Efisiensi dan Higienitas: Bupati Mimika Johannes Rettob Beri Apresiasi Khusus Terhadap Manajemen Kurban LDII

Efisiensi dan Higienitas: Bupati Mimika Johannes Rettob Beri Apresiasi Khusus Terhadap Manajemen Kurban LDII
  • MIMIKA – Bupati Mimika, Johannes Rettob, memberikan apresiasi mendalam terhadap tata kelola dan manajemen penyembelihan hewan kurban yang diterapkan oleh warga Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kabupaten Mimika. Pengakuan tersebut disampaikan langsung di sela-sela peninjauan lokasi pemotongan hewan kurban dalam rangka Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah yang jatuh pada Rabu (27/5/2026). Kedisiplinan panitia dalam membagi tugas dinilai menjadi preseden positif bagi pengelolaan kurban yang profesional.

    “Saya selalu mengapresiasi LDII karena tata cara pemotongan hewan mereka sudah luar biasa. Mereka membagi kepanitiaan ke dalam kelompok-kelompok sesuai tugasnya, ada yang khusus menangani bagian hati dan ada bagian lainnya. Ini manajemen yang luar biasa,” ujar Johannes Rettob dengan nada kagum saat mengamati alur kerja panitia di lapangan.

    Kunjungan Protokoler dan Standar Kelayakan Daging

    Dalam agenda kunjungan kerja tersebut, Johannes Rettob tidak datang sendirian. Beliau didampingi oleh Ketua TP PKK Mimika, Suzy Rettob, serta Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Kabupaten Mimika, Emma Kornelia Korwa. Kehadiran para pejabat daerah ini bertujuan untuk memastikan bahwa seluruh proses ibadah kurban di wilayah Mimika berjalan sesuai dengan standar kesehatan masyarakat veteriner (Kesmavet).

    Sebelum menginjakkan kaki di lokasi kurban LDII, Bupati telah melakukan rangkaian pemantauan di beberapa titik masjid lainnya. Beliau menegaskan pentingnya memastikan rasa aman bagi masyarakat yang mengonsumsi daging kurban tersebut. Langkah proaktif pemerintah daerah ini selaras dengan komitmen untuk menjaga kualitas pangan hewani di tengah perayaan hari besar keagamaan.

    “Tadi pagi saya berkeliling meninjau beberapa tempat pemotongan hewan kurban, terutama di masjid-masjid. Setelah dari sini, saya rencananya akan mengunjungi dua lokasi lagi,” tambah Johannes Rettob menjelaskan rute pantauannya.

    Filosofi Swadaya dan Partisipasi Jemaah

    Salah satu poin krusial yang disoroti oleh Bupati Johannes adalah kemandirian warga LDII dalam menghimpun hewan kurban. Pola pendistribusian yang terintegrasi dari tingkat kelurahan hingga distrik dianggap sebagai metode yang sangat efektif untuk mewujudkan pemerataan sosial. Semangat gotong royong ini, menurut Johannes, mencerminkan kepedulian yang tinggi antar sesama umat manusia.

    “Luar biasa, semuanya bersumber dari umat. Hewan kurban ini dikumpulkan dari jemaah di tingkat kelurahan hingga distrik, lalu disatukan di sini untuk kemudian didistribusikan kembali. Ini adalah metode yang sangat baik dan patut ditiru oleh tempat lain,” tegas sang Bupati saat mengomentari sistem distribusi kolektif LDII.

    Pada Idul Adha tahun ini, warga LDII Mimika berhasil menyembelih sebanyak 17 ekor sapi dan 12 ekor kambing. Data mencatat bahwa 16 ekor sapi merupakan murni hasil swadaya jemaah, sementara satu ekor sapi tambahan merupakan bantuan hibah dari Pemerintah Kabupaten Mimika sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan keagamaan masyarakat.

    Pengawasan Medis: Temuan Cacing Hati dan Tindakan Preventif

    Di sisi teknis kesehatan, Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Disnakkeswan mengambil langkah serius dengan menerjunkan tim ahli ke lapangan. Sebanyak 30 petugas disebar ke berbagai lokasi penyembelihan guna melakukan pemeriksaan post-mortem pada organ dalam hewan kurban.

    “Kami mengerahkan 30 petugas yang didistribusikan ke seluruh masjid penerima bantuan Pemda. Tugas mereka adalah melakukan pemeriksaan untuk memastikan ternak kurban benar-benar sehat dan layak makan,” jelas Kepala Disnakkeswan Mimika, Emma Kornelia Korwa.

    Dalam proses pemeriksaan tersebut, petugas menemukan adanya parasit cacing pada organ hati salah satu hewan kurban. Namun, Emma dengan cepat memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak timbul kepanikan. Secara medis, jika temuan parasit hanya terbatas pada organ tertentu seperti hati (Fasciola hepatica), maka organ tersebut wajib dipisahkan dan dimusnahkan, namun dagingnya tetap aman untuk dikonsumsi.

    “Memang ada temuan cacing di bagian hati. Namun, bagian organ yang terinfeksi sudah langsung dipisahkan. Secara keseluruhan, dagingnya dinyatakan tetap aman dan layak dikonsumsi karena cacing tersebut tidak menyebar atau memengaruhi bagian daging,” pungkas Emma menenangkan warga.

    Keberhasilan pelaksanaan kurban di LDII Mimika tahun ini tidak hanya menjadi simbol ketaatan spiritual, tetapi juga membuktikan bahwa integrasi antara manajemen yang rapi dan pengawasan kesehatan yang ketat mampu menciptakan standar operasional yang unggul bagi kemaslahatan publik.

    Glossary Berita: Manajemen Kurban Modern

    • Manajemen Kurban: Sistem pengelolaan hewan kurban mulai dari pengadaan, pemeliharaan, hingga penyembelihan dan distribusi daging secara terencana.
    • Post-Mortem: Pemeriksaan kesehatan hewan yang dilakukan setelah penyembelihan untuk mendeteksi penyakit pada daging atau organ dalam.
    • Kesmavet (Kesehatan Masyarakat Veteriner): Segala urusan yang berhubungan dengan hewan dan produk hewan yang secara langsung atau tidak langsung memengaruhi kesehatan manusia.
    • Swadaya Jemaah: Pengadaan sumber daya (dana atau hewan) yang berasal dari usaha dan kemampuan anggota komunitas secara mandiri.
    • Cacing Hati (Fasciola): Parasit yang sering ditemukan pada hati hewan ternak. Meskipun organ hati yang terinfeksi tidak layak konsumsi, bagian otot atau daging tetap aman setelah organ tersebut dibuang.
  • Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.