MINA, Arab Saudi — Jutaan jamaah haji memadati kompleks Jamarat di Mina pada Rabu (27/5/2026) untuk melaksanakan ritual lempar jumrah sebagai simbol perlawanan terhadap setan. Ritual fisik yang menguras energi ini dilakukan di bawah paparan suhu ekstrem yang melonjak hingga melampaui 42 derajat Celcius (107 derajat Fahrenheit). Momentum ini bertepatan dengan dimulainya hari raya Idul Adha yang dirayakan umat Islam di seluruh dunia, meskipun di beberapa wilayah konflik seperti Gaza dan Lebanon, suasana kemenangan ini harus berselimut duka dan keterbatasan.
Gema takbir "Allahu akbar" terus berkumandang saat para jamaah melemparkan kerikil ke tiang-tiang beton yang melambangkan godaan iblis. Bagi para peziarah, tindakan ini bukan sekadar tradisi, melainkan bentuk pernyataan sikap untuk menolak kejahatan dan mengenang keteguhan Nabi Ibrahim saat menghadapi godaan setan. Ritual ini merupakan salah satu tahapan krusial dalam ibadah haji, yang menuntut ketahanan fisik luar biasa di tengah cuaca gurun yang menyengat.
Perjuangan Melawan Terik Matahari
Kondisi cuaca yang sangat panas menjadi tantangan utama tahun ini. Banyak jamaah yang terlihat menyiramkan air ke kepala mereka untuk meredakan panas, sementara ribuan lainnya berlindung di balik payung warna-warni. Otoritas kesehatan Arab Saudi terus memberikan peringatan keras melalui berbagai saluran komunikasi mengenai pentingnya menjaga hidrasi dan meminimalkan paparan langsung sinar matahari.
"Saya melihat ritual lempar jumrah ini sebagai simbol perjuangan melawan pergulatan pribadi. Saya merasa seperti sedang melemparkan batu ke arah iblis yang ada dalam diri saya sendiri," ujar Aamar Shakur, seorang jamaah asal Pakistan.
Gelombang jamaah bergerak secara sistematis dari Muzdalifah menuju Mina setelah sebelumnya menghabiskan waktu seharian untuk berdoa dan bermunajat di Padang Arafah. Setelah menyelesaikan ritual lempar jumrah pertama, jamaah biasanya melanjutkan dengan ritual halq atau mencukur rambut sebagai tanda tahallul, serta melakukan tawaf di Ka’bah.
Idul Adha yang Bersahaja di Tengah Konflik
Idul Adha yang dikenal sebagai Hari Raya Kurban idealnya dirayakan dengan penuh sukacita, perjamuan makan besar, dan pembagian daging kurban kepada kaum duafa. Namun, potret berbeda terlihat di Lebanon dan Jalur Gaza. Di Lebanon, perayaan tahun ini terasa sangat redup akibat ketegangan militer antara Israel dan kelompok Hizbullah. Ribuan warga harus mengungsi dan menetap di sekolah-sekolah yang dialihfungsikan menjadi tempat penampungan sementara.
"Tidak ada Idul Adha bagi kami. Kami terusir dari tanah kami, dipaksa meninggalkan rumah dan mata pencaharian, sementara kenangan kami perlahan hancur," kata Rabee Khreis, warga desa Khiyam yang terpaksa melarikan diri akibat pertempuran sengit di wilayahnya.
Di Jalur Gaza, kondisinya jauh lebih memprihatinkan. Pasca perang yang menghancurkan sebagian besar infrastruktur wilayah tersebut, warga Palestina merayakan hari raya di bawah gencatan senjata yang rapuh dan penderitaan yang meluas. Bagi mereka yang kehilangan anggota keluarga, kata 'perayaan' terasa begitu asing.
"Ini bukan Idul Adha... kami sudah seperti mati," ungkap Mahmoud Saqer, seorang pengungsi di Khan Younis dengan nada getir.
Pernyataan serupa datang dari Ayda Al-Banna, seorang wanita paruh baya dari Kota Gaza yang berdoa bersama cucunya di tengah reruntuhan bangunan.
"Tidak ada hari raya. Anak-anak saya telah terbunuh. Idul Adha hanya milik mereka yang tidak kehilangan siapapun," tutur Ayda Al-Banna dengan mata berkaca-kaca.
Upaya Perdamaian yang Masih Menjadi Teka-Teki
Instabilitas regional terus membayangi kekhusyukan ibadah haji dan Idul Adha tahun ini. Gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat dalam konflik Israel-Hizbullah dinilai semakin nominal setiap harinya, mempersulit upaya menciptakan perdamaian yang permanen. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Gaza, serangan militer telah menelan korban lebih dari 72.803 warga Palestina sejak pecahnya perang pada Oktober 2023 lalu.
Haji memang menjadi ajang persatuan bagi umat Islam dari berbagai latar belakang ras, bahasa, dan strata sosial. Namun, realitas pahit di Gaza dan Lebanon menjadi pengingat bahwa bagi sebagian umat, Idul Adha tahun ini bukan tentang pesta pora, melainkan tentang ketabahan dalam menghadapi ujian hidup yang luar biasa berat.
Glossary Berita Haji & Idul Adha
- Haji: Rukun Islam kelima, ibadah tahunan ke Mekkah bagi Muslim yang mampu secara fisik dan finansial.
- Mina: Wilayah lembah dekat Mekkah tempat jamaah bermalam dan melaksanakan ritual lempar jumrah.
- Jamarat: Kompleks tiga tiang besar yang melambangkan setan dalam ritual haji.
- Muzdalifah: Area terbuka tempat jamaah haji mengumpulkan kerikil sebelum menuju Mina.
- Idul Adha: Hari raya memperingati pengorbanan Nabi Ibrahim, ditandai dengan penyembelihan hewan kurban.
- Halq: Ritual mencukur habis atau memotong sebagian rambut sebagai simbol pembersihan diri.
- Tahallul: Keadaan di mana jamaah telah terbebas dari larangan ihram setelah melakukan sebagian rangkaian ibadah haji.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.