Hari Buku Nasional 2026, Iqro' — Bacalah!
Perintah pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW bukanlah shalat, bukan puasa, melainkan Iqro' — bacalah. Di mana posisi kita hari ini?
Hari Buku Nasional 2026 jatuh pada hari Minggu, 17 Mei 2026. Peringatan ini bertujuan meningkatkan minat baca dan kesadaran akan pentingnya buku, yang selalu diperingati setiap 17 Mei bertepatan dengan berdirinya Perpustakaan Nasional RI. Di tengah arus informasi digital yang semakin deras, peringatan ini bukan sekadar seremonial — melainkan sebuah pengingat bahwa peradaban yang tidak membaca, pada akhirnya akan kehilangan arah.
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya."
— QS. Al-'Alaq (96): 1-5
Ayat di atas turun di Gua Hira', ketika Malaikat Jibril memerintahkan Rasulullah SAW untuk membaca. Kata Iqro' diulang dua kali dalam lima ayat pertama surah tersebut — sebuah penekanan yang tidak bisa diabaikan. Allah tidak memulai wahyu dengan perintah ritual, melainkan dengan perintah membaca. Ini menunjukkan bahwa membaca adalah fondasi dari seluruh peribadatan dan peradaban manusia.
Mengapa Literasi Begitu Penting?
Manfaat literasi meliputi peningkatan kemampuan berpikir kritis, perluasan wawasan, dan penguatan keterampilan komunikasi. Literasi memberdayakan individu untuk memproses informasi, membedakan fakta dan opini, meningkatkan fokus, serta memperbaiki kemampuan dalam mengambil keputusan.
"Katakanlah: 'Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?'"
— QS. Az-Zumar (39): 9
Allah secara tegas memisahkan kedudukan orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu. Pertanyaan retoris ini bukan sekadar gaya bahasa — ia merupakan pernyataan prinsip bahwa ilmu (yang diperoleh melalui membaca dan belajar) memberikan dimensi yang berbeda pada kehidupan seseorang.
Enam Manfaat Utama Literasi
Mengoptimalkan kinerja otak, meningkatkan kemampuan berpikir kritis, dan mengasah kemampuan analisis dalam memecahkan masalah.
Memungkinkan akses yang lebih baik ke berbagai informasi, memperkaya kosa kata, dan meningkatkan pemahaman terhadap dunia.
Meningkatkan kemampuan verbal dan tertulis, memudahkan seseorang dalam menyampaikan ide secara jelas dan persuasif.
Membantu memahami hak-hak diri, meningkatkan partisipasi dalam masyarakat, dan membuka peluang karier serta pendidikan yang lebih baik.
Memudahkan pemahaman terhadap teknologi baru, meningkatkan literasi digital, dan membantu memilah informasi di era digital.
Meningkatkan daya konsentrasi, fokus, dan pemahaman terkait informasi kesehatan yang semakin krusial di masa kini.
Secara keseluruhan, literasi tidak hanya sekadar membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami, mengolah, dan menggunakan informasi untuk meningkatkan kualitas hidup.
"Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat."
— QS. Al-Mujadilah (58): 11
Definisi Literasi: Perspektif Akademis
"Literasi ialah kemampuan berbahasa yang dimiliki oleh seseorang dalam berkomunikasi — membaca, berbicara, menyimak dan menulis — dengan cara yang berbeda sesuai dengan tujuannya."
— Elizabeth Sulzby, 1986Menurut Elizabeth Sulzby (1986), literasi bukanlah sekadar kecakapan mekanis membaca dan menulis. Ia mendefinisikan literasi sebagai kemampuan berbahasa yang dimiliki oleh seseorang dalam berkomunikasi — mencakup membaca, berbicara, menyimak, dan menulis — dengan cara yang berbeda sesuai dengan tujuannya. Jika didefinisikan secara ringkas, definisi literasi yaitu kemampuan menulis dan membaca. Namun definisi ringkas ini, menurut Sulzby, tidak menangkap kompleksitas yang sesungguhnya.
