BUKITTINGGI – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) LDII Kota Bukittinggi sukses menyelenggarakan rangkaian ibadah Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah yang dipusatkan di Musholla Al Faqih, Bukittinggi, Sumatera Barat, pada Selasa (27/5). Dalam momentum sakral ini, warga LDII setempat menunjukkan dedikasi spiritualnya melalui penyembelihan 9 ekor sapi dan 5 ekor kambing, dengan pengawasan ketat terhadap standar kesehatan pangan bagi masyarakat.
Manifestasi Ketakwaan dan Kepedulian Sosial
Kegiatan tahunan ini bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan simbol penguatan kohesi sosial di tengah masyarakat. Ketua DPD LDII Kota Bukittinggi, H. Sarjayadi, menegaskan bahwa semangat berkurban merupakan refleksi dari rasa syukur dan keikhlasan yang mendalam.
“Alhamdulillah pada tahun ini warga LDII Bukittinggi bisa mewujudkan ibadah kurban dengan jumlah 9 ekor sapi dan 5 ekor kambing,” ujar H. Sarjayadi saat meninjau proses penyembelihan.
Beliau menambahkan bahwa kurban adalah jembatan untuk mempererat solidaritas, mengikuti teladan pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Di tengah dinamika ekonomi yang penuh tantangan, antusiasme warga ternyata tidak surut. Hal ini membuktikan bahwa nilai spiritualitas tetap menjadi prioritas utama bagi komunitas LDII di Bukittinggi.
“Kurban merupakan momentum untuk meningkatkan rasa syukur, keikhlasan, dan solidaritas antar sesama, sebagaimana teladan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS,” tutur H. Sarjayadi kembali menekankan esensi ibadah tersebut.
Tradisi Menabung Kurban Sejak Usia Dini
Salah satu kunci konsistensi LDII dalam berkurban setiap tahunnya adalah budaya kemandirian ekonomi melalui menabung. Strategi ini diterapkan secara sistematis kepada seluruh jenjang usia, mulai dari anak-anak hingga lansia.
Wakil Ketua LDII Bukittinggi, Taufik Hidayat, mengungkapkan bahwa pendidikan mengenai pengorbanan ini telah ditanamkan sejak dini melalui program pembinaan generasi muda atau yang akrab disapa kelompok 'Cabe Rawit'.
“Warga LDII Bukittinggi sudah terbiasa menabung sejak usia PAUD atau cabe rawit sampai usia lanjut setiap harinya untuk perwujudan ibadah kurban setiap tahunnya,” ungkap Taufik Hidayat.
Jaminan Kesehatan Pangan dan Sinergi Pemerintah
Aspek higienis dan kesehatan daging menjadi fokus krusial dalam pelaksanaan kurban tahun ini. LDII Bukittinggi bersinergi dengan Dinas Pertanian dan Pangan Bukittinggi untuk memastikan seluruh hewan kurban memenuhi kriteria aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH).
Drh. Tri Nola Mayasari terjun langsung melakukan pemeriksaan fisik hewan sebelum dipotong (ante-mortem) serta pemeriksaan daging dan organ dalam setelah pemotongan (post-mortem). Langkah proaktif ini diambil untuk menjamin tidak adanya penyakit yang menular melalui konsumsi daging.
“Tidak hanya dalam orientasi ibadah saja, tetapi dalam hal kesehatan pangan LDII Bukittinggi juga mengambil bagian peran sebagai bentuk pengabdian kepada warga dan masyarakat,” jelas drh. Tri Nola Mayasari.
Secara teknis, penyerahan sampel daging kurban dilakukan oleh Nurfitriyenny, yang merupakan pengurus Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga (PPK) DPD LDII Kota Bukittinggi. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa organisasi sangat memperhatikan standar kesehatan pangan demi keselamatan konsumen luas.
Melalui koordinasi yang rapi, proses penyembelihan hingga distribusi daging kurban berjalan dengan tertib, memadukan ketaatan syariat Islam dengan disiplin protokol kesehatan masyarakat.
Glossary Lengkap Kegiatan Kurban LDII
- DPD LDII: Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Dakwah Islam Indonesia, struktur organisasi di tingkat kota/kabupaten.
- Cabe Rawit: Istilah pembinaan untuk anak-anak usia dini (PAUD/TK hingga SD kelas bawah) di lingkungan LDII.
- ASUH: Singkatan dari Aman, Sehat, Utuh, dan Halal; merupakan standar kualitas pangan hasil ternak.
- Ante-Mortem: Pemeriksaan kesehatan hewan yang dilakukan sebelum hewan disembelih.
- Post-Mortem: Pemeriksaan kesehatan organ dan daging hewan yang dilakukan setelah penyembelihan.
- PPK: Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga, salah satu bidang dalam struktur organisasi LDII yang fokus pada urusan rumah tangga dan kesehatan keluarga.
- Kohesi Sosial: Tingkat keterikatan dan solidaritas antar anggota masyarakat.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.