Menjaga Warisan Harmoni, LDII Bali Gandeng Gen Z dalam Tradisi Ngejot Idul Adha

Menjaga Warisan Harmoni, LDII Bali Gandeng Gen Z dalam Tradisi Ngejot Idul Adha
  • Regenerasi Toleransi di Tanah Dewata

    DENPASAR — Langkah konkret diambil oleh warga Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Provinsi Bali dalam merawat rajutan toleransi yang telah lama terjaga di Pulau Dewata. Pada perayaan Idul Adha 2026, mereka secara khusus melibatkan generasi muda atau Gen Z untuk terjun langsung dalam tradisi Ngejot—sebuah kearifan lokal Bali berupa pembagian hidangan atau daging kurban kepada tetangga lintas agama. Upaya ini bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan strategi besar untuk mentransfer nilai-nilai kerukunan kepada para pemuda di tengah arus modernisasi.

    “Dalam rangka untuk regenerasi kami dari LDII melibatkan anak muda, apalagi anak sekarang gen Z cerdas-cerdas, kami mulai dari kepanitiaan kecil,” ujar Wakil Ketua LDII Bali, Haji Hardilan.

    Partisipasi anak muda ini dimulai dari mereka yang baru menginjak usia 14 tahun. Mereka tidak hanya ditempatkan pada posisi strategis, tetapi juga dibiasakan mengerjakan tugas-tugas lapangan yang menuntut kerja keras dan kesabaran. Mulai dari pelaksanaan shalat Id, proses penyembelihan, hingga distribusi daging kurban dilakukan dengan pengawasan para senior. Keterlibatan ini dinilai krusial agar memori kolektif mengenai indahnya berbagi tidak terputus begitu saja.

    Haji Hardilan menjelaskan bahwa anak-anak muda ini sengaja diberi tanggung jawab, termasuk dalam tugas yang sering dianggap tidak populer. Mereka belajar membersihkan jeroan sapi hingga mengemas paket daging dengan penuh semangat. Menurutnya, pengalaman langsung ini jauh lebih efektif dibandingkan sekadar teori tentang toleransi di ruang kelas. Melalui tradisi Ngejot, para pemuda belajar bahwa kebahagiaan hari raya harus dirasakan oleh seluruh lingkungan tanpa memandang sekat keyakinan.

    “Anak muda ini termasuk kami beri posisi tidak populer seperti pembersihan jeroan sapi, tapi mereka semangat, kami juga ajarkan meneruskan tradisi Ngejot yang sudah sejak zaman nenek moyang kita, dengan begini maka regenerasi tidak susah,” tambah Haji Hardilan.

    Strategi Kepemimpinan Masa Depan

    Inisiatif pelibatan Gen Z ini juga lahir dari kesadaran organisasi akan tantangan masa depan. Mencari kader yang siap memimpin lembaga di tingkat daerah bukanlah perkara mudah. Dengan membiasakan mereka mengelola acara dari skala terkecil, mental kepemimpinan dan rasa memiliki terhadap organisasi akan tumbuh secara alami. Hardilan mengamati bahwa pelajar SMP, SMA, hingga mahasiswa yang terlibat menunjukkan kemampuan manajerial yang cukup mumpuni, asalkan diberi kesempatan dan arahan yang tepat.

    Geliat Idul Adha tahun ini di lingkungan LDII Bali juga mencatatkan angka yang impresif. Sebanyak 145 ekor sapi dan 270 ekor kambing berhasil dihimpun dari seluruh pelosok Bali. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 18 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Menariknya, seluruh hewan kurban dipastikan berasal dari peternak lokal, seperti dari daerah Gianyar dan Pupuan, guna mendukung perputaran ekonomi kerakyatan di Bali.

    “Kami sebagai generasi muda yang akan menggantikan bapak-bapak kami jelas niat baik ini seperti berbagi akan kami laksanakan terus, ini semua dilibatkan jadi kami tahu prosesi dari awal menyembelih,” tegas Rhuziq, salah satu pemuda LDII yang turut aktif dalam kegiatan tersebut.

    Rhuziq mengaku tidak merasa terbebani dengan tugas-tugas yang diberikan. Baginya, bisa mengantarkan paket daging ke rumah-rumah warga non-Muslim memberikan rasa kepuasan batin tersendiri. Hal ini sejalan dengan komitmen LDII Bali untuk membagikan sekitar 10.000 paket daging kurban yang telah terjamin kesehatan dan keamanannya kepada masyarakat luas.

    Cermin Kerukunan di Mata Masyarakat

    Dampak dari tradisi yang dijaga LDII Bali ini dirasakan langsung oleh masyarakat non-Muslim di sekitar area masjid. Hubungan kekeluargaan yang terbangun bukan hanya terjadi saat hari besar, melainkan sudah menjadi bagian dari aktivitas harian yang harmonis. Solidaritas antar-umat beragama di Bali memang menjadi percontohan nasional, di mana tradisi Ngejot menjadi salah satu pilar utamanya.

    “Semuanya baik sekali di sini, malah saya suka pinjam parkiran di depan masjid boleh saja, hubungan kami baik sekali sudah seperti keluarga,” tutur Endang, seorang warga beragama Hindu yang menerima paket kurban.

    Dengan keterlibatan aktif Gen Z, masa depan toleransi di Bali tampak lebih cerah. Tradisi Ngejot yang diwariskan dari generasi ke generasi memastikan bahwa perbedaan keyakinan tidak akan pernah menjadi penghalang bagi rasa kemanusiaan. Umat Muslim di Bali membuktikan bahwa menjalankan syariat agama dapat berjalan beriringan dengan pelestarian budaya lokal, menciptakan harmoni yang abadi di Tanah Dewata.

    📚 Glossary: Mengenal Istilah dalam Artikel

    • Ngejot: Tradisi khas masyarakat Bali berupa kegiatan berbagi makanan, hidangan, atau hasil bumi kepada tetangga dan kerabat, biasanya dilakukan saat hari raya sebagai bentuk penghormatan dan kasih sayang lintas agama.
    • Gen Z: Kelompok generasi yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, yang dikenal sangat akrab dengan teknologi digital dan memiliki karakteristik pemikiran yang kritis serta kreatif.
    • LDII: Lembaga Dakwah Islam Indonesia, organisasi kemasyarakatan berbasis Islam yang aktif dalam kegiatan dakwah, sosial, dan penguatan nilai-nilai kebangsaan.
    • Regenerasi: Proses pergantian generasi tua kepada generasi muda dalam sebuah struktur organisasi atau pewarisan nilai-nilai budaya.
    • Jeroan: Bagian dalam tubuh hewan ternak (seperti hati, lambung, usus) yang dalam proses kurban memerlukan teknik pembersihan khusus sebelum dikonsumsi.
  • Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.