Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) menunjukkan komitmen sosial yang luar biasa pada perayaan Hari Raya Iduladha 1447 H. Hingga hari pertama penyembelihan, Rabu (27/5/2026), warga LDII di seluruh pelosok tanah air tercatat telah menyembelih puluhan ribu ekor hewan kurban. Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa semangat berbagi dan ketaatan beribadah tetap kokoh di tengah dinamika kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil.
Antusiasme Tinggi di Tengah Tantangan Ekonomi
Berdasarkan data yang dihimpun hingga pukul 15.28 WIB pada hari pertama Iduladha, total hewan kurban yang telah disembelih oleh warga LDII mencapai angka yang fantastis. Tercatat sebanyak hampir 18.000 ekor sapi dan sekitar 17.300 ekor kambing telah diproses untuk kemudian didistribusikan kepada masyarakat yang berhak menerima. Capaian ini mencerminkan tingginya kesadaran warga dalam menjalankan syariat Islam sekaligus memperkuat ketahanan pangan masyarakat di tingkat akar rumput.
"Alhamdulillah, di tengah tantangan ekonomi saat ini, warga LDII tetap antusias berkurban," ujar perwakilan redaksi dalam laporan resmi melalui kanal LDII News.
Angka ini diperkirakan akan terus merangkak naik seiring dengan masih berlangsungnya masa penyembelihan selama hari tasyrik. Proses pendataan masih terus berjalan dari tingkat Pimpinan Cabang (PC) hingga Pimpinan Anak Cabang (PAC) di seluruh wilayah Indonesia, guna memastikan akurasi jumlah akhir hewan kurban tahun ini.
Makna Ibadah dan Manfaat Sosial
Bagi warga LDII, berkurban bukan sekadar ritual tahunan menyembelih ternak. Lebih jauh, ibadah ini dipandang sebagai manifestasi ketaatan yang mendalam kepada Allah SWT, mengikuti jejak keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Di sisi lain, pembagian daging kurban yang dilakukan secara merata tanpa memandang latar belakang penerima merupakan sarana efektif untuk menebar kebahagiaan dan mempererat tali persaudaraan antarwarga.
"Semoga semangat berkurban ini terus terjaga sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT, sekaligus menjadi sarana berbagi manfaat dan kebahagiaan kepada sesama," tambah laporan tersebut menekankan harapan organisasi bagi keberlanjutan tradisi mulia ini.
Proses penyembelihan di lingkungan LDII biasanya dilakukan dengan mengedepankan aspek kebersihan dan kesehatan masyarakat. Hewan-hewan yang dipilih dipastikan memenuhi syarat syar'i serta bebas dari penyakit, sehingga daging yang dihasilkan aman untuk dikonsumsi. Kolaborasi antarwarga dalam kepanitiaan kurban juga menjadi ajang gotong royong yang memperkuat struktur sosial organisasi.
Glossary: Mengenal Istilah Iduladha
- Iduladha: Hari Raya Islam yang memperingati peristiwa kesediaan Nabi Ibrahim untuk mengorbankan putranya demi ketaatan kepada Allah.
- LDII: Lembaga Dakwah Islam Indonesia, sebuah organisasi kemasyarakatan berbasis keagamaan di Indonesia.
- Hari Tasyrik: Tiga hari setelah Iduladha (11, 12, dan 13 Dzulhijjah) di mana umat Islam dilarang berpuasa dan diperbolehkan menyembelih hewan kurban.
- Syar'i: Segala sesuatu yang sesuai dengan hukum atau syariat Islam.
- Hewan Kurban: Hewan ternak (seperti sapi, kambing, atau unta) yang disembelih pada hari raya sebagai bentuk ibadah.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.
Grafik Interaktif Kurban LDII
Visualisasi data tren hewan kurban warga LDII se-Indonesia periode 2022 — 2026
Temuan Penting
Angka-angka yang mencerminkan kesalehan sosial warga LDII
Data Lengkap Per Tahun
Tabel jumlah hewan kurban LDII se-Indonesia 2022 — 2026
| Tahun | Total | Sapi | Kerbau | Kambing | Pertumbuhan |
|---|---|---|---|---|---|
| 2022 | 42.646 | 23.456 | 30 | 19.160 | — |
| 2023 | 47.341 | 25.154 | 18 | 22.169 | +11,0% |
| 2024 | 50.460 | 26.687 | 22 | 23.751 | +6,6% |
| 2025 | 55.952 | 28.096 | 21 | 27.835 | +10,9% |
| 2026 | 35.405 | 17.591 | 23 | 17.591 | -36,7% |
* Data 2026 bersifat sementara, dikumpulkan per Mei 2026. Angka akan bertambah menjelang Idul Adha 1447 H.
Renungan: Kurban Sebagai Jembatan Kemanusiaan
Mari kita renungkan, kurban adalah jembatan kemanusiaan yang meruntuhkan tembok kasta antara si kaya dan si miskin. Saat kita menyerahkan hewan kurban, kita sebenarnya sedang menyerahkan "ego kepemilikan" kita. DPP LDII mengingatkan bahwa kurban adalah bukti nyata kesalehan sosial.
Di tengah situasi ekonomi yang sulit, kurban menjadi "oasis" yang mendinginkan suhu kecemburuan sosial dan memperkuat kohesi bangsa. Jangan sampai kita menjadi hamba yang kaya secara finansial, namun miskin secara empati. Ingatlah, harta yang kita kurbankan tidak akan berkurang, melainkan bertransformasi menjadi keberkahan yang menjaga stabilitas ekonomi umat.
Oleh karena itu, mari kita jadikan momentum Idul Adha ini untuk menghidupkan kembali semangat gotong royong. Jangan biarkan ada satu pun tetangga di sekitar kita yang melewati hari raya ini dengan perut kosong. Jadikan kurban kita sebagai modal sosial untuk membangun Indonesia yang lebih peduli dan bermartabat.














































