Bulan Muharam bukan sekadar penanda bergantinya tahun dalam kalender Hijriah, melainkan sebuah gerbang spiritual yang membuka peluang bagi umat Islam untuk melakukan transformasi diri secara total. Sebagai salah satu dari empat bulan yang dimuliakan atau Asyhurul Hurum, Muharam membawa pesan kuat tentang pentingnya memperbaiki hubungan dengan Sang Khalik sekaligus mempererat solidaritas kemanusiaan. Momentum ini menjadi titik balik bagi setiap pribadi muslim untuk meninggalkan kebiasaan buruk dan melangkah menuju ketakwaan yang lebih hakiki.
Ketua Dewan Penasehat DPP LDII, KH Edy Suparto, menekankan bahwa spirit Muharam adalah semangat hijrah. Menurutnya, bulan ini seharusnya memicu dorongan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Dalam tradisi Islam, kemuliaan Muharam telah diakui sejak zaman kenabian, di mana umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amalan, menjaga diri dari perbuatan zalim, dan memperkuat fondasi spiritual melalui ibadah sunnah, terutama puasa Asyura.
Jejak Sejarah dan Tradisi Puasa Asyura
Puasa Asyura yang jatuh pada tanggal 10 Muharam memiliki akar sejarah yang sangat panjang, bahkan melintasi era sebelum kenabian Muhammad SAW. Berdasarkan catatan sejarah, masyarakat Quraisy di masa jahiliah pun telah terbiasa menjalankan puasa pada hari tersebut. Hal ini sebagaimana dikisahkan oleh Aisyah RA:
"Orang-orang Quraisy biasa berpuasa pada hari Asyura di masa jahiliah, Rasulullah SAW pun melakukannya pada masa jahiliah. Tatkala beliau sampai di Madinah, beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa," ujar Aisyah RA dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari.
Ketika Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi juga menjalankan puasa pada hari yang sama. Rasa ingin tahu sang Nabi membawa pada sebuah fakta sejarah yang luar biasa; kaum Yahudi berpuasa sebagai bentuk syukur atas keberhasilan Nabi Musa AS menyelamatkan Bani Israil dari kejaran Firaun. Merespons hal tersebut, Rasulullah SAW menegaskan bahwa umat Islam lebih berhak untuk menghormati Nabi Musa AS.
"Nabi SAW tiba di Madinah, kemudian beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya: 'Apa ini?'. Mereka menjawab: 'Sebuah hari yang baik, ini adalah hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari itu sebagai wujud syukur kepada Allah.' Maka Rasulullah menjawab: 'Aku lebih berhak terhadap Nabi Musa daripada kalian (Yahudi), maka kami akan berpuasa pada hari itu sebagai bentuk pengagungan kami terhadap hari itu'," tulis riwayat Imam Muslim.
Kaitan Erat dengan Perahu Nabi Nuh AS
Signifikansi 10 Muharam tidak berhenti pada kisah Nabi Musa AS saja. Tradisi Islam juga mencatat peristiwa besar lainnya, yakni berlabuhnya bahtera Nabi Nuh AS di atas bukit Judi setelah banjir besar yang menenggelamkan dunia. Momen dramatis saat air mulai surut dan kehidupan baru dimulai kembali ini terjadi tepat pada hari Asyura.
Sebagaimana termaktub dalam Al-Qur'an Surat Hud ayat 44, Allah SWT memerintahkan bumi untuk menelan airnya dan langit untuk menghentikan hujannya. Setelah bahtera itu berlabuh, Nabi Nuh AS melaksanakan puasa sebagai bentuk syukur yang mendalam. Imam al-Qurtubi menjelaskan bahwa pada hari itu, Nabi Nuh memerintahkan seluruh makhluk yang bersamanya, mulai dari manusia hingga hewan ternak, untuk berpuasa sebagai bentuk pengagungan kepada Allah SWT atas keselamatan yang mereka terima.
Lokasi berlabuhnya kapal tersebut, yakni Gunung Judi, kini dikenal berada di wilayah Turki, dekat perbatasan Suriah dan Irak. Setelah terombang-ambing selama 150 hari, keselamatan yang datang pada 10 Muharam tersebut mempertegas bahwa bulan ini adalah bulan pertolongan bagi hamba-hamba Allah yang beriman.
Keutamaan Menghapus Dosa Setahun yang Lalu
Selain nilai sejarahnya yang kaya, puasa Asyura menjanjikan ganjaran spiritual yang luar biasa bagi mereka yang menjalankannya dengan ikhlas. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa puasa di bulan Muharam adalah puasa yang paling utama setelah Ramadhan. Nilai lebih dari puasa 10 Muharam secara spesifik adalah kemampuannya menjadi penggugur dosa.
"Puasa Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu," sabda Rasulullah SAW sebagaimana dicatat oleh Abu Qotadah Al Anshoriy dalam riwayat Imam Muslim.
Menariknya, untuk membedakan tradisi umat Islam dengan kaum Yahudi (agar tidak tasyabbuh), Rasulullah SAW berencana untuk menambah puasa pada tanggal 9 Muharam yang dikenal dengan puasa Tasu'a. Meski beliau wafat sebelum sempat melaksanakannya, anjuran ini tetap menjadi pegangan kuat bagi umat Islam hingga saat ini. Diperkirakan pada tahun 2026 ini, puasa Tasu'a dan Asyura akan jatuh pada tanggal 24 dan 25 Juni.
Melalui pemahaman sejarah dan keutamaan ini, KH Edy Suparto mengajak seluruh umat Islam yang memiliki kemampuan fisik untuk tidak melewatkan kesempatan emas ini. Puasa dua hari (9 dan 10 Muharam) menjadi simbol ketaatan sekaligus rasa syukur atas segala nikmat keselamatan yang telah Allah berikan kepada nabi-nabi terdahulu, yang sarinya masih relevan bagi kehidupan kita saat ini.
Glossary: Mengenal Istilah Muharam
- Hijrah: Secara harfiah berarti berpindah; dalam konteks spiritual berarti transformasi dari kondisi buruk menuju kondisi yang lebih baik dan islami.
- Asyhurul Hurum: Empat bulan yang disucikan dalam Islam (Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab) di mana umat dilarang berperang dan dianjurkan memperbanyak amal shaleh.
- Asyura: Sebutan untuk hari ke-10 pada bulan Muharam yang memiliki banyak peristiwa bersejarah para nabi.
- Tasu'a: Sebutan untuk hari ke-9 pada bulan Muharam yang dianjurkan untuk puasa guna membedakan diri dengan tradisi kaum lain.
- Bukit Judi: Lokasi yang diyakini sebagai tempat mendaratnya bahtera Nabi Nuh AS, terletak di wilayah pegunungan di tenggara Turki.
- Tasyabbuh: Tindakan menyerupai atau mengikuti gaya hidup, tradisi, atau ibadah kaum di luar Islam secara berlebihan.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.
