PALEMBANG — Menghadapi gempuran arus informasi yang kian tak terbendung, Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) LDII Sumatera Selatan mengambil langkah strategis dengan membekali generasi mudanya keterampilan literasi digital dan jurnalistik. Dalam agenda bertajuk “Pelatihan Jurnalistik Mahir Dasar LDII Sumsel” yang berlangsung di Palembang pada 19-21 Juni 2026, puluhan pemuda didorong untuk tidak sekadar menjadi konsumen algoritma, melainkan menjadi garda terdepan dalam memproduksi narasi positif di ruang siber.
Menggugat Fenomena Post-Truth dan Distorsi Informasi
Fenomena post-truth menjadi sorotan utama dalam pelatihan yang diikuti oleh sekitar 40 peserta dari berbagai wilayah di Sumatera Selatan ini. Ketua DPP LDII, Rulli Kuswahyudi, yang hadir sebagai pemateri utama, memberikan peringatan keras mengenai bagaimana fakta objektif kini seringkali kalah oleh emosi dan keyakinan personal yang sengaja dibentuk oleh kelompok tertentu.
“Dunia memasuki era post-truth atau kebenaran baru. Kebenaran yang berasal dari hasil framing. Melibatkan media dan para pembuat opini,” ujar Rulli Kuswahyudi.
Rulli membedah secara mendalam bagaimana batasan antara kejujuran dan manipulasi informasi menjadi kian tipis. Menurutnya, publik saat ini berada dalam kondisi rentan karena seringkali lebih mengutamakan pembenaran atas persepsi mereka sendiri dibandingkan mencari kebenaran yang sesungguhnya. Hal inilah yang memicu polarisasi dan penyebaran informasi yang menyesatkan secara masif.
Menjadi Subjek Aktif di Tengah Algoritma Digital
Transformasi digital yang begitu cepat menuntut setiap individu untuk memiliki kecakapan dalam memilah informasi. Rulli menekankan bahwa teknologi seharusnya menjadi alat yang dikendalikan oleh manusia, bukan sebaliknya. Ia mengajak para peserta untuk membangun kesadaran kritis saat berselancar di media sosial agar tidak terjebak dalam arus hoaks yang merusak tatanan sosial.
“Untuk itu, saya mengajak peserta pelatihan untuk bijak bermedia sosial. Mampu memilah dan memilih, serta memanfaatkan teknologi digital dengan baik. Jadilah subjek, jangan hanya jadi penonton atau objek algoritma,” tegas Rulli Kuswahyudi.
Edukasi ini bertujuan menciptakan ekosistem digital yang lebih sehat, di mana generasi muda LDII mampu menyajikan konten-konten yang edukatif dan menyejukkan. Dengan menguasai teknik jurnalistik yang benar, diharapkan setiap informasi yang dibagikan memiliki dasar fakta yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Mendorong Narasi Positif Melalui Kinerja Organisasi
Senada dengan hal tersebut, Wakil Ketua DPW LDII Sumatera Selatan, Edy Thamrin, menyoroti tantangan besar yang dihadapi organisasi di tengah derasnya peredaran berita bohong. Edy menilai, kemudahan akses informasi saat ini bak pisau bermata dua yang memerlukan kesiapan mental dan intelektual dari para penggunanya.
Generasi muda LDII diharapkan memiliki semangat dan motivasi yang tinggi untuk menyebarkan berita-berita inspiratif mengenai kontribusi nyata organisasi kepada masyarakat. Penguatan literasi ini menjadi krusial agar kegiatan positif di tingkat daerah tidak terabaikan dan dapat terpublikasi dengan baik ke khalayak luas.
“Mari semangat menginformasikan kegiatan LDII di wilayah masing-masing. Untuk menginformasikan kinerja dan program LDII se-Sumsel,” ujar Edy Thamrin saat menutup pernyataannya.
Melalui pelatihan intensif selama tiga hari tersebut, para peserta dibekali dengan berbagai keterampilan teknis, mulai dari penulisan berita, teknik wawancara, hingga manajemen media sosial. Upaya ini merupakan komitmen berkelanjutan LDII dalam mencetak sumber daya manusia yang tidak hanya religius, tetapi juga cakap teknologi dan kritis terhadap perkembangan zaman.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.