LDII Papua Barat Bekali Warga Teluk Bintuni Keterampilan Pemulasaran Jenazah Sesuai Syariat Islam

LDII Papua Barat Bekali Warga Teluk Bintuni Keterampilan Pemulasaran Jenazah Sesuai Syariat Islam

Biro Pendidikan Keagamaan dan Dakwah (PKD) Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) LDII Papua Barat menggelar pelatihan intensif peramutan jenazah bagi warga di Kabupaten Teluk Bintuni. Kegiatan yang berlangsung di Masjid Baitul Izza, Teluk Bintuni, pada Sabtu (19/4/2026) ini bertujuan untuk memperdalam literasi keagamaan warga terkait tata cara penanganan jenazah yang presisi dan sesuai dengan tuntunan syariat Islam.

Urgensi Kesiapan Menghadapi Musibah Kematian

Pelatihan ini dipandu langsung oleh dua instruktur berpengalaman dari Biro PKD DPW LDII Papua Barat, yakni Ust. M. Cholid Hidayat Habibulloh dan Ust. Edi Susilo. Dalam pemaparannya, Ust. Cholid menekankan bahwa kematian adalah sebuah keniscayaan yang datangnya tidak terduga, sehingga setiap komunitas Muslim wajib memiliki personil yang kompeten dalam mengurus jenazah.

"Musibah kematian datangnya sewaktu-waktu dan kita harus siap untuk bisa meramut jenazah. Untuk itu LDII berkewajiban memberikan pemahaman teknis pelaksanaan peramutan jenazah kepada seluruh warga LDII," ujar Ust. M. Cholid Hidayat Habibulloh.

Ia menjabarkan bahwa prosesi peramutan dimulai sejak kabar duka diterima. Langkah awal yang krusial adalah koordinasi antara pengurus organisasi dan pihak keluarga melalui musyawarah guna menentukan lokasi pemandian serta tempat pemakaman. Simbol duka seperti pemasangan bendera putih juga dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan undangan bagi warga sekitar untuk bertakziah.

"Bendera kain putih dipasang untuk menyatakan turut berbelasungkawa dan menghormati jenazah dengan datang dan salat jenazah. Pahala menyalati jenazah dan mengantar ke kuburan berpahala dua qirat," terang Ust. Cholid saat menjelaskan nilai ibadah di balik pengurusan jenazah.

Manajemen Pembagian Tugas dan Protokol Kebersihan

Demi efektivitas kerja di lapangan, tim pelaksana biasanya dibagi menjadi dua kelompok besar: kelompok yang bertanggung jawab meramut jenazah dan kelompok penggali kubur. Kelompok peramut memiliki tugas mendalam dalam menyiapkan seluruh perlengkapan mulai dari air, sabun, hingga kain kafan.

Aspek privasi dan kehormatan jenazah menjadi perhatian utama dalam pelatihan ini. Ust. Cholid menegaskan bahwa proses memandikan wajib dilakukan di ruang tertutup dengan memperhatikan batasan gender. Jenazah perempuan harus ditangani oleh perempuan, begitu pula sebaliknya bagi laki-laki.

"Memandikan jenazah dilakukan di ruang tertutup. Jenazah perempuan dimandikan oleh perempuan dan jenazah laki-laki dimandikan oleh laki-laki," ungkap Ust. Cholid secara lugas.

Teknis pembersihan dimulai dari menghilangkan segala kotoran atau najis secara teliti. Setelahnya, jenazah disiram dari kepala hingga kaki secara merata menggunakan sabun. Protokol pembersihan ini melibatkan posisi miring ke kanan dan ke kiri untuk memastikan seluruh bagian tubuh terkena air.

"Hal itu dilakukan sebanyak dua kali, ketiga kali dibasuh dan disiram dengan air tawas. Dalam memandikan jenazah sebaiknya tetap dalam keadaan ditutup kain. Jenazah dikeringkan dengan lap kain atau handuk," jelas Ust. Cholid mengenai detail pensucian.

Proses Mengkafani dan Penghormatan Terakhir

Setelah dipastikan suci dan kering, jenazah dipindahkan ke atas kain kafan yang telah disiapkan sebanyak tiga lapis, disesuaikan dengan dimensi fisik almarhum atau almarhumah. Proses membungkus dilakukan dengan teknik melipat dari sisi kanan dan kiri secara bergantian.

"Membungkus jenazah dilakukan dari kanan dan kiri. Posisi tangan sedekap seperti sedang salat dan kaki lurus rapat, bisa diikat dengan tali kain kafan. Kain kafan dengan ukuran yang ada dipotong sebanyak enam potong, masing-masing untuk membungkus dan sebagai tali," tutur Ust. Cholid mendetailkan teknik pembungkusan.

Bersamaan dengan proses tersebut, tim penggali kubur menyelesaikan persiapan liang lahat termasuk penyediaan papan pengalas. Usai dikafani, jenazah segera disalatkan dan diberangkatkan menuju pemakaman sesuai waktu yang telah disepakati bersama pihak keluarga.

Ust. Cholid juga memberikan panduan mengenai peran laki-laki dan perempuan dalam prosesi pemakaman. Laki-laki sangat dianjurkan untuk mengantar jenazah hingga ke liang lahat, sementara kaum perempuan dapat berperan dalam mendukung logistik di rumah duka atau menyambut para pelayat.

"Laki-laki supaya bisa mengantar ke kuburan, sedangkan untuk perempuan menunggu di rumah atau menyiapkan hidangan bagi yang meramut jenazah atau mereka yang takziah. Di lokasi kuburan, jenazah didoakan dengan tuntunan doa jenazah dan tidak perlu diadzani," pungkas Ust. Cholid menutup rangkaian instruksinya.

Melalui inisiatif edukasi ini, LDII Papua Barat menaruh harapan besar agar setiap warga memiliki kemandirian dan keterampilan yang mumpuni dalam melaksanakan kewajiban fardu kifayah ini secara benar dan khidmat di lingkungan mereka masing-masing.

Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.