LDII Gunungkidul Perkuat Kompetensi Pembina Generus Lewat FGD Psikologi Anak dan Remaja

LDII Gunungkidul Perkuat Kompetensi Pembina Generus Lewat FGD Psikologi Anak dan Remaja
  • GUNUNGKIDUL – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) LDII Kabupaten Gunungkidul mengambil langkah strategis dalam mengoptimalkan pembinaan generasi muda dengan membekali para pendidik instrumen pedagogik yang mumpuni. Melalui Kelompok Kerja (Pokja) Bagian Pendidikan Umum dan Pelatihan, LDII menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Memahami Perkembangan Psikologi Anak dan Remaja” pada Minggu (7/6/2026).

    Agenda yang berlangsung khidmat di Gunungkidul ini dihadiri oleh 46 peserta yang terdiri dari jajaran mubaligh dan mubalighot. Mereka merupakan representasi dari delapan wilayah kapanewon, mencakup Wonosari, Gedangsari, Patuk, Playen, Paliyan, Panggang, Saptosari, hingga Tanjungsari. Inisiatif ini tidak muncul begitu saja, melainkan bagian dari pengejawantahan delapan klaster pengabdian LDII untuk bangsa, di mana pendidikan karakter dan pengelolaan pondok pesantren menjadi pilar utamanya.

    Urgensi Pendekatan Psikologis di Era Disrupsi

    Ketua Pokja, Taufik Hidayat, saat membuka forum tersebut menekankan bahwa peran pembina di zaman sekarang sudah jauh melampaui sekadar penyampai teks keagamaan. Ada kompleksitas emosional dan kognitif yang harus dipahami oleh setiap pengajar agar pesan moral yang disampaikan dapat terinternalisasi dengan sempurna di dalam diri peserta didik.

    “Pembinaan generasi penerus membutuhkan pendekatan yang sesuai dengan perkembangan zaman. Karena itu, pemahaman psikologi menjadi bekal penting bagi para pembina agar mampu mendampingi generasi muda secara tepat,” ujar Taufik Hidayat.

    Pernyataan ini menggarisbawahi tantangan nyata yang dihadapi para pendidik di lapangan. Pola komunikasi yang kaku seringkali justru menciptakan jarak antara pembina dan remaja. Oleh sebab itu, FGD ini dirancang untuk merobohkan sekat-sekat tersebut melalui pemahaman psikologi perkembangan.

    Mengenal Fase Pertumbuhan untuk Pembinaan Efektif

    Narasumber utama dalam kegiatan ini, Ismiyati, memaparkan secara mendalam mengenai transisi psikologis yang dialami anak-anak menuju fase remaja. Menurutnya, kegagalan dalam memahami karakteristik unik di setiap fase pertumbuhan seringkali berujung pada resistensi dari pihak remaja.

    “Pemahaman terhadap perkembangan psikologi anak dan remaja menjadi bekal penting dalam mendampingi mereka menghadapi tantangan zaman. Dengan pendekatan yang tepat, pembinaan tidak hanya membentuk kecerdasan, tetapi juga karakter dan akhlak yang baik,” ungkap Ismiyati dalam paparannya.

    Selama sesi diskusi yang berjalan interaktif, para peserta terlihat antusias membedah fenomena sosial yang sedang tren di kalangan anak muda, termasuk pengaruh masif teknologi digital. Mereka merumuskan strategi baru untuk menanamkan karakter luhur tanpa mengesampingkan aktualitas perubahan sosial yang terjadi di masyarakat.

    Menyiapkan Sumber Daya Manusia Unggul 2045

    Visi besar LDII dalam mencetak generasi profesional religius selaras dengan cita-cita nasional mewujudkan Indonesia Emas 2045. Kualitas sumber daya manusia yang unggul tidak hanya diukur dari kecerdasan intelektual, tetapi juga dari kemandirian dan kesalehan sosial.

    Ketua DPD LDII Gunungkidul, Wahono Budi Rustanto, memberikan apresiasi tinggi terhadap komitmen para pembina yang terus mau meningkatkan kapasitas diri. Ia menegaskan bahwa pembinaan remaja adalah investasi jangka panjang yang hasilnya akan menentukan arah bangsa di masa depan.

    “Generasi muda saat ini menghadapi tantangan yang berbeda dibanding generasi sebelumnya. Karena itu, para pembina perlu terus meningkatkan kapasitas dan pemahamannya agar mampu mendampingi generasi penerus dengan pendekatan yang tepat,” kata Wahono Budi Rustanto.

    Ia juga menambahkan bahwa keberhasilan pendidikan karakter tidak bisa dipanggul sendiri oleh organisasi. Kolaborasi antara figur orang tua di rumah, guru di sekolah, dan pembina keagamaan di komunitas menjadi kunci keberhasilan yang tak terpisahkan.

    “Ketika keluarga, guru, dan pembina memiliki pemahaman yang sama dalam mendidik anak, insya Allah akan lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak mulia, mandiri, profesional, dan religius,” pungkas Wahono Budi Rustanto menutup arahannya.

    Glossary: Mengenal Istilah dalam Berita

    • Generus: Singkatan dari Generasi Penerus, sebutan untuk anak-anak dan remaja yang sedang dalam masa pembinaan karakter.
    • FGD (Focus Group Discussion): Diskusi kelompok terfokus untuk membahas masalah spesifik guna mencapai pemahaman atau solusi bersama.
    • Mubaligh/Mubalighot: Pengajar atau penyampai ajaran agama (pria/wanita) dalam komunitas LDII.
    • Kapanewon: Istilah setingkat Kecamatan yang digunakan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.
    • Indonesia Emas 2045: Visi jangka panjang pemerintah Indonesia untuk menjadi negara maju tepat pada usia satu abad kemerdekaannya.
    • Karakter Luhur: Nilai-nilai moral positif yang meliputi kejujuran, amanah, kerja keras, hingga kerukunan.
  • Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.