JEMBER – Di tengah hiruk-pikuk arus informasi digital yang kerap kali terjebak dalam sensasi, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kabupaten Jember mengambil langkah strategis dengan menyelenggarakan Diklat Jurnalistik pada Sabtu, 20 Juni 2026. Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan sebuah ikhtiar besar untuk mencetak agen informasi yang mampu mengubah setiap baris tulisan dan konten kreatif menjadi ladang ibadah yang berkelanjutan bagi masyarakat luas.
Dakwah Bil Kalam: Menulis dengan Nilai Ibadah
Ketua DPD LDII Kabupaten Jember, H. Akhmad Malik, dalam sambutannya menekankan pentingnya peran jurnalis muslim dalam mengisi ruang digital. Ia menggarisbawahi bahwa LDII memegang teguh dua pilar utama dalam menyiarkan kebaikan, yakni dakwah secara lisan dan dakwah melalui pena atau tulisan yang dikenal dengan istilah dakwah bil kalam.
“Di dalam LDII, kita menekankan pentingnya dua pilar penyiaran kebaikan, yaitu dakwah bil lisan dan dakwah bil kalam. Melalui Diklat Jurnalistik ini, kita ingin memastikan bahwa dakwah bil kalam yang dilakukan melalui goresan tinta dan konten positif dapat menjadi ladang pahala bagi kita semua,” ujar H. Akhmad Malik dengan penuh penekanan.
Langkah ini menjadi krusial mengingat derasnya penetrasi media sosial yang seringkali membuat batas antara kebenaran dan kabar burung menjadi kabur. Malik mengingatkan bahwa karya jurnalistik yang mampu memberikan inspirasi, pencerahan, serta ajakan pada kebaikan (amar ma’ruf) adalah kebutuhan mendesak bagi masyarakat saat ini.
Filosofi Kemanfaatan: Menjadi Penerang di Tengah Kegelapan Informasi
Menjadi jurnalis di era modern menuntut lebih dari sekadar kecepatan. Ada beban moral untuk memberikan kemaslahatan bagi sesama. Hal ini merujuk pada prinsip luhur khoirunnas anfauhum linnas, di mana sebaik-baik manusia adalah mereka yang memberikan manfaat paling besar bagi orang lain. Di saat setiap individu memiliki kebebasan untuk berkomentar, kehadiran jurnalis yang membawa optimisme menjadi benteng pertahanan bagi kesehatan mental dan sosial masyarakat.
“Jadilah jurnalis yang memberikan pencerahan dan penerangan, bukan yang meresahkan masyarakat. Tulisan dan konten video yang baik adalah bagian dari amar ma’ruf bil qalam atau mengajak kepada kebaikan melalui pena,” tegas Malik kembali.
Pelatihan ini secara spesifik memberikan batasan etis agar para peserta tidak terjebak dalam pusaran arus utama yang mengejar viralitas dengan cara-cara kontroversial. Fokus utamanya adalah kualitas substansi yang mampu memotivasi pembaca untuk berbuat positif. Bagi penyelenggara, konten yang mengedukasi adalah ilmu yang bermanfaat, yang pahalanya akan terus mengalir meskipun sang penulis telah tiada.
Sinergi untuk Kemajuan Daerah
Acara yang digagas oleh tim kreatif KIM Jember ini tidak hanya berfokus pada internal organisasi, tetapi juga diproyeksikan untuk mendukung visi besar pemerintah daerah Jember. Kontribusi informasi yang sehat diharapkan dapat memperkuat narasi “Jember Baru, Jember Maju” di kancah nasional maupun internasional.
Kualitas pelatihan ini pun tidak main-main. Peserta yang berhasil menyelesaikan diklat selama dua hari ini akan mendapatkan pengakuan formal berupa piagam resmi yang ditandatangani oleh pemangku otoritas media dan komunikasi di wilayah tersebut, yakni:
- Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jember.
- Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kadiskominfo) Jember.
Pembukaan acara dilakukan secara simbolis oleh Kepala Bidang Diskominfo Jember yang bertindak sebagai keynote speaker. Dalam arahannya, ia memaparkan strategi pemanfaatan media digital secara produktif agar masyarakat Jember tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga produsen konten yang mencerahkan dan membangun harmoni sosial.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.