MANOKWARI – Delegasi LDII Papua Barat secara resmi menghadiri peringatan Hari Pahlawan Nasional (HPN) ke-209, Kapitan Pattimura, yang berlangsung di RTP Borarsi, Manokwari, pada Jumat (15/5/2026). Kehadiran ini bukan sekadar seremonial, melainkan menjadi momentum krusial bagi ormas keagamaan tersebut untuk menyerukan pentingnya penguatan persatuan lintas suku dan semangat kebangsaan di Tanah Papua.
Acara yang diinisiasi oleh Ikatan Keluarga Maluku di Tanah Papua ini mengusung tema filosofis “Pattimura Penggel Katong, Pela Gandong Bikin Menang”. Melalui tema ini, para hadirin diajak kembali menyelami sejarah heroik Thomas Matulessy atau Kapitan Pattimura dalam memimpin perlawanan terhadap hegemoni penjajah Belanda pada tahun 1817 silam.
Sinergi Lintas Komponen Masyarakat
Ketua Panitia Pelaksana HPN Pattimura ke-209 Papua Barat, Johani Brian Makatita, memberikan apresiasi mendalam atas partisipasi aktif berbagai elemen masyarakat, termasuk jajaran pengurus LDII. Kehadiran berbagai pihak dipandang sebagai cerminan kohesi sosial yang kuat di wilayah Papua Barat.
“Kami mengucapkan banyak terima kasih atas kehadiran pengurus LDII. Hal ini menunjukkan komitmen untuk membangun bangsa bersama seluruh komponen masyarakat secara bersama-sama,” ujar Johani Brian Makatita saat memberikan sambutan.
Selaras dengan hal tersebut, Bupati Manokwari, Hermus Indou, menekankan bahwa warisan perjuangan pahlawan Maluku harus menjadi fondasi dalam menjaga stabilitas dan kerukunan. Beliau mengingatkan bahwa keberagaman suku harus menjadi kekuatan, bukan celah perpecahan.
“Mari terus warisi semangat ini untuk menjaga persatuan dan kesatuan di antara sesama anak-anak Maluku maupun dengan anak-anak dari suku lain,” pesan Hermus Indou kepada masyarakat yang memadati lokasi acara.
Refleksi Nilai Perjuangan Pattimura di Era Modern
Dalam kesempatan tersebut, LDII Papua Barat diwakili oleh Sekretaris DPW LDII Papua Barat, Agus Irawan, serta didampingi oleh Ketua DPD LDII Manokwari, Soleman Paputungan. Bagi LDII, nilai-nilai perjuangan Pattimura sangat relevan dengan tantangan sosial-ekonomi yang dihadapi masyarakat saat ini.
Agus Irawan menyatakan bahwa figur Kapitan Pattimura adalah simbol keberanian yang harus tetap hidup dalam sanubari generasi muda. Perjuangan melawan penindasan di masa lalu kini bertransformasi menjadi perjuangan melawan kebodohan dan ketidakadilan.
“Semangat perjuangan Kapitan Pattimura tidak boleh padam. Nilai perjuangannya mengajarkan kita untuk terus memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa di tengah berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini,” tegas Agus Irawan.
Napak Tilas Sejarah: Perlawanan Terhadap Monopoli Belanda
Peringatan ini juga menjadi ruang edukasi sejarah mengenai kiprah Kapitan Pattimura dan pahlawan nasional wanita muda, Martha Christina Tiahahu. Sejarah mencatat bahwa meletusnya Perang Pattimura pada 1817 dipicu oleh kebijakan kolonial Belanda (VOC) yang mencekik rakyat melalui monopoli perdagangan rempah dan praktik kerja paksa (rodi).
Pattimura dikenal karena kemampuannya menyatukan kekuatan rakyat hingga berhasil merebut Benteng Duurstede. Keteguhannya menolak uang kertas yang menyengsarakan dan sistem pelayaran Hongi menjadikannya ancaman besar bagi stabilitas kolonial kala itu.
Tragedi gugurnya Pattimura di tiang gantungan pada 16 Desember 1817 di depan Benteng Nieuw Victoria, Ambon, tidak lantas memadamkan api perlawanan. Semangat tersebut dilanjutkan oleh Martha Christina Tiahahu yang, meski baru berusia 17 tahun, dengan gigih memimpin pertempuran demi mempertahankan harga diri rakyat Maluku.
Glossary: Mengenal Istilah Sejarah Maluku
- Pela Gandong: Sebuah sistem persaudaraan yang diangkat antara dua atau lebih negeri (desa) di Maluku, yang melintasi batas agama maupun suku.
- Kapitan: Gelar kepemimpinan militer atau pemimpin rakyat dalam konteks sejarah perjuangan Maluku.
- Benteng Duurstede: Benteng pertahanan Belanda di Saparua yang berhasil dikuasai rakyat Maluku di bawah pimpinan Pattimura.
- Pelayaran Hongi: Patroli laut yang dilakukan oleh VOC untuk mencegah perdagangan rempah-rempah ilegal dan menegakkan monopoli.
- Rodi: Sistem kerja paksa tanpa upah yang diberlakukan pemerintah kolonial kepada penduduk lokal.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.