Penguatan Iman dan Keluarga Bahagia Lewat Pengajian Putri LDII Manokwari

  • Upaya memperkokoh ketahanan keluarga serta memperdalam pemahaman spiritual terus digalakkan oleh Dewan Pimpinan Daerah (DPD) LDII Kabupaten Manokwari melalui agenda rutin pengajian putri. Kegiatan yang mempertemukan para ibu dan remaja putri ini berlangsung khidmat di Masjid Al-Mubarok Fanindi, Manokwari, Papua Barat, pada Minggu (3/5/2026), dengan fokus utama pada penguatan rukun Islam dan etika sosial dalam kehidupan berkeluarga.

    Pendalaman Al Quran dan Esensi Ibadah

    Acara dimulai dengan sesi pengkajian Al Quran yang dipandu oleh tenaga pendidik agama yang kompeten. Fokus bahasan kali ini menitikberatkan pada implementasi Surat Al Baqarah ayat 43 dalam kehidupan sehari-hari, sebuah ayat yang menjadi fondasi bagi setiap Muslim dalam menjalankan kewajiban vertikal kepada Tuhan dan horizontal kepada sesama manusia.

    “Kita diperintah oleh Allah untuk melaksanakan salat berjamaah dan menunaikan zakat. Salat dan zakat merupakan rukun Islam yang wajib kita kerjakan sesuai dengan ketentuan dalam syariat agama,” ujar Ustadzah Heni Fitriyaningsih saat membedah makna ayat tersebut di hadapan para jamaah putri.

    Penekanan pada ibadah formal seperti salat dan zakat ini dimaksudkan agar setiap individu dalam keluarga memiliki pondasi spiritual yang tangguh. Dengan landasan agama yang kuat, diharapkan setiap anggota keluarga mampu menghadapi tantangan zaman dengan lebih bijaksana.

    Etika Menghadapi Musibah dalam Perspektif Hadits

    Selain aspek ibadah wajib, pengajian ini juga menyentuh sisi emosional dan etika seorang Muslimah saat menghadapi kedukaan. Memasuki sesi materi Al Hadits, para peserta diajak untuk memahami batasan dalam mengekspresikan kesedihan agar tidak terjebak dalam perilaku yang dilarang agama, seperti meratapi musibah secara berlebihan.

    Ustadzah Fitria Putri Wulandari, selaku penyampai materi, memberikan edukasi mengenai larangan menangisi jenazah secara histeris atau meraung-raung. Ia menegaskan bahwa meskipun menangis adalah respons manusiawi yang wajar, seorang hamba harus mampu mengedepankan sikap ikhlas dan tawakal.

    “Sesungguhnya semua dari Allah akan kembali kepada Allah. Kita doakan dengan baik semoga amal ibadahnya diterima oleh Allah,” jelas Ustadzah Fitria Putri Wulandari sembari mengajak jamaah untuk selalu mengembalikan segala urusan kepada Sang Pencipta.

    Kolaborasi Suami-Istri dalam Rumah Tangga Sakinah

    Puncak dari rangkaian pengajian ini ditutup dengan nasehat agama yang menyasar pada aspek praktis kehidupan rumah tangga. Peran strategis seorang istri dalam mendukung keberhasilan keluarga menjadi sorotan utama guna menciptakan harmoni yang berkelanjutan.

    Ketua Dewan Penasihat DPD LDII Manokwari, Abdul Azis, dalam arahannya mengingatkan bahwa kebahagiaan rumah tangga bukanlah tanggung jawab satu pihak semata, melainkan buah dari kerja sama yang sinergis antara suami dan istri. Ia menekankan pentingnya pembagian peran yang saling melengkapi dalam bingkai kasih sayang.

    “Suami yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, sedangkan istri mengurus keluarga untuk menjadikan rumah tangga yang bahagia,” ungkap Abdul Azis dalam nasehatnya.

    Menurutnya, beban pekerjaan dalam rumah tangga akan terasa jauh lebih ringan apabila dikerjakan dengan koordinasi dan komunikasi yang baik. Lebih dari sekadar urusan domestik, ia mengingatkan agar setiap aktivitas yang dilakukan di dalam rumah tangga senantiasa diniatkan sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT agar bernilai pahala.

    Mengakhiri pesannya, Abdul Azis menitipkan pesan tentang karakter istri sholehah yang menjadi kunci ketenangan batin dalam sebuah keluarga. Kesabaran dan ketaatan dalam kebaikan menjadi atribut yang harus terus dipupuk demi mencapai visi besar sebuah pernikahan.

    “Istri yang sholehah adalah yang taat pada suami dan selalu sabar. Ingat tujuan akhir rumah tangga adalah untuk bersama-sama masuk surga dan terhindar dari neraka,” pungkas Abdul Azis.

  • Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.