Wajah Baru HJKS 733: Strategi 'Night Tourism' Eri Cahyadi dan Debut Surabaya di KEN 2026

Wajah Baru HJKS 733: Strategi 'Night Tourism' Eri Cahyadi dan Debut Surabaya di KEN 2026

Lanskap pariwisata Surabaya sedang bersiap melakukan lompatan besar. Di bawah kendali Wali Kota Eri Cahyadi, perayaan Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-733 pada tahun 2026 bukan sekadar seremoni rutin. Tahun ini menandai tonggak sejarah baru saat dua agenda ikonik, Festival Rujak Uleg: Rujak-Phoria dan Surabaya Vaganza: Festival of Lights, resmi menyandang status sebagai bagian dari Kharisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Pengakuan nasional ini menjadi validasi atas konsistensi Kota Pahlawan dalam mengemas tradisi menjadi atraksi berkelas dunia. Namun, yang mencuri perhatian bukan hanya status mentereng tersebut, melainkan pergeseran radikal pada konsep pelaksanaan: semuanya akan digelar di bawah benderang lampu kota atau night tourism.

Revolusi Wisata Malam: Menjual Estetika dan Kenyamanan

Keputusan Eri Cahyadi untuk memindahkan seluruh rangkaian utama HJKS ke malam hari adalah langkah taktis yang matang. Strategi ini menjawab dua tantangan sekaligus: iklim tropis Surabaya yang menyengat di siang hari dan kebutuhan akan estetika visual yang lebih dramatis. Dengan tajuk Festival of Lights, Surabaya Vaganza bertransformasi dari sekadar parade bunga menjadi simfoni cahaya.

“Kita sengaja gelar malam hari, supaya masyarakat lebih nyaman dan bisa menikmati suasana yang berbeda. Vaganza tahun ini tampil berbeda. Selain dimeriahkan dengan berbagai instalasi bunga, juga dipadukan dengan permainan lampu,” ujar Eri Cahyadi dengan nada optimis, Kamis (30/4/2026).

Pendekatan ini menciptakan pengalaman sensorik baru bagi warga maupun pelancong. Bayangkan instalasi bunga raksasa yang berpendar, menyusuri rute bersejarah dari Jalan Pahlawan menuju Balai Kota, melintasi kawasan Bambu Runcing hingga berakhir di panggung megah Balai Pemuda. Cahaya lampu yang memantul di aspal basah dan bangunan kolonial akan memberikan atmosfer teatrikal yang sulit didapatkan di siang bolong.

Penyesuaian Jadwal: Penghormatan untuk Hari Buruh

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya juga menunjukkan kepekaan sosial dalam menyusun linimasa acara. Surabaya Vaganza yang awalnya direncanakan pada 2 Mei, digeser ke tanggal 16 Mei 2026. Penyesuaian ini dilakukan untuk menghormati momentum Hari Buruh Internasional (May Day) yang jatuh pada awal Mei.

Langkah ini memastikan bahwa energi kota tidak terbagi dan seluruh elemen masyarakat dapat menikmati perayaan dengan perasaan tenang dan nyaman. Sementara itu, Festival Rujak Uleg: Rujak-Phoria akan mengambil panggung lebih awal pada 9 Mei 2026. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang seringkali menggunakan jalanan terbuka, kali ini Surabaya Expo Center (SUBEC) dipilih sebagai pusat kemeriahan, memberikan fasilitas yang lebih modern dan tertata bagi ribuan pengulek yang akan berpartisipasi.

Membangun Ekosistem Pariwisata Lewat 'Bundling Strategy'

Ambisi Eri Cahyadi tidak berhenti pada tepuk tangan penonton. Ia ingin HJKS 733 menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang nyata. Untuk pertama kalinya, Pemkot Surabaya mengintegrasikan event dengan industri perhotelan dan agen perjalanan secara masif. Wisatawan tidak lagi hanya datang sebagai penonton pasif, tetapi masuk ke dalam ekosistem perjalanan yang terstruktur.

“Saya optimistis, seperti tahun sebelumnya, antusiasme pengunjung akan tinggi. Apalagi saat ini kami telah menjalin kerja sama dengan berbagai agen perjalanan dan hotel. Wisatawan yang menginap di hotel mitra nantinya akan mendapatkan paket bundling, termasuk tiket untuk menyaksikan kedua event tersebut,” jelasnya lebih lanjut.

Sistem bundling ini adalah kunci untuk memperpanjang durasi tinggal (length of stay) wisatawan di Surabaya. Dengan adanya tiket eksklusif dalam paket hotel, wisatawan luar kota memiliki alasan kuat untuk menetap lebih lama, yang pada gilirannya akan meningkatkan okupansi hotel dan menghidupkan sektor UMKM di sekitar lokasi acara.

Simbolisme Logo 733 dan Identitas Baru Surabaya

Logo Hari Jadi Kota Surabaya ke-733 tahun 2026 bukan sekadar angka. Ia membawa beban identitas sebagai kota yang tangguh namun adaptif. Masuknya Rujak-Phoria dan Surabaya Vaganza ke dalam kalender KEN adalah bukti bahwa Surabaya telah melampaui level lokal. Kota ini sedang memposisikan diri sebagai destinasi event nasional yang setara dengan kota-kota wisata mapan lainnya.

Dengan mengawinkan tradisi kuliner rakyat seperti Rujak Uleg dengan teknologi pencahayaan modern dalam Surabaya Vaganza, Eri Cahyadi sedang menulis ulang narasi Surabaya. Ini bukan lagi sekadar kota industri dan perdagangan yang kaku, melainkan kota metropolitan yang mampu merayakan kehidupannya di bawah gemerlap cahaya malam, sembari tetap memegang erat akar budayanya.

Perayaan HJKS 733 kali ini adalah pertaruhan besar bagi branding Surabaya. Jika sukses, model night tourism berbasis event nasional ini bisa menjadi standar baru bagi pengelolaan pariwisata perkotaan di Indonesia. Surabaya tidak hanya sedang merayakan ulang tahun, ia sedang merayakan masa depannya. (*)

Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.