BITUNG – Memasuki perayaan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, warga Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kota Bitung menunjukkan aksi nyata dalam merawat kohesi sosial. Sebanyak 17 ekor sapi kurban disembelih secara serentak di enam titik lokasi yang tersebar di wilayah tersebut pada Rabu (27/5/2026). Kegiatan ini bukan sekadar ritual keagamaan biasa, melainkan sebuah manifestasi dari budaya gotong royong yang dirancang agar seluruh lapisan warga, tanpa memandang strata ekonomi, dapat berkontribusi dalam ibadah kurban.
Filosofi Kurban: Bukan Sekadar Milik Kalangan Mampu
Kurban seringkali dipandang sebagai ibadah eksklusif bagi mereka yang memiliki kemampuan finansial di atas rata-rata. Namun, LDII Bitung mencoba mendobrak stigma tersebut melalui pendekatan kolektif. Dalam tausiahnya, Ust. Sahrul menekankan bahwa esensi kurban terletak pada niat dan partisipasi aktif, bukan semata-mata pada besarnya nominal materi.
“Pahala kurban itu bisa didapatkan dengan cara berpartisipasi sekecil apa pun. Yang penting ada niat untuk berkorban. Jadi kurban bukan hanya untuk orang kaya atau orang tertentu saja,” ujar Ust. Sahrul di hadapan para jemaah.
Ia menambahkan bahwa kebersamaan adalah kunci utama. Dengan sistem pengelolaan yang inklusif, warga yang memiliki keterbatasan ekonomi tetap dapat merasakan kebahagiaan menjadi bagian dari pemberi kurban, bukan sekadar penerima manfaat.
Distribusi di Enam Titik Strategis
Pelaksanaan penyembelihan diawali setelah ratusan warga menunaikan salat Idul Adha di Lapangan Kampus STIE Petra, Manembo-nembo Tengah, Kecamatan Matuari. Antusiasme warga terlihat dari keterlibatan langsung berbagai kelompok usia, mulai dari tokoh agama, panitia, hingga generasi muda yang bahu-membahu mengelola operasional kurban.
Dari total 17 ekor sapi yang dikumpulkan, dua ekor di antaranya dialokasikan khusus untuk penyembelihan di wilayah Pimpinan Cabang (PC) LDII Girian. Pengaturan titik penyembelihan ini dilakukan untuk memastikan jangkauan distribusi daging kurban lebih merata dan efisien kepada masyarakat sekitar.
Strategi pengumpulan dana yang berbasis tabungan kolektif menjadi rahasia di balik stabilnya jumlah hewan kurban setiap tahunnya. Ust. Sahrul menjelaskan bahwa model ini sangat efektif untuk memicu semangat kemandirian warga.
“Kurban itu ibadah umum. Semua bisa ikut mengambil bagian. Semangatnya adalah kebersamaan dan keikhlasan,” tegas Ust. Sahrul.
Meruntuhkan Ego Lewat Kemanusiaan
Senada dengan hal tersebut, Khatib Idul Adha, Ust. Abdul Ajis, mengupas tuntas dimensi sosial dari ibadah kurban dalam khutbahnya. Ia mengingatkan bahwa penyembelihan hewan adalah simbol dari penyembelihan sifat-sifat kebinatangan dalam diri manusia, seperti keegoisan dan ketidakpedulian.
“Kurban adalah jembatan kemanusiaan yang meruntuhkan sekat antara si kaya dan si miskin. Yang dikorbankan bukan hanya hewan, tetapi juga ego kepemilikan dan sikap masa bodoh terhadap penderitaan sesama,” ungkap Ust. Abdul Ajis dengan lugas.
Proses distribusi daging kurban dilakukan dengan tertib, menyasar warga LDII serta masyarakat umum di Kota Bitung. Di tengah keberagaman kota yang majemuk, momen ini menjadi sarana penguat tali persaudaraan lintas kelompok (ukhuwah basyariyah). Melalui kurban, LDII Bitung berharap dapat terus merawat tradisi berbagi yang berkelanjutan, sekaligus membuktikan bahwa gotong royong adalah solusi atas tantangan ekonomi dalam menjalankan ketaatan beragama.
📚 Glossary Artikel
- Inklusi: Pendekatan untuk mengajak atau mengikutsertakan semua pihak tanpa terkecuali.
- Kohesi Sosial: Ikatan batin dan kerja sama yang erat di dalam suatu masyarakat.
- Manifestasi: Perwujudan nyata dari suatu nilai atau perasaan.
- Ukhuwah Basyariyah: Persaudaraan yang didasarkan pada sesama umat manusia.
- Strata Ekonomi: Tingkatan atau penggolongan masyarakat berdasarkan kemampuan finansial.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.