Kemunculan kasus hantavirus di tingkat global memicu diskusi hangat mengenai kesiapan sistem kesehatan dalam menghadapi ancaman zoonosis baru. Menanggapi hal tersebut, Dicky Budiman, seorang epidemiolog dari Griffith University Australia, mengingatkan masyarakat Indonesia agar meningkatkan kewaspadaan tanpa terjebak dalam pusaran kepanikan yang tidak produktif.
Mengenal Hantavirus dan Sejarah Penularannya
Hantavirus bukanlah entitas baru dalam peta patogen global. Penyakit ini merupakan kelompok virus yang ditularkan dari hewan pengerat, khususnya tikus liar, kepada manusia. Secara historis, virus ini pertama kali diidentifikasi pada tahun 1976 di Korea Selatan, tepatnya di sekitar Sungai Hantan, yang kemudian menjadi asal-usul penamaannya.
Infeksi pada manusia biasanya terjadi melalui paparan partikel virus yang berasal dari kotoran, urine, atau air liur tikus yang terinfeksi. Proses transmisi ini sering kali berlangsung melalui inhalasi atau menghirup partikel kering yang terbang di udara (aerosol), menyentuh benda yang terkontaminasi lalu memegang area wajah, hingga melalui gigitan langsung dari hewan pengerat tersebut.
"Hantavirus pertama kali ditemukan tahun 1976 di Korea Selatan, di sekitar Sungai Hantan. Virus ini ditemukan pada tikus sawah," ujar Dicky Budiman saat memberikan penjelasan mengenai latar belakang patogen tersebut.
Spektrum Penyakit: HPS dan HFRS
Dampak kesehatan yang ditimbulkan oleh hantavirus cukup signifikan dan terbagi menjadi dua sindrom utama berdasarkan organ yang diserang. Pertama adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), sebuah kondisi berat yang menyerang paru-paru dan menyebabkan sesak napas akut. Tingkat kematian akibat HPS tergolong sangat tinggi, mencapai angka 38 persen.
Kedua, virus ini dapat menyebabkan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). Penyakit ini ditandai dengan pendarahan internal yang disertai dengan gangguan fungsi ginjal hingga gagal ginjal akut. Gejala awal kedua kondisi ini sering kali menyerupai flu biasa, seperti demam tinggi, menggigil, nyeri otot ekstrem, sakit kepala, dan kelelahan hebat sebelum akhirnya memburuk dengan cepat dalam hitungan hari.
Situasi di Indonesia dan Risiko Pandemi
Berdasarkan data yang dihimpun Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) hingga April 2026, tercatat sebanyak 251 suspek kasus hantavirus di tanah air. Meskipun angka tersebut terdengar mengkhawatirkan, hasil skrining menunjukkan bahwa 88 persen dari total suspek tersebut dinyatakan negatif, sebuah indikasi bahwa deteksi dini telah berjalan namun risiko penularan tetap nyata.
Dicky Budiman menilai bahwa peluang hantavirus untuk berkembang menjadi pandemi global menyerupai COVID-19 sangatlah tipis. Perbedaan fundamental terletak pada efisiensi transmisi. Jika SARS-CoV-2 sangat efektif menular antarmanusia, hantavirus tetap memerlukan tikus sebagai reservoir utamanya untuk menyebar luas.
"Yang perlu dipahami, hantavirus itu terutama bukan menyebar dari manusia ke manusia, tetapi dari lingkungan yang terkontaminasi tikus yang terinfeksi," jelas Dicky Budiman menekankan karakteristik virus ini.
Ia menambahkan bahwa penularan antarmanusia hanya ditemukan secara sangat terbatas pada varian tertentu seperti virus Andes di Amerika Selatan, itupun hanya melalui kontak yang sangat dekat. Oleh karena itu, reservoir utama yang harus dikendalikan adalah populasi hewan pengerat.
Langkah Pencegahan dan Budaya One Health
Mengingat fatalitasnya yang tinggi, tindakan preventif menjadi kunci utama dalam memutus rantai penularan. Masyarakat dihimbau untuk memastikan rumah dan tempat ibadah bebas dari tikus. Pengelolaan sampah yang baik adalah fondasi utama agar tikus tidak bersarang dan mencari makan di lingkungan hunian.
Saat membersihkan area yang diduga terkontaminasi kotoran tikus, sangat disarankan untuk tidak menyapunya dalam kondisi kering. Penggunaan disinfektan dan metode pembersihan basah diperlukan agar partikel virus tidak beterbangan dan terhirup. Penggunaan masker dan sarung tangan menjadi protokol wajib saat membersihkan gudang atau area kotor.
"Kalau lingkungan bersih, insyaAllah tikus juga tidak suka datang. Karena tikus mencari sumber makanan dari sampah," pungkas Dicky Budiman.
Upaya ini sejalan dengan pendekatan One Health, di mana kesehatan manusia, hewan, dan kelestarian lingkungan dipandang sebagai satu kesatuan yang utuh. Menjaga sanitasi bukan sekadar urusan estetika, melainkan benteng pertahanan pertama terhadap serangan zoonosis di masa depan.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.