Ngaji Dalil Qurban, LDII Sampit Sambut Idul Adha 1447 H

Ngaji Dalil Qurban, LDII Sampit Sambut Idul Adha 1447 H

Ngaji Dalil Qurban, LDII Sampit Sambut Idul Adha 1447 H

Sampit (10/5/26). Warga LDII di Sampit mengadakan pengajian umum rutin bulan Mei 2026. Pada momentum bulan Dzulhijjah dan menjelang Idul Adha 1447 Hijriah, panitia mengangkat tema seputar ibadah qurban dan penyembelihan hewan qurban sesuai tuntunan syariat Islam.

Ketua DPD LDII Kotawaringin Timur, Dasuki, mengajak masyarakat memanfaatkan momentum Idul Adha untuk meningkatkan kepedulian sosial dan semangat beribadah melalui qurban.

“Pada Idul Qurban nanti, mari menyisihkan hartanya untuk ikut qurban. Jika tidak mampu berqurban sendiri, maka dapat ikut qurban patungan,” ajak Dasuki saat membuka acara pengajian.

Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa setiap tetes darah hewan qurban menjadi simbol cinta, kepatuhan, dan penghambaan seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Qurban bukan sekadar penyembelihan hewan, melainkan manifestasi ketakwaan, keikhlasan, dan kepasrahan total kepada Sang Pencipta.

Sejarah qurban telah dikenal sejak masa awal kehidupan manusia melalui kisah Habil dan Qabil, hingga mencapai puncak keteladanan dalam peristiwa agung Nabi Ibrahim ‘alaihis salam ketika diperintahkan mengorbankan putranya, Nabi Ismail ‘alaihis salam.

Setiap memasuki bulan Dzulhijjah, umat Islam di berbagai penjuru dunia menyambut momentum Idul Adha dengan semangat berbagi, mempererat kepedulian sosial, dan menebarkan manfaat kepada sesama.

Perintah Qurban dalam Al-Qur’an

Dalam pengajian tersebut dijelaskan bahwa ibadah qurban memiliki landasan yang kuat dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah ﷺ.

Kisah Qurban Habil dan Qabil

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ ۚ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Dan ceritakanlah (Muhammad) yang sebenarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra Adam, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka (kurban) salah seorang dari mereka berdua (Habil) diterima dan dari yang lain (Qabil) tidak diterima...”
(QS. Al-Maidah: 27)

Perintah Berqurban

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah.”
(QS. Al-Kautsar: 2)

Qurban Sebagai Syiar Allah

وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ ۖ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ

“Dan unta-unta itu Kami jadikan untukmu bagian dari syiar agama Allah, kamu banyak memperoleh kebaikan padanya...”
(QS. Al-Hajj: 36)

Hakikat Qurban Adalah Takwa

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ

“Daging dan darah hewan qurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu...”
(QS. Al-Hajj: 37)

Dalam kajian tersebut ditegaskan bahwa qurban bukan sekadar ritual penyembelihan, tetapi juga simbol penyembelihan sifat egois, cinta dunia, dan kekikiran dalam diri manusia.

Keutamaan Ibadah Qurban

Ibadah qurban memiliki keutamaan besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلًا أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ

“Tidak ada suatu amalan yang dikerjakan anak Adam pada hari raya Idul Adha yang lebih dicintai oleh Allah dari menyembelih hewan...”
(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

  • Setiap tetes darah menjadi saksi amal saleh.
  • Setiap bagian tubuh hewan menjadi pemberat amal kebaikan.
  • Qurban menjadi bentuk pendekatan diri kepada Allah.

Syarat Hewan Qurban

Pengajian juga membahas syarat hewan qurban agar ibadah yang dilakukan sah dan sesuai syariat.

Syarat Keterangan
Sehat Tidak sakit dan tidak cacat berat
Tidak Buta Tidak buta sebelah atau total
Tidak Pincang Tidak mengalami cacat kaki yang jelas
Cukup Umur Kambing minimal 1 tahun, sapi 2 tahun, unta 5 tahun

Adapun hewan yang tidak bertanduk, bertanduk kecil, dikebiri, atau memiliki satu buah zakar tetap diperbolehkan untuk qurban selama memenuhi syarat kesehatan dan kelayakan.

Tata Cara Menyembelih Sesuai Sunnah

Dalam pengajian dijelaskan bahwa penyembelihan hewan qurban harus dilakukan dengan memperhatikan adab dan kasih sayang terhadap hewan.

  • Menajamkan pisau sebelum penyembelihan.
  • Tidak memperlihatkan alat potong kepada hewan.
  • Membaringkan hewan menghadap kiblat.
  • Memotong saluran makanan, pernapasan, dan dua urat nadi.
  • Tidak menguliti sebelum hewan benar-benar mati.
  • Menyembelih di tempat terpisah dari hewan lainnya.
Qurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi juga latihan keikhlasan, kepedulian sosial, dan ketundukan total kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Momentum Menumbuhkan Kepedulian Sosial

Melalui ibadah qurban, umat Islam diajak untuk berbagi kebahagiaan kepada masyarakat, terutama kaum dhuafa dan warga yang membutuhkan.

Distribusi daging qurban bukan hanya memperkuat ukhuwah Islamiyah, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial dan membangun semangat gotong royong di tengah masyarakat.

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Maidah: 27)

Dengan memahami dalil dan hikmah qurban, warga diharapkan tidak hanya menjalankan ibadah secara ritual, tetapi juga mampu menghadirkan nilai ketakwaan, keikhlasan, dan manfaat sosial dalam kehidupan sehari-hari.