Dilema dan Dedikasi Pewarta MCH: Mengutamakan Kemanusiaan di Atas Berita di Tanah Suci

Dilema dan Dedikasi Pewarta MCH: Mengutamakan Kemanusiaan di Atas Berita di Tanah Suci
  • MAKKAH — Para jurnalis yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) seringkali mendapati diri mereka berada di persimpangan jalan antara mengejar tenggat redaksi dan memberikan pertolongan darurat bagi jemaah haji Indonesia di sekitar Masjidil Haram. Di tengah kepadatan jutaan umat manusia yang memadati rumah suci tersebut, seragam khaki yang mereka kenakan sering kali dianggap sebagai satu-satunya harapan bagi jemaah lansia yang kehilangan arah, membuat profesi pewarta seketika berubah menjadi petugas lapangan yang sigap membantu.

    Antara Lensa Kamera dan Panggilan Nurani

    Siang dan malam, arus manusia di pelataran Masjidil Haram nyaris tak pernah berhenti bergerak mengelilingi Ka'bah. Di tengah lantunan talbiyah dan doa-doa yang melangit, terselip panggilan panik dari jemaah yang terpisah dari rombongannya. Para wartawan MCH hadir di sana dengan perlengkapan tempur lengkap: kamera, ponsel, tripod, hingga power bank untuk memastikan informasi haji sampai ke tanah air tepat waktu.

    Namun, realitas di lapangan berbicara lain. Seragam warna khaki—cokelat muda kekuningan—yang mereka kenakan memiliki kemiripan visual dengan petugas reguler lainnya. Bagi jemaah haji, mereka tidak peduli apakah sosok di hadapan mereka adalah reporter, kameramen, atau fotografer. Yang mereka lihat hanyalah identitas sebagai petugas Indonesia yang bisa menolong mereka kembali ke hotel.

    "Pak, di sana ada seorang ibu yang terpisah dari rombongannya dan bingung arah dia pulang," ujar seorang jemaah berpeci putih sambil menepuk pundak salah satu anggota tim MCH setelah salat berjamaah usai.

    Misi Penyelamatan Titin Sumarni

    Di sudut pelataran yang luas, seorang lansia tampak terduduk dengan tatapan kosong. Titin Sumarni, jemaah asal Tanah Datar, Sumatera Barat yang tergabung dalam Embarkasi PDG 13, terlihat sangat tegang. Berkalung kartu Nusuk dan tas selempang, ia hanya bisa menatap sayu saat dihampiri oleh Azizah Hanum, presenter Liputan6 yang saat itu sedang bertugas sebagai tim MCH.

    "Saya terpisah dari anak dan rombongan," ucap Titin Sumarni dengan suara lirih kepada Azizah Hanum.

    Merespons kegelisahan tersebut, Hanum berusaha menenangkan sang jemaah dengan penuh empati. Ia menyadari bahwa rasa aman adalah hal pertama yang dibutuhkan oleh lansia yang tersesat di tengah hiruk-pikuk Makkah.

    "Ibu, jangan takut, ada kami di sini," ujar Azizah Hanum sembari memeriksa identitas pada kartu yang tergantung di leher Titin.

    Koordinasi cepat segera dilakukan. Menghubungi otoritas terkait menjadi langkah krusial agar jemaah segera sampai di tempat peristirahatan yang tepat.

    "Silahkan jemaah tersebut didorong ke Hotel Al Hidayah Tower 9, Aziziyah. Saya tunggu," ujar Akhor Wiwit Sudiono, Kepala Sektor 10, melalui sambungan telepon.

    Navigasi di Tengah Luasnya Masjidil Haram

    Perlu dipahami bahwa Masjidil Haram memiliki luas mencapai 356.800 meter persegi yang mampu menampung hingga dua juta jemaah saat salat Id. Bagi jemaah lansia, menemukan arah menuju Terminal Syib Amir, Ajyad, atau Jabal Ka'bah adalah tantangan fisik dan mental yang luar biasa. Terminal Syib Amir dan Ajyad sendiri terletak di sisi berlawanan dengan jarak tempuh jalan kaki sekitar 1,5 hingga 2 kilometer.

    Seringkali, kamera yang sudah siap membidik momen indah di depan Ka'bah harus kembali masuk ke dalam tas. Ponsel yang tadinya berisi draf wawancara beralih fungsi menjadi penunjuk arah Google Maps. Para pewarta ini harus rela kehilangan sudut gambar terbaik demi memastikan seorang bapak tidak salah naik bus Shalawat atau menemani seorang ibu yang menangis karena cemas menunggu suaminya.

    Suatu ketika, seorang wartawan MCH bahkan harus merelakan sandalnya sendiri untuk diberikan kepada jemaah yang kehilangan alas kaki setelah tawaf. Panasnya lantai pelataran Makkah bisa sangat menyiksa jika kaki telanjang bersentuhan langsung dengan ubin yang menyimpan suhu tinggi.

    "Pakai ini dulu, Pak," ujar sang wartawan singkat sambil menyodorkan sandal jepit cadangannya.

    Melampaui Tugas Jurnalistik

    Keberadaan tim MCH di lapangan juga seringkali menjadi jembatan komunikasi dengan pihak keamanan setempat (Askar). Dalam sebuah insiden, seorang jemaah sempat berurusan dengan petugas keamanan karena memotret area terlarang. Di sinilah peran wartawan berkembang menjadi mediator, membantu menghapus file yang dilarang dan menjelaskan ketidaktahuan sang jemaah dalam bahasa yang dipahami otoritas setempat.

    Menjadi wartawan haji pada akhirnya bukan sekadar soal kecepatan mengirim berita atau estetika pengambilan gambar. Ada dimensi spiritual dan kemanusiaan yang jauh lebih mendalam. Di balik seragam khaki yang basah oleh keringat, terdapat cerita-cerita yang mungkin tidak pernah tayang di televisi, namun membekas abadi dalam doa-doa tulus para tamu Allah.

    Glossary Istilah Haji

    • MCH (Media Center Haji): Wadah resmi bagi para jurnalis dari berbagai media massa untuk meliput rangkaian ibadah haji dan memberikan informasi kepada masyarakat di tanah air.
    • Nusuk: Aplikasi atau kartu identitas resmi yang digunakan untuk akses layanan ibadah haji dan umrah di Arab Saudi.
    • Bus Shalawat: Layanan transportasi bus gratis 24 jam yang disediakan oleh Pemerintah Indonesia untuk mengantar jemaah dari hotel ke Masjidil Haram dan sebaliknya.
    • Terminal Syib Amir: Salah satu terminal utama di Makkah yang melayani jemaah haji yang tinggal di wilayah Syisyah dan Raudhah.
    • Askar: Petugas keamanan atau personel militer Arab Saudi yang menjaga ketertiban di kawasan Masjidil Haram.
    • Embarkasi: Tempat pemberangkatan jemaah haji ke Arab Saudi.
  • Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.