Setiap tahunnya, jutaan Muslim dari seluruh penjuru dunia membanjiri kota suci Makkah untuk menunaikan ibadah Haji dan Umrah. Fokus utama jemaah tentu tertuju pada ritual-ritual di Masjidil Haram dan situs-situs suci di sekitarnya. Namun, bagi banyak peziarah, kunjungan ini mungkin menjadi satu-satunya kesempatan seumur hidup untuk berada di tanah kelahiran Islam. Hal ini menjadikan hari-hari di luar ritual utama sebagai momen emas untuk melakukan napak tilas ke tempat-tempat yang terkait erat dengan tahun-tahun awal kenabian.
Beberapa dari situs ini memiliki keterikatan kuat dengan peristiwa turunnya wahyu serta migrasi besar atau Hijrah. Lainnya berupa pemakaman bersejarah, masjid kuno, hingga institusi budaya modern yang membantu menjelaskan tokoh, peristiwa, dan teks-teks suci yang membentuk fondasi keimanan di kota ini. Meskipun aksesnya bisa dijangkau dengan taksi atau tur warisan religi lokal, jemaah perlu memperhatikan manajemen waktu dan kondisi fisik.
"Akses ke situs-situs ini dapat bervariasi selama musim haji, sehingga pengunjung harus memeriksa panduan terbaru dan merencanakan kunjungan mereka dengan cermat," ujar otoritas setempat dalam panduan perencanaan bagi para jemaah.
Berikut adalah lima destinasi bersejarah di Makkah yang menawarkan pemahaman lebih dalam tentang sejarah Islam:
1. Jabal Al Nour dan Gua Hira
Jabal Al Nour, yang dikenal secara luas sebagai 'Gunung Cahaya', merupakan salah satu situs paling krusial di Makkah untuk memahami fajar Islam. Di dekat puncaknya, terdapat Gua Hira, tempat di mana Nabi Muhammad ﷺ diyakini menerima wahyu pertama Al-Qur'an dari Malaikat Jibril. Tradisi Islam juga mencatat bahwa sebelum masa kenabian, Rasulullah sering mengasingkan diri ke gua ini untuk melakukan kontemplasi dan refleksi mendalam.
Untuk mencapai Gua Hira, pengunjung harus melakukan pendakian yang cukup terjal. Durasi pendakian bisa memakan waktu hingga dua jam, tergantung pada tingkat kebugaran, suhu udara, dan kepadatan pengunjung. Mengingat ukuran gua yang kecil dan ruang di sekitarnya yang terbatas, antrean panjang sering terjadi pada waktu-waktu sibuk. Memulai pendakian pada dini hari sangat disarankan untuk menghindari terik matahari yang menyengat serta kerumunan massal.
Lokasi: Sekitar 4 km di timur laut Masjidil Haram.
2. Jabal Thawr dan Gua Thawr
Beranjak ke arah selatan Masjidil Haram, berdiri Jabal Thawr atau Gunung Thawr. Situs ini menjadi saksi bisu dari salah satu episode paling menentukan dalam kehidupan Nabi Muhammad ﷺ: peristiwa Hijrah atau migrasi dari Makkah ke Madinah. Di sinilah letak Gua Thawr, tempat persembunyian Nabi Muhammad ﷺ bersama sahabat setianya, Abu Bakar Shiddiq RA.
Mereka bersembunyi di sana selama tiga malam untuk menghindari pengejaran kaum Quraisy yang saat itu menguasai Makkah. Perjalanan ini menandai titik balik besar dalam sejarah awal peradaban Islam. Mirip dengan Gua Hira, Gua Thawr terletak di dekat puncak gunung dan membutuhkan pendakian curam yang memakan waktu sekitar 90 menit hingga dua jam bagi rata-rata pengunjung.
Lokasi: Selatan Makkah, sekitar 5 km dari Masjidil Haram.
