LDII Banyuwangi Salurkan Hewan Kurban Senilai Rp5,5 Miliar, Perkuat Solidaritas Sosial di Iduladha 2026

LDII Banyuwangi Salurkan Hewan Kurban Senilai Rp5,5 Miliar, Perkuat Solidaritas Sosial di Iduladha 2026
  • BANYUWANGI – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kabupaten Banyuwangi kembali menunjukkan aksi nyata dalam kontribusi sosial pada perayaan Iduladha 1447 H yang jatuh pada tahun 2026 ini. Tidak tanggung-tanggung, organisasi dakwah ini menyalurkan sebanyak 494 ekor hewan kurban yang terdiri dari 245 ekor sapi dan 275 ekor kambing dengan nilai ekonomi diperkirakan mencapai Rp5,5 miliar.

    Semangat Gotong Royong dan Partisipasi Warga

    Ratusan hewan kurban tersebut disembelih dan didistribusikan secara serentak di berbagai titik strategis, termasuk masjid-masjid dan pondok pesantren yang berada di bawah pengelolaan LDII Banyuwangi. Langkah masif ini merupakan refleksi dari tingginya kesadaran warga LDII dalam menjalankan syariat Islam sekaligus memperkuat ikatan silaturahmi dengan masyarakat luas.

    Sekretaris DPD LDII Banyuwangi, Kris Parwanto, S.Sos., menekankan bahwa angka tersebut lahir dari kekuatan kemandirian dan semangat berbagi yang dikelola secara kolektif. Ia menyebutkan bahwa LDII di Bumi Blambangan saat ini membawahi puluhan majelis taklim yang menjadi basis pengumpulan hewan kurban.

    “LDII Banyuwangi memiliki 75 majelis taklim, PC, PAC dan mengelola tiga pondok pesantren. Kami sangat bersyukur karena tahun ini warga LDII semakin semangat di dalam berbagi dan menyalurkan hewan kurban. Melalui ikhlas berbagi, ikhlas berkurban semangat bergotong royong ini, terkumpul 245 ekor sapi serta 275 ekor kambing dengan nilai total mencapai Rp 5,5 miliar,” ujar Kris Parwanto.

    Ibadah Kurban sebagai Manifestasi Solidaritas

    Ketua DPD LDII Kabupaten Banyuwangi, Ir. Heri Sujatmiko, M.T., IPM., menyoroti bahwa ibadah kurban tahun ini memiliki esensi yang jauh lebih dalam daripada sekadar ritual tahunan. Di tengah fluktuasi ekonomi global yang dinamis, kemampuan warga untuk tetap berkurban menunjukkan resiliensi sosial yang luar biasa. Ia mengedepankan prinsip "Tandang Bareng" atau bekerja bersama-sama sebagai motor penggerak kerukunan masyarakat.

    “Kurban bukan sekadar ritual ibadah, melainkan manifestasi dari solidaritas sosial. Di tengah dinamika ekonomi saat ini, semangat untuk peduli dan berbagi menjadi kunci untuk menjaga kerukunan dan kebersamaan di tengah masyarakat kita,” kata Heri Sujatmiko.

    Heri juga memberikan edukasi mengenai cara cerdas warga dalam mempersiapkan kurban. Menurutnya, perencanaan keuangan menjadi pondasi utama agar ibadah ini tidak terasa berat, seperti menyisihkan dana secara berkala sejak awal tahun, menggunakan sistem kolektif (patungan) untuk sapi, hingga pilihan kurban kambing perorangan yang lebih fleksibel bagi berbagai lapisan ekonomi.

    Standar ASUH dan Distribusi Door to Door

    Aspek kesehatan dan higienitas menjadi prioritas utama LDII Banyuwangi dalam prosesi tahun ini. Jauh sebelum hari penyembelihan, panitia kurban telah dibekali pelatihan teknis dari Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Banyuwangi. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa daging yang dihasilkan memenuhi standar ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal).

    Seluruh proses, mulai dari pemilihan hewan hingga sanitasi lokasi pemotongan, dipantau secara ketat. Hal ini tidak hanya berkaitan dengan ketaatan terhadap syariat, tetapi juga tanggung jawab terhadap kesehatan publik. Inovasi juga dilakukan pada metode pembagian daging guna memberikan kenyamanan maksimal bagi penerima manfaat.

    “Selanjutnya, paket-paket daging kurban dikirimkan secara langsung ke rumah-rumah warga (door to door) yang membutuhkan untuk menghindari kerumunan massal. Distribusi inklusif ini menyasar masyarakat luas di sekitar lingkungan masjid, para santri di pondok pesantren, hingga warga di wilayah tingkatan PC dan PAC majelis ta'lim di seputaran Kabupaten Banyuwangi,” tutur Heri Sujatmiko.

    Langkah distribusi langsung ini diharapkan mampu menyentuh lapisan masyarakat paling membutuhkan dengan cara yang lebih bermartabat dan efisien, sekaligus mempertegas posisi LDII sebagai organisasi yang inklusif dan peduli terhadap kemaslahatan umat.

    Glossary Istilah Berita

    • DPD: Dewan Pimpinan Daerah, struktur organisasi di tingkat kabupaten/kota.
    • PC & PAC: Pimpinan Cabang (tingkat kecamatan) dan Pimpinan Anak Cabang (tingkat desa/kelurahan).
    • ASUH: Standar kesehatan daging yang merupakan singkatan dari Aman, Sehat, Utuh, dan Halal.
    • Tandang Bareng: Istilah lokal yang bermakna mengerjakan sesuatu secara bersama-sama atau gotong royong.
    • Inklusif: Bersifat terbuka dan menjangkau semua kalangan tanpa membeda-bedakan.
  • Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.