KEDIRI – Yayasan Wali Barokah menunjukkan komitmen nyata dalam memperkuat tata kelola finansial berbasis syariah dengan menghadiri agenda strategis yang diinisiasi oleh Bank Syariah Indonesia (BSI). Bertajuk Gathering Sekolah Islam dan Pesantren, pertemuan ini berlangsung khidmat di Tegowangi Ballroom, Grand Surya Hotel, Kota Kediri, Jawa Timur. Fokus utama diskusi ini adalah menjembatani kebutuhan spiritual para pendidik dengan solusi perbankan modern yang transparan.
Menyeimbangkan Manajemen Pendidikan dan Kebutuhan Spiritual
Dalam agenda yang mengusung tema besar “Langkah Emas Menuju Sekolah Berhaji” tersebut, delegasi dari Pondok Pesantren (Ponpes) Wali Barokah melihat adanya urgensi bagi lembaga pendidikan Islam untuk mulai memperhatikan perencanaan masa depan para pengajarnya. Selama ini, konsentrasi pengelola pesantren sering kali terserap sepenuhnya pada pengembangan kurikulum dan infrastruktur, sehingga perencanaan ibadah personal seperti haji terkadang luput dari prioritas utama.
“Tema acara ini adalah ‘Langkah Emas Menuju Sekolah Berhaji’. Menurut saya ini sangat menginspirasi. Di tengah kesibukan mengelola pendidikan, sering kali perencanaan ibadah haji terabaikan,” ujar Humas Ponpes Wali Barokah, Asyhari Eko Prayitno.
Kehadiran instrumen keuangan yang tepat dinilai sebagai solusi konkret bagi kesejahteraan para pendidik di lingkungan pesantren. Asyhari menekankan bahwa dengan pendampingan profesional dari institusi seperti BSI, para pengurus dan pengajar kini memiliki kesempatan untuk menyusun perencanaan keuangan yang lebih terukur dan realistis untuk menunaikan rukun Islam kelima.
Sinergi Dunia Perbankan dan Ekosistem Pesantren
Kemitraan ini bukan sekadar urusan transaksional, melainkan sebuah bentuk kolaborasi antara sektor perbankan dengan kebutuhan spiritual umat. Melalui pengelolaan keuangan syariah yang terintegrasi, pesantren diharapkan mampu bertransformasi menjadi lembaga yang lebih mandiri dan berdaya saing tinggi di era modern.
“Ini adalah bentuk sinergi antara dunia perbankan dengan kebutuhan spiritual umat. Kegiatan ini sangat bermanfaat, khususnya dalam membuka wawasan pesantren terkait pengelolaan keuangan syariah yang modern dan terintegrasi,” tambah Asyhari Eko Prayitno menjelaskan visi kerja sama tersebut.
Asyhari pun menaruh harapan besar agar kolaborasi semacam ini tidak berhenti pada seremonial belaka. Ia menginginkan adanya keberlanjutan program yang mampu mendongkrak kapasitas pesantren dalam mengelola aset dan kesejahteraan internal secara lebih profesional.
BSI sebagai Mitra Strategis Finansial dan Spiritual
Menanggapi aspirasi tersebut, Manager BSI Area Kediri, Angga Wahyuda Prawiroso, menegaskan bahwa posisi BSI saat ini adalah sebagai mitra strategis yang siap mendukung ekosistem pondok pesantren. Ia mengakui bahwa tantangan terbesar saat ini adalah meningkatkan inklusi perbankan syariah di Indonesia yang sebenarnya masih menyimpan potensi pertumbuhan sangat luas.
“Kami berharap BSI dapat menjadi sahabat finansial, sahabat spiritual, sekaligus sahabat sosial bagi Bapak dan Ibu sekalian. BSI kini hadir sebagai bank syariah yang modern dengan dukungan teknologi informasi yang mumpuni, menghapus stigma bahwa bank syariah itu tradisional,” tutur Angga Wahyuda Prawiroso di hadapan para tamu undangan.
Transformasi digital yang diusung BSI kini memungkinkan urusan ibadah seperti penyaluran infak, zakat, hingga perencanaan haji dilakukan dengan lebih mudah, cepat, dan transparan. Angga memaparkan data menarik bahwa saat ini baru sekitar 5,5 juta penduduk Indonesia yang memiliki tabungan haji, sebuah angka yang masih jauh dari total populasi muslim di tanah air.
Pemilihan tema “Sekolah Berhaji” merupakan langkah taktis untuk memfasilitasi para pengelola sekolah dan pesantren agar mendapatkan akses informasi yang komprehensif. Melalui produk yang dirancang khusus, BSI berupaya mempermudah jalan bagi para pejuang pendidikan untuk bisa segera menginjakkan kaki di Baitullah.
“BSI ingin memfasilitasi sekolah dan pesantren agar para pengajar serta pengelola memiliki akses informasi dan produk yang memudahkan mereka menuju Baitullah,” tutup Angga Wahyuda Prawiroso mengakhiri pemaparannya.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.