3. Pemakaman Jannat Al Mualla
Dikenal juga sebagai Pemakaman Al Ma’alah, situs ini merupakan salah satu tanah pemakaman tertua di Makkah. Lokasi ini sengaja dibiarkan bersahaja dan tanpa nisan yang megah, sesuai dengan tradisi kesederhanaan. Pemakaman ini sudah ada sejak zaman pra-Islam dan memiliki kaitan erat dengan sejarah awal kota Makkah.
Tradisi Islam menghubungkan pemakaman ini dengan beberapa tokoh besar, yang paling menonjol adalah Khadijah bint Khuwaylid, istri pertama Nabi Muhammad ﷺ yang juga merupakan pendukung utama dakwah beliau. Bagi jemaah, mengunjungi Jannat Al Mualla menawarkan momen ketenangan untuk merefleksikan masa lalu Makkah yang kaya. Namun, perlu diingat bahwa akses masuk bagi pengunjung pria dan wanita seringkali diatur secara ketat, terutama saat puncak musim haji.
Lokasi: Area Al Hajun, sekitar 1 km di utara Masjidil Haram.
4. Masjid Al Bay’ah
Meski berskala sederhana, Masjid Al Bay’ah menyimpan signifikansi sejarah yang luar biasa. Namanya diambil dari kata bay’ah yang berarti sumpah setia. Masjid ini dibangun di lokasi di mana jemaah dari Yathrib (yang kemudian menjadi Madinah) memberikan Sumpah Aqabah kepada Nabi Muhammad ﷺ sebelum migrasi besar terjadi.
Perjanjian-perjanjian inilah yang membuka jalan bagi komunitas Muslim yang teraniaya di Makkah untuk pindah ke Madinah dan mendirikan komunitas Muslim pertama yang berdaulat. Lokasinya yang berada di dekat wilayah Mina dan area Jamarat membuat akses menuju masjid ini cukup menantang selama musim Haji karena pengaturan pergerakan massa yang sangat ketat. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah beberapa hari sebelum atau sesudah ritual utama haji selesai.
Lokasi: Dekat Mina dan Jembatan Jamarat, sekitar 7 km di utara Masjidil Haram.
5. Museum Al-Qur'an Al-Karim
Bagi jemaah yang mencari perspektif budaya yang lebih modern, Museum Al-Qur'an adalah destinasi terbaru dan paling aksesibel dalam daftar ini. Dibuka secara resmi pada tahun 2025, museum indoor ini didedikasikan sepenuhnya untuk sejarah turunnya wahyu, penulisan, hingga pelestarian Al-Qur'an sepanjang sejarah peradaban Islam.
Museum ini menyajikan pameran interaktif mulai dari naskah-naskah kuno (manuskrip), seni tilawah, hingga keindahan kaligrafi. Kehadiran museum ini memberikan konteks berharga bagi pengunjung dengan menghubungkan situs wahyu pertama di Gua Hira dengan sejarah panjang bagaimana teks suci tersebut dipelajari, dijaga keasliannya, dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Lokasi: Distrik Budaya Hira, tepat di kaki Jabal Al Nour, sekitar 4 km timur laut Masjidil Haram.
Glossary Istilah Sejarah
- Hijrah: Migrasi Nabi Muhammad ﷺ dan pengikutnya dari Makkah ke Madinah pada tahun 622 M untuk menghindari persekusi.
- Bay’ah: Sumpah setia atau janji kepatuhan yang diberikan kepada pemimpin dalam tradisi Islam.
- Aqabah: Nama sebuah bukit di Mina tempat terjadinya perjanjian penting antara Nabi Muhammad ﷺ dengan penduduk Madinah.
- Manuskrip: Naskah tulisan tangan kuno, dalam konteks ini merujuk pada salinan Al-Qur'an dari berbagai abad.
- Kontemplasi: Kegiatan berpikir mendalam atau merenung secara spiritual (tahannuth) yang dilakukan Nabi di Gua Hira.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.