-Kabupaten Ketapang. Fokus utamanya adalah memberikan navigasi moral dan logis bagi mereka yang tengah merencanakan masa depan rumah tangga agar tidak terjebak dalam ekspektasi semu.
Urgensi Edukasi Pra-Nikah Sejak Dini
Ketua DPD LDII Kabupaten Ketapang, Tunggono, menegaskan bahwa wawasan mengenai rumah tangga harus diberikan jauh sebelum prosesi pernikahan berlangsung. Hal ini krusial agar generasi penerus memiliki fondasi berpikir yang kokoh di tengah gempuran tren pergaulan masa kini.
“Acara ini merupakan upaya memberikan edukasi tentang cara memilih pasangan sesuai tuntutan agama dengan tetap melihat realita kehidupan yang terus berkembang seiring kemajuan zaman,” ujar Tunggono.
Dalam pandangannya, kematangan dalam memilih pendamping hidup akan berkontribusi langsung pada ketahanan sebuah keluarga. Ia menambahkan bahwa romantisme semata bukanlah jaminan kebahagiaan jangka panjang jika tidak dibarengi dengan pemahaman tanggung jawab yang konkret.
“Pernikahan bukan sekadar menyatukan dua individu, tetapi juga membutuhkan kesiapan mental dan pemahaman yang baik agar mampu menjalani kehidupan rumah tangga dengan bijak,” tegas Tunggono lebih lanjut.
Menyeimbangkan Kriteria Agama dan Realitas Sosial
Senada dengan hal tersebut, Sekretaris DPD LDII Ketapang, Hajisin, yang hadir sebagai narasumber utama, membedah secara mendalam bagaimana kriteria ideal dalam agama atau sunnah harus mampu diimplementasikan dalam realitas keseharian. Ia mengingatkan para peserta agar tidak hanya mengedepankan aspek emosional dalam memilih jodoh.
“Cinta memang penting dalam sebuah hubungan, tetapi tidak cukup menjadi satu-satunya landasan. Kualitas agama, akhlak, serta kesamaan visi hidup merupakan faktor penting untuk membangun keluarga yang harmonis dan langgeng,” papar Hajisin di hadapan para peserta yang antusias.
Diskusi semakin hidup saat Susiati, perwakilan dari Bagian Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Keluarga (PPKK) LDII Ketapang, menyoroti sisi praktis menghadapi kehidupan pasca-akad. Menurutnya, kesenjangan antara ekspektasi dan realita sering kali menjadi pemicu konflik jika tidak dikelola dengan kematangan mental sejak awal.
Menjawab Tantangan Pencarian Jodoh di Era Digital
Tidak hanya sekadar mendengarkan paparan teori, talkshow ini juga menjadi wadah diskusi terbuka. Berbagai isu hangat dikupas tuntas, mulai dari fenomena pencarian pasangan melalui platform digital, batasan pergaulan sesuai koridor syariat, hingga persiapan finansial dan mental sebelum melangkah ke jenjang pelaminan.
Para peserta diajak untuk memahami bahwa kriteria sunnah seperti agama dan akhlak merupakan parameter utama, namun tidak boleh mengabaikan realita terkait komunikasi dan kesiapan sosial. Melalui pendekatan ini, LDII Ketapang berharap lahir generasi muda yang mampu mewujudkan keluarga berkualitas yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.
Antusiasme tinggi yang ditunjukkan oleh para peserta mencerminkan betapa besarnya kebutuhan generasi muda akan arahan yang relevan dan aplikatif dalam membangun peradaban kecil melalui institusi keluarga.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.