Asah Kemandirian Ekonomi, Generasi Muda LDII Gunungkidul Gelar Pelatihan Olahan Pangan Kreatif

Asah Kemandirian Ekonomi, Generasi Muda LDII Gunungkidul Gelar Pelatihan Olahan Pangan Kreatif
  • Meningkatkan kemandirian dan daya saing ekonomi kreatif sejak usia dini, puluhan remaja putri LDII Kabupaten Gunungkidul mengikuti kegiatan pelatihan bertajuk “Masak Bareng” dengan fokus pada pengolahan makanan produk rumah tangga. Agenda yang berlangsung di Kompleks Masjid Al-Husna, Wonosari, Gunungkidul, pada Minggu (17/5/2026) ini, tidak hanya sekadar ajang berkumpul, melainkan sebuah langkah strategis untuk membekali generasi muda dengan keterampilan praktis di tengah tantangan ekonomi masa depan.

    Fokus pada Produk Olahan Rumah Tangga yang Bernilai Jual

    Kegiatan ini menyasar remaja putri dari jenjang SMA hingga fase pranikah, sebuah rentang usia yang dianggap krusial untuk penanaman jiwa kewirausahaan. Melalui praktik langsung yang dikelompokkan berdasarkan wilayah kapanewon, para peserta diajak mengeksplorasi potensi bahan pangan sederhana yang dapat diubah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Pelatihan ini memadukan aspek kesehatan, inovasi rasa, dan estetika penyajian.

    Untuk memastikan kualitas materi, panitia menghadirkan Nuryamjanah, seorang praktisi sekaligus mentor sukses di bidang katering asal Gunungkidul. Kehadiran narasumber yang berpengalaman ini memberikan bobot profesionalitas pada kegiatan tersebut, di mana peserta tidak hanya belajar memasak, tetapi juga memahami seluk-beluk manajemen produksi makanan rumahan.

    “Keterampilan sederhana seperti memasak dapat menjadi bekal penting bagi generasi muda, baik untuk kebutuhan keluarga maupun peluang usaha rumahan,” ujar Nuryamjanah di sela-sela pendampingannya.

    Inovasi Teknik dan Pengemasan Modern

    Dalam sesi pelatihan yang interaktif, para peserta dibekali teknik dasar yang esensial, mulai dari cara mengolah bahan yang sehat hingga teknik pengemasan (packaging) yang menarik. Aspek pengemasan ditekankan agar produk yang dihasilkan tidak hanya lezat di lidah, tetapi juga memiliki daya tarik visual yang layak dipasarkan secara luas.

    Suasana di lokasi tampak dinamis. Dengan dukungan peralatan lengkap seperti mixer, kompor, hingga loyang yang disiapkan panitia, setiap kelompok terlihat antusias mempraktikkan pembuatan berbagai jenis makanan ringan. Diskusi hangat mengalir di antara peserta saat mereka mencoba menyusun menu dan bereksperimen dengan tampilan sajian agar tampil lebih modern dan menggugah selera.

    Membangun Karakter Lewat Kolaborasi Tim

    Jauh melampaui urusan dapur, kegiatan ini dirancang sebagai instrumen pembinaan karakter. Supartinah, pendamping kegiatan, menegaskan bahwa ada nilai-nilai non-teknis yang ingin ditanamkan melalui proses memasak bersama ini, seperti kemampuan berkomunikasi, kerja sama tim, dan tanggung jawab terhadap tugas kelompok.

    “Kami ingin generus putri memiliki keterampilan praktis sekaligus kemampuan bekerja sama dan rasa percaya diri. Hal-hal seperti ini penting sebagai bekal menghadapi kehidupan di masa depan,” kata Supartinah.

    Kemandirian yang dimaksud bukan hanya soal finansial, melainkan juga kemandirian mental dalam menyelesaikan masalah dalam tim. Hal ini sejalan dengan upaya LDII untuk menciptakan profil generasi muda yang profesional religius.

    Keseimbangan Antara Pendidikan, Skill, dan Akhlak

    Menjelang akhir acara, Sarilah memberikan motivasi mendalam mengenai peran sentral perempuan dalam keluarga dan masyarakat. Ia menekankan bahwa bekal pendidikan formal harus dibarengi dengan keterampilan hidup (life skills) serta fondasi akhlak yang kokoh. Menurutnya, perempuan adalah pilar utama dalam mendidik generasi penerus, sehingga persiapan diri harus dimulai sejak masa remaja.

    Sebagai bentuk apresiasi terhadap kreativitas peserta, panitia juga memberikan penghargaan kepada kelompok dengan hasil karya terbaik. Penilaian didasarkan pada empat pilar utama: kreativitas inovasi, kelezatan rasa, estetika penyajian, dan kekompakan tim selama proses berlangsung.

    Glossary: Mengenal Istilah dalam Kegiatan

    • Generus: Singkatan dari Generasi Penerus, sebutan khas untuk pemuda-pemudi di lingkungan LDII.
    • Kapanewon: Istilah administratif setingkat kecamatan yang digunakan khusus di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.
    • Pranikah: Tahap usia menjelang pernikahan, di mana individu dipersiapkan untuk tanggung jawab berkeluarga.
    • Nilai Ekonomi: Potensi suatu barang atau jasa untuk menghasilkan keuntungan finansial jika diperdagangkan.
    • Kemandirian: Kemampuan individu untuk mengelola kebutuhan dan tantangan hidup secara mandiri tanpa bergantung penuh pada orang lain.
  • Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.