Transformasi Dakwah di Era Disrupsi
Dewan Pimpinan Daerah (DPD) LDII Kabupaten Sukoharjo mengambil langkah strategis dalam membekali para dai guna menghadapi dinamika perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang kian masif. Melalui kegiatan pembekalan yang berlangsung di Masjid Baitul Makmur, Pabelan, Kartasura pada Minggu (19/4/2026), organisasi ini menitikberatkan pada penguatan kapasitas tenaga pengajar TPQ dan TPA sebagai garda terdepan pembinaan umat.
Kegiatan yang dihadiri oleh utusan dari berbagai wilayah di Sukoharjo ini meramu materi secara komprehensif, mulai dari teknik komunikasi publik, penguatan literasi keagamaan, hingga strategi dakwah yang relevan dengan kebutuhan masyarakat kontemporer. Upaya ini merupakan bentuk adaptasi nyata agar pesan-pesan spiritual tetap bergema di tengah arus modernitas.
Urgensi Keteladanan dan Metode Komunikasi yang Bijak
Menjadi pemateri pertama, Khusnan Hidayat membedah urgensi metode penyampaian yang inklusif. Menurutnya, keberhasilan sebuah pesan sangat bergantung pada bagaimana cara pesan tersebut dikomunikasikan kepada jamaah. Dakwah yang kaku justru berisiko menciptakan sekat komunikasi yang menghambat penyerapan nilai-nilai agama.
"Dai perlu menyampaikan materi dengan pendekatan yang mudah dipahami dan tidak menimbulkan jarak dengan jamaah," ujar Khusnan Hidayat.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa seorang dai harus memiliki sensitivitas terhadap kondisi audiensnya. Penguasaan materi yang mendalam harus dibarengi dengan pemilihan tema yang membumi. Khusnan mengingatkan bahwa dakwah visual melalui perilaku (dakwah bil hal) seringkali jauh lebih berbekas dibandingkan sekadar retorika lisan.
"Keteladanan menjadi bagian penting dalam dakwah, karena masyarakat melihat langsung praktik yang dilakukan," kata Khusnan Hidayat menambahkan.
Pendekatan Budaya dan Bahasa sebagai Jembatan Spiritual
Aspek komunikasi tidak hanya soal apa yang disampaikan, tetapi juga medium bahasa yang digunakan. Edi Sanusi, selaku pemateri kedua, menggarisbawahi pentingnya penguasaan bahasa daerah, khususnya bahasa Jawa, sebagai alat kedekatan emosional dengan masyarakat setempat. Penggunaan bahasa yang tepat dinilai mampu meruntuhkan dinding formalitas yang seringkali membuat jamaah merasa enggan untuk berinteraksi.
"Bahasa menjadi sarana untuk mendekatkan diri dengan jamaah, sehingga pesan yang disampaikan lebih mudah diterima," ujar Edi Sanusi.
Ia mendorong para dai untuk tidak abai terhadap tata krama (unggah-ungguh) dalam bertutur kata. Fleksibilitas dalam berbahasa sesuai dengan latar belakang audiens akan memudahkan transformasi nilai-nilai moral secara lebih struktural dan jernih.
"Kemampuan berbahasa yang baik akan membantu dai menyampaikan pesan secara jelas dan terstruktur," ucap Edi Sanusi.
Menavigasi Dakwah di Ruang Digital
Tantangan terbesar saat ini terletak pada bagaimana nilai-nilai luhur agama bisa bersaing di ruang digital yang penuh dengan distraksi. Mulato Budi Santoso memberikan wawasan mengenai perlunya adaptasi teknologi. Baginya, media sosial dan platform digital bukan sekadar tren, melainkan ruang baru yang harus diisi dengan konten edukatif dan bertanggung jawab.
"Platform digital bisa menjadi sarana efektif untuk menjangkau generasi muda, selama digunakan dengan konten yang terarah dan sesuai kebutuhan masyarakat," ujar Mulato Budi Santoso.
Meski teknologi menawarkan kecepatan, Mulato memperingatkan agar para dai tetap menjaga kualitas substansi agar tidak terjadi distorsi pesan. Memahami algoritma dan karakter audiens digital sangat penting, namun integritas nilai keagamaan tetap menjadi prioritas utama yang tidak boleh dikorbankan demi popularitas konten.
"Dai harus mampu menjaga kualitas pesan sekaligus mengikuti perkembangan media yang terus berubah," kata Mulato Budi Santoso.
Program pembekalan ini diharapkan menjadi stimulus bagi para dai di Sukoharjo untuk terus berinovasi tanpa meninggalkan prinsip-prinsip dasar agama. Mulato optimis bahwa dai yang kompeten secara teknologi dan matang secara etika akan mampu membina masyarakat ke arah yang lebih baik di masa depan.
"Pembekalan ini diharapkan dapat memperkuat peran dai dalam membina masyarakat," ujar Mulato Budi Santoso sebagai penutup dalam rangkaian kegiatan tersebut.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.