Esensi Keadilan Ilahi dan Pengakuan Diri
Dalam perjalanan spiritual seorang hamba menuju Sang Pencipta, terdapat satu cahaya benderang yang seringkali luput dari perhatian: kesadaran bahwa Allah SWT tidak pernah sedikit pun berlaku zalim kepada hamba-Nya. Justru, manusialah yang kerap terjerembab dalam kezaliman terhadap dirinya sendiri melalui tindakan dan kelalaian. Faidzunal A. Abdillah, seorang pemerhati sosial dan warga LDII yang menetap di Serpong, Tangerang Selatan, menyoroti fenomena batin ini sebagai kunci pembuka pintu rahmat Tuhan.
Prinsip keadilan absolut ini tertuang dalam firman-Nya di Al-Qur'an Surat Fussilat ayat 46 yang menegaskan:
“Dan Tuhanmu tidaklah menzalimi hamba-hamba-Nya.”
Hal senada dipertegas dalam Surat Yunus ayat 44, yang menyatakan bahwa Allah tidak menzalimi manusia sedikit pun, melainkan manusialah yang menzalimi diri mereka sendiri. Kesempurnaan keadilan ini bahkan diikrarkan oleh Allah dalam sebuah Hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.
“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku, dan Aku jadikan ia haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi,” ujar Rasulullah ﷺ saat meriwayatkan firman Allah tersebut.
Adab Para Nabi: Mengakui Tanpa Mencari Alasan
Menarik untuk memperhatikan bagaimana para manusia pilihan, yakni para nabi, berinteraksi dengan kesalahan. Mereka tidak pernah menyalahkan takdir, lingkungan, apalagi godaan setan sebagai tameng pembelaan diri. Sebaliknya, mereka menunjukkan adab yang sangat luhur dengan menyandarkan setiap kekhilafan kepada diri mereka sendiri.
Nabi Adam AS, sebagai manusia pertama, memberikan teladan abadi saat tergelincir di surga. Beliau tidak menyalahkan keadaan, melainkan bersimpuh dengan doa yang menggetarkan arsy:
“Wahai Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi,” tutur Nabi Adam AS sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur'an.
Langkah serupa diambil oleh Nabi Musa AS setelah insiden tak sengaja yang menewaskan seorang warga Qibthi. Tanpa retorika pembelaan yang berbelit-belit, beliau langsung mengakui dosanya di hadapan Rabb.
“Ia (Musa) berkata: ‘Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku,’” ujar Nabi Musa AS dalam penyesalannya yang mendalam.
Kejujuran ini membuahkan hasil instan; Allah langsung mengampuninya karena Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ini menunjukkan sebuah 'sunnatullah' dalam bertaubat: pengakuan yang tulus adalah prasyarat turunnya ampunan.
Kegelapan yang Terang oleh Pengakuan
Kisah Nabi Yunus AS di dalam perut ikan juga menjadi monumen pengakuan diri yang legendaris. Di tengah kegelapan berlapis—malam, lautan, dan perut ikan—beliau tidak mengeluh atas nasibnya, melainkan menggaungkan kalimat tauhid yang dibalut pengakuan dosa.
“Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim,” pinta Nabi Yunus AS.
Jika kita merenung lebih dalam, para nabi besar mulai dari Adam, Musa, hingga Yunus semuanya menggunakan terminologi yang serupa, yakni mengakui bahwa diri mereka telah zalim. Hal ini mengajarkan sebuah prinsip universal bahwa kesalahan sebenarnya tidak menghalangi kedekatan seorang hamba dengan Allah. Justru, kesombongan untuk mengakui kesalahan itulah yang menjadi hijab atau penghalang utama.
Warisan Rasulullah ﷺ bagi Umat Akhir Zaman
Nabi Muhammad ﷺ sebagai penutup para nabi pun tetap mengajarkan umatnya untuk senantiasa rendah hati di hadapan Allah. Melalui riwayat Bukhari dan Muslim, beliau mengajarkan sebuah doa yang sarat akan pengakuan kelemahan diri.
“Ya Allah, sungguh aku telah menzalimi diriku dengan kezaliman yang banyak, dan tidak ada yang mengampuni dosa selain Engkau. Maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” demikian Rasulullah ﷺ mengajarkan.
Para ulama salaf, termasuk Sufyan Ats-Tsauri, seringkali mengingatkan bahwa bahaya terbesar bagi seorang hamba adalah ketika ia merasa dirinya tidak bersalah. Ketika seseorang sibuk menyalahkan keadaan atau takdir, saat itulah pintu rahmat seolah tertutup oleh ego yang tinggi. Namun, ketika kalimat "Aku yang zalim" terucap dengan tulus, pintu langit seolah terbuka lebar untuk memberikan pengampunan.
Kesalehan sejati tidak dimulai dari rasa tanpa dosa, melainkan dari keberanian untuk merendahkan diri dan mengakui bahwa jalan pulang hanya bisa ditemukan melalui kejujuran batin. Seperti yang dicontohkan para nabi, awal dari segala kebaikan adalah satu kalimat jujur: “Allahumma inni zalamtu nafsi...”—Ya Allah, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.