SURABAYA – Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Dr. KH. Abdullah Syamsul Arifin, M.H.I., atau yang akrab disapa Gus Aab, memberikan apresiasi mendalam terhadap militansi dan soliditas kader Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Pernyataan tersebut terlontar dalam forum Bedah Buku bertajuk “Sistem, Model dan Corak Pendidikan LDII Dalam Platform Profesional Religius Dari Sabang Sampai Merauke” yang digelar di Auditorium UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya pada Minggu, 10 Mei 2026.
Acara bedah buku ini sendiri merupakan sebuah kegiatan diskusi dan analisis mendalam mengenai isi sebuah karya literatur, baik fiksi maupun non-fiksi. Dilakukan secara tatap muka, agenda ini bertujuan mengupas tuntas kelebihan, kekurangan, makna, hingga pesan ideologis yang terkandung di dalam buku pendidikan LDII. Bagi para akademisi dan praktisi dakwah, bedah buku menjadi sarana efektif untuk meningkatkan literasi sekaligus membedah perspektif penulis secara kritis melalui dialog lisan yang dinamis.
Mengakui Keunggulan Tiap Organisasi
Gus Aab, tokoh sentral Nahdlatul Ulama asal Jember, menegaskan bahwa persoalan umat di Indonesia saat ini terlalu kompleks untuk dipikul sendirian oleh satu organisasi. Ia memandang perbedaan karakter antar-ormas Islam sebagai mozaik kekuatan yang seharusnya saling menguatkan, bukan justru memicu perpecahan.
“Kalau urusan membangun pesantren, siapa yang meragukan NU. Urusan sekolah, kita juga harus angkat topi kepada Muhammadiyah. Sementara soal loyalitas organisasi, LDII itu luar biasa,” ujar Gus Aab di hadapan ratusan peserta yang hadir secara hybrid.
Loyalitas tanpa pamrih para kader LDII dianggapnya sebagai modal sosial yang signifikan. Menurutnya, tiap ormas memiliki spesialisasi dan keunggulan kompetitif yang jika disinergikan, akan menjadi kekuatan besar bagi bangsa.
Empat Pilar Persatuan Bangsa
Dalam membedah khazanah pendidikan yang diterapkan LDII, Gus Aab menawarkan empat tahap fundamental sebagai fondasi kerukunan antar-ormas Islam di tanah air. Alur ini dimulai dari upaya meruntuhkan tembok kecurigaan hingga mencapai titik tulus dalam berkolaborasi.
- At-Ta’aruf (Saling Mengenal): Membuka diri untuk berinteraksi guna menghilangkan sekat prasangka.
- At-Tafahum (Saling Memahami): Mengerti corak, karakteristik, dan latar belakang perjuangan masing-masing lembaga.
- At-Ta’awun (Saling Tolong-Menolong): Menjalin kerja sama konkret demi kemaslahatan umat dan pembangunan nasional.
- At-Ta’afi (Saling Memaafkan): Memiliki kelapangan dada dalam menghadapi perbedaan pendapat atau gesekan di masa lalu.
Ia mengingatkan bahwa jika energi habis hanya untuk mencari perbedaan, maka persatuan sulit terwujud. Sebaliknya, fokus pada persamaan akan membuka pintu kerja sama yang lebih lebar.
“Kalau kita sibuk mencari perbedaan, empat prinsip tadi akan sulit dijalankan. Tapi kalau melihat dari sisi persamaan, sebenarnya banyak hal yang bisa disatukan,” tegas Gus Aab.
Resonansi Positif Hingga ke Akar Rumput
Dialog ini tidak sekadar menjadi wacana di menara gading akademisi UINSA, namun diharapkan membawa dampak nyata hingga ke level bawah. Kehadiran tokoh-tokoh lintas ormas dalam bedah buku ini menunjukkan bahwa tradisi berpikir kritis dan inklusif mulai mengakar kuat.
Sistem pendidikan LDII yang mengusung konsep "Profesional Religius" dibedah secara transparan, memberikan pemahaman baru bagi para pengamat dan aktivis ormas lain. Harapannya, semangat kolaboratif ini dapat terimplementasi dalam aksi nyata di daerah-daerah, memastikan setiap elemen masyarakat bisa berjalan beriringan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.