TARAKAN – Dalam upaya proaktif memagari generasi muda dari degradasi moral, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Tarakan melakukan kunjungan kerja strategis ke Yayasan Nurhasan Insan Mulia pada Selasa (7/5). Pertemuan yang berlangsung di kompleks pendidikan Kelurahan Karang Anyar ini bertujuan untuk memantau efektivitas lembaga pendidikan berbasis karakter serta mempererat tali silaturahmi antara pemerintah daerah dengan organisasi kemasyarakatan.
Sinergi Pemerintah dan Lembaga Pendidikan
Langkah Kesbangpol ini bukan sekadar kunjungan rutin biasa. Rombongan yang dipimpin oleh Syahril Alamsyah, mewakili Kepala Kesbangpol Kota Tarakan, hadir untuk memetakan peran nyata yayasan dalam mendukung stabilitas sosial melalui jalur edukasi. Kehadiran jajaran struktural pemerintah daerah tersebut disambut langsung oleh Ketua Yayasan Nurhasan Insan Mulia, H. Jaet Ahmad Fatoni, bersama jajaran pengurus lainnya.
Dalam dialog yang berlangsung hangat, Syahril Alamsyah menekankan bahwa pemerintah daerah menaruh perhatian besar terhadap lembaga-lembaga yang konsisten membina sumber daya manusia. Ia menilai kolaborasi antara pemerintah dan sektor pendidikan non-pemerintah menjadi kunci utama dalam menjaga kondusivitas kota di tengah dinamika zaman.
"Kami mengapresiasi kontribusi Yayasan Nurhasan Insan Mulia yang telah berperan aktif dalam dunia pendidikan di Tarakan. Sinergi antara pemerintah dan lembaga pendidikan sangat penting untuk menjaga kondusivitas serta kemajuan kota," ujar Syahril Alamsyah saat memberikan sambutan.
Integrasi Kurikulum Akademik dan Budi Pekerti
Yayasan Nurhasan Insan Mulia sendiri kini telah bertransformasi menjadi salah satu pilar pendidikan yang komprehensif di Tarakan. Di bawah kepemimpinan H. Jaet Ahmad Fatoni, yayasan ini menaungi berbagai jenjang pendidikan, mulai dari Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), hingga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Keunggulan yang ditawarkan bukan hanya pada aspek teknis akademik, melainkan pada penguatan spiritual siswa.
H. Jaet Ahmad Fatoni memaparkan bahwa pihaknya sengaja mendesain kurikulum yang menyeimbangkan standar nasional dengan pendidikan karakter non-formal. Siswa tidak hanya dituntut menguasai literasi dan numerasi, tetapi juga wajib mendalami pemahaman agama yang mendalam sebagai bekal etika di masyarakat.
"Tujuan utama kami adalah mencetak generasi yang cerdas secara akademik namun tetap memiliki karakter luhur. Di sini, para siswa dibekali pemahaman agama dan budi pekerti sebagai fondasi untuk menjadi generasi penerus bangsa yang tangguh dan berakhlak mulia," jelas H. Jaet Ahmad Fatoni.
Pertemuan tersebut diakhiri dengan peninjauan langsung terhadap fasilitas sekolah serta diskusi mendalam mengenai program pembinaan kepemudaan. Langkah ini diharapkan mampu membentengi para pelajar di Tarakan dari berbagai pengaruh negatif global serta menanamkan rasa nasionalisme yang kokoh sejak dini.
Melalui kolaborasi ini, nampak jelas adanya komitmen bersama untuk memastikan bahwa kemajuan teknologi dan akademik tetap berjalan beriringan dengan nilai-nilai moralitas yang menjadi jati diri bangsa.
| Kategori | Keterangan Detail |
|---|---|
| Narasumber Utama | Syahril Alamsyah (Kesbangpol) & H. Jaet Ahmad Fatoni (Yayasan) |
| Lokasi Kegiatan | Kelurahan Karang Anyar, Kota Tarakan, Kalimantan Utara |
| Fokus Utama | Penguatan Pendidikan Karakter Bangsa dan Sinergi Ormas-Pemerintah |
| Cakupan Pendidikan | TK, SD, dan SMK Nurhasan Insan Mulia |
| Target Output | Generasi Profesional-Religius dan Kondusivitas Wilayah |
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.