JAKARTA – Memperingati momentum Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang jatuh setiap tanggal 20 Mei, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) LDII mengajak seluruh elemen bangsa, terutama generasi muda, untuk melakukan refleksi mendalam mengenai arah cita-cita kemerdekaan Indonesia. Di tengah gempuran teknologi, tantangan persatuan kini tak lagi sekadar fisik, melainkan bergeser ke ruang siber yang kompleks.
Menakar Ulang Makna Persatuan di Ruang Digital
Ketua DPP LDII, Singgih Tri Sulistiyono, menggarisbawahi perbedaan fundamental antara kebangkitan di masa lampau dengan era kontemporer. Jika dahulu fajar kebangkitan ditandai dengan berdirinya organisasi modern seperti Budi Utomo yang memicu kesadaran kolektif untuk bersatu, maka hari ini persatuan tersebut diuji oleh riuhnya jagat digital.
“Jika pada masa lalu kebangkitan ditandai dengan lahirnya organisasi modern seperti Budi Utomo yang memicu kesadaran terhadap persatuan. Maka, pada era sekarang persatuan tersebut mendapat tantangan baru, berupa ruang digital yang penuh dengan arus informasi, opini, dan identitas yang saling bersaing,” ujar Singgih Tri Sulistiyono yang juga menjabat sebagai Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro.
Menurut Singgih, derasnya arus informasi di media sosial menuntut generasi milenial dan Gen Z untuk memiliki kemampuan manajemen diri yang mumpuni. Media sosial memang menyediakan panggung yang luas bagi kreativitas dan partisipasi publik, namun di balik itu, tersimpan risiko besar berupa polarisasi masyarakat dan fragmentasi identitas nasional.
Bahaya Mereduksi Sejarah Menjadi Sekadar Hafalan
Sebagai seorang pakar sejarah maritim, Singgih mencermati sebuah fenomena yang cukup mengkhawatirkan: banyaknya generasi muda yang belajar sejarah secara tekstual, namun gagal menyerap esensi dari peristiwa tersebut. Sejarah sering kali terjebak dalam kurikulum yang hanya mengandalkan hafalan tanggal, nama tokoh, atau lokasi kejadian tanpa menyentuh hikmah di baliknya.
Dampaknya cukup terasa dalam kehidupan sosial. Singgih memaparkan bahwa masyarakat mungkin tahu tentang narasi persatuan masa lalu, namun sangat rentan terpecah belah oleh isu-isu dangkal yang sengaja diembuskan di media sosial. Ketangguhan mental dalam berjuang pun perlahan terkikis oleh godaan kenyamanan instan.
“Dalam konteks ini, kebangkitan nasional bergeser menjadi kesadaran kritis, yakni kemampuan memilah informasi, menjaga etika komunikasi, serta tidak mudah terjebak dalam narasi yang memecah belah,” papar Singgih lebih lanjut.
Membangun Identitas Bangsa yang Tangguh
Secara provokatif, Singgih menyebutkan bahwa belajar sejarah tanpa mengambil pelajaran dari setiap peristiwa merupakan sebuah bentuk kemunduran intelektual. Seseorang mungkin merasa sangat nasionalis karena hafal alur cerita masa lalu, tetapi mereka gagal menghidupkan nilai-nilai luhur tersebut dalam tindakan nyata di masyarakat.
Ia menekankan bahwa kebangkitan nasional di masa kini menuntut keberanian untuk membedah sejarah secara kritis. Memahami mengapa perpecahan pernah terjadi, bagaimana mekanisme propaganda bekerja pada masanya, serta bagaimana identitas bangsa dibentuk dan diperebutkan adalah kunci agar generasi muda tidak hanya menjadi penonton dalam narasi bangsanya sendiri.
Di akhir pernyataannya, Singgih mengingatkan bahwa identitas kebangsaan tidak boleh rapuh hanya karena tren global. Generasi muda tidak boleh berhenti hanya sebagai konsumen budaya luar, melainkan harus bertransformasi menjadi produsen makna yang mampu mengonversi nilai lokal menjadi kekuatan yang relevan di masa depan.
“Ketika budaya luar begitu mudah diakses dan ditiru, generasi muda dituntut tidak sekadar menjadi konsumen budaya, tetapi juga produsen makna yang mampu mengolah nilai-nilai lokal menjadi kekuatan baru. Di sinilah kebangkitan nasional menemukan relevansinya sebagai energi untuk menciptakan masa depan,” pungkas Singgih.
Transformasi kesadaran ini menjadi sangat radikal: bahwa masa depan Indonesia hanya bisa tegak berdiri di tangan mereka yang tidak sekadar mengingat masa lalu, tetapi berani menggunakan sejarah sebagai alat untuk membaca, mengubah, dan menaklukkan tantangan zaman.
Glossary Artikel Harkitnas
- Harkitnas: Singkatan dari Hari Kebangkitan Nasional, diperingati setiap 20 Mei untuk mengenang berdirinya Budi Utomo.
- Budi Utomo: Organisasi pemuda yang didirikan pada 1908, dianggap sebagai pionir pergerakan nasional Indonesia.
- Polarisasi: Pembelahan atau pembagian masyarakat ke dalam dua kelompok yang saling berlawanan secara ekstrem.
- Fragmentasi Identitas: Pecahnya kesatuan jati diri bangsa akibat pengaruh eksternal atau konflik internal.
- Disinformasi: Informasi yang salah atau menyesatkan yang sengaja disebarkan untuk memanipulasi opini publik.
- Kesadaran Kritis: Kemampuan untuk menganalisis informasi secara mendalam dan tidak langsung mempercayai apa yang terlihat di permukaan.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.