Pandangan Sulzby sejalan dengan semangat Alquran. Ketika Allah menyebut "alladzi 'allama bil-qalam" (Yang mengajar dengan perantaraan qalam), kata qalam bukan hanya alat tulis — ia melambangkan seluruh proses transmisi pengetahuan, baik tertulis maupun lisan, baik formal maupun kontekstual.
"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (orang-orang berilmu)."
— QS. Fatir (35): 28
Ayat ini memberikan landasan bahwa ilmu — yang diperoleh melalui proses literasi — bukan sekadar informasi di kepala, melainkan cahaya yang membawa seseorang pada ketakwaan. Membaca tanpa pemaknaan hanyalah aktivitas mekanis; membaca dengan refleksi adalah ibadah.
Dari Tingkat Komunitas: Praktik Literasi LDII Sampit
Teori literasi akan kehilangan nyawanya jika tidak diuji di lapangan. Di tingkat komunitas, ada praktik-praktik yang mungkin luput dari perhatian publik luas namun memiliki konsistensi luar biasa. Salah satunya adalah apa yang dilakukan LDII Sampit.
LDII Sampit memandang bahwa membaca adalah bagian tidak terpisahkan dari ilmu. Hal ini diwujudnyatakan dengan melaksanakan pengajian minimal 2 kali dalam seminggu, meliputi membaca, mendengarkan, memaknai, dan memahami materi kitab Alquran dan Alhadis.
Model ini menarik karena memenuhi empat pilar komunikasi yang disebut Sulzby: membaca (kitab kuning), menyimak (mendengarkan penjelasan ustadz), berbicara (diskusi dan tanya jawab), dan menulis (catatan dan ringkasan). Ini bukan sekadar rutinitas — ini adalah ekosistem literasi yang berjalan secara organik, bukan karena paksaan kebijakan dari atas.
Dalam konteks Hari Buku Nasional 2026, contoh seperti ini menjadi bukti bahwa gerakan literasi tidak harus dimonopoli oleh institusi formal. Komunitas keagamaan, jika memang memposisikan membaca sebagai bagian dari ajaran, dapat menjadi garda terdepan peningkatan literasi masyarakat — tanpa anggaran besar, tanpa kampanye viral, namun dengan konsistensi yang mengagumkan.
"Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya."
— QS. Al-Baqarah (2): 31
Menarik bahwa Allah memulai riwayat manusia di bumi dengan pengajaran nama-nama. Pengetahuan — yang dalam konteks modern kita sebut sebagai literasi — bukanlah produk sampingan peradaban. Ia preceding, mendahului segalanya. Adam diberi keunggulan atas para malaikat bukan karena fisik, bukan karena ritual, melainkan karena ilmu. Ini adalah argumen paling fundamental bahwa membaca dan belajar adalah fitrah manusia.
Refleksi: Iqro' di Era Hoaks
Tahun 2026 membawa tantangan yang tidak dialami generasi sebelumnya. Informasi tidak lagi langka — ia berlimpah, namun sering kali tercemar. Hoaks, disinformasi, dan narasi palsu tersebar lebih cepat dari kebenaran. Dalam konteks inilah perintah Iqro' harus dimaknai ulang.
Membaca hari ini bukan hanya tentang membuka halaman buku. Membaca berarti membaca konteks, membaca antar-baris, membaca niat di balik sebuah narasi. Literasi di era ini menuntut kita untuk tidak hanya menelan informasi mentah-mentah, tetapi memprosesnya dengan kritis — persis seperti yang menjadi manfaat utama literasi sebagaimana diuraikan di awal tulisan ini.
Hari Buku Nasional 2026, dengan tema yang mengingatkan kita pada perintah Iqro', seharusnya menjadi momen untuk bertanya pada diri sendiri: sudahkah kita benar-benar membaca? Atau kita hanya melihat?
"Peradaban yang berhenti membaca, akan segera berhenti berpikir. Dan peradaban yang berhenti berpikir, akan segera berhenti ada."
— Refleksi editorial