Ketum DPP LDII Tekankan Pentingnya Tiga Dimensi Ukhuwah demi Menjaga Keutuhan NKRI

Ketum DPP LDII Tekankan Pentingnya Tiga Dimensi Ukhuwah demi Menjaga Keutuhan NKRI
  • Mempererat Simpul Kebangsaan Melalui Trilogi Persaudaraan

    Ketua Umum DPP LDII, Dody Taufiq Wijaya, melayangkan ajakan krusial kepada seluruh warga LDII untuk memperkokoh semangat ukhuwah atau persaudaraan sebagai fondasi utama menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pesan ini disampaikan dengan tegas saat beliau hadir sebagai pembicara kunci dalam agenda bertajuk “Silaturahim Kebangsaan LDII Lampung” yang digelar di Gedung Serba Guna (GSG) DPW LDII Lampung pada Kamis, 14 Mei 2026.

    Dalam orasi kebangsaannya, Dody menjabarkan bahwa ukhuwah tidak boleh dipandang secara sempit, melainkan harus mencakup tiga dimensi fundamental yang saling berkaitan. Ketiga aspek tersebut menjadi kunci dalam menghadapi dinamika sosial di tengah masyarakat yang majemuk.

    “Ukhuwah Islamiyah memperkuat solidaritas umat. Ukhuwah wathaniyah mempererat persaudaraan lintas suku dan agama. Ukhuwah basyariyah menumbuhkan kepeduliaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan,” ujar Dody Taufiq Wijaya di hadapan para peserta.

    Menurut Dody, harmonisasi ketiga dimensi persaudaraan ini merupakan syarat mutlak bagi terciptanya kohesi sosial yang tangguh. Dengan landasan persaudaraan yang kuat, masyarakat tidak sekadar hidup berdampingan secara fisik, namun juga membangun ikatan emosional yang sehat.

    “Masyarakat tidak hanya akan hidup berdampingan, tetapi juga dapat saling mempercayai dan tolong-menolong,” tutur Dody menambahkan.

    Empat Pilar Sebagai Nafas Kehidupan Berbangsa

    Lebih lanjut, Dody menggarisbawahi bahwa masa depan Indonesia tidak hanya bergantung pada kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Jauh lebih penting dari itu, daya tahan bangsa justru terletak pada kemampuan kolektif untuk merawat harmoni sosial dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan.

    Ia menekankan bahwa Empat Pilar Kebangsaan—Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945—harus diimplementasikan secara nyata dalam perilaku sehari-hari, bukan sekadar menjadi pemanis pidato atau simbol tanpa makna.

    “Empat pilar kebangsaan harus terus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya menjadi slogan atau retorika belaka,” tegas Dody.

    Sinergi visi kebangsaan ini juga diperkuat oleh kehadiran perwakilan TNI. Pabandya Komsos Kodam XXI/Radin Inten, Letkol Infanteri Angki Setiadi, turut menyampaikan perspektifnya mengenai kemajemukan Indonesia. Ia memandang keberagaman budaya, suku, dan adat istiadat sebagai aset strategis bangsa.

    “Kemajemukan tersebut harus terus dijadikan kekuatan untuk mempererat persatuan, bukan menjadi sumber perpecahan,” ungkap Letkol Infanteri Angki Setiadi.

    Menanamkan Nilai Bela Negara di Tengah Tantangan Modern

    Dalam kesempatan tersebut, Letkol Inf Angki juga menguraikan lima nilai dasar bela negara yang wajib diinternalisasi oleh setiap warga negara. Nilai-nilai tersebut meliputi cinta tanah air, kesadaran berbangsa dan bernegara, kesetiaan kepada ideologi negara, rela berkorban, serta kepemilikan kemampuan dasar bela negara.

    Cinta tanah air, menurutnya, dapat dimulai dari hal sederhana namun mendalam, yakni menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas sebagai bangsa Indonesia dan selalu mendahulukan kepentingan kolektif.

    “Hargai perbedaan dan dahulukan kepentingan bangsa, di atas kepentingan pribadi ataupun golongan,” pungkas Letkol Inf Angki.

    Sebagai penutup yang penuh urgensi, Letkol Inf Angki mengingatkan bahwa Indonesia saat ini sedang dikepung oleh berbagai tantangan kontemporer yang berpotensi menggerus jati diri bangsa. Mulai dari infiltrasi budaya asing yang tidak tersaring, penyalahgunaan teknologi informasi, ancaman radikalisme, hingga fenomena degradasi rasa nasionalisme di kalangan generasi muda.

    Langkah preventif yang paling efektif adalah dengan memperkuat nilai-nilai bela negara. Hal ini diharapkan mampu mencetak pribadi yang tidak hanya disiplin dan bertanggung jawab, tetapi juga memiliki integritas tinggi serta jiwa nasionalisme yang tak tergoyahkan demi kelangsungan bangsa ke depan.

    Glossary: Memahami Istilah Kebangsaan

    • Ukhuwah Islamiyah: Persaudaraan sesama pemeluk agama Islam yang didasari oleh kesamaan akidah.
    • Ukhuwah Wathaniyah: Persaudaraan dalam ikatan kebangsaan tanpa memandang perbedaan agama, suku, maupun ras.
    • Ukhuwah Basyariyah: Persaudaraan kemanusiaan yang bersifat universal antar sesama umat manusia di seluruh dunia.
    • Kohesi Sosial: Ikatan atau rasa kebersamaan dalam masyarakat yang membuat individu mau bekerja sama demi kesejahteraan bersama.
    • Radikalisme: Paham atau aliran yang menginginkan perubahan sosial atau politik secara drastis dengan cara kekerasan atau tindakan ekstrem.
  • Